PERNAH TINGGAL DI INDONESIA: Birgit Steffan di kantor Rumah Budaya Indonesia di Berlin (27/3).

Birgit Steffan, Koordinator Rumah Budaya Indonesia di Berlin

Pertautan Birgit Steffan dengan Indonesia bermula dari saran seorang teman. Di Rumah Budaya Indonesia (RBI), dia menyelenggarakan latihan gamelan dan angklung, diskusi sastra, serta pemutaran film Indonesia.

DINARSA KURNIAWAN, Berlin, Jawa Pos

BERLIN berjarak hampir 11 ribu kilometer dari Jakarta, ibu kota Indonesia. Namun, di Berlin ada satu tempat yang membuat orang Indonesia tidak akan merasa sedang berada di ibu kota Jerman tersebut.

Duduk di area ruang tunggu, ada dua payung Bali di sisi kiri dan kanan kursi. Sepasang wayang golek juga tampak di situ. Bahkan, saat melewati pintunya, bukannya ”guten morgen”, yang terdengar justru sapaan ”selamat pagi”.

Sosok di balik ”selamat pagi” itu adalah Birgit Steffan. Dialah koordinator di tempat tersebut: Rumah Budaya Indonesia (RBI) Berlin.

”Selamat datang di Rumah Budaya Indonesia Berlin,” sapa Birgit saat wartawan koran ini berkunjung ke rumah budaya yang beralamat di Theodor-Francke-Straße 11, Berlin, tersebut pada akhir Maret lalu (27/3).

RBI berdiri di atas lahan seluas 800 meter persegi. Selain yang di ruang tunggu tadi, ada beragam benda budaya Indonesia yang menjadi koleksi RBI Berlin. Misalnya, seperangkat gamelan Jawa, satu set gamelan Bali, serta seperangkat angklung. Bukan hanya itu, ada juga kain-kain khas Indonesia seperti batik, songket, dan tenun.

Birgit menuturkan, saat pandemi seperti saat ini, ketika aktivitas fisik sangat dibatasi, semua aktivitas RBI Berlin pun harus dialihkan ke medium online. Karena itulah, kekosongan di RBI dimanfaatkan untuk merawat beragam koleksi tersebut. Misalnya, mengecat gamelan atau membuat katalog kain-kain tradisional Indonesia milik RBI Berlin.

Birgit sangat menguasai kebudayaan Indonesia. Bahasa Indonesianya fasih. Tentu itu tidak terjadi begitu saja. Ada proses panjang yang dia lewati dalam kaitan pertautannya dengan Indonesia. Pertautan Birgit dengan Indonesia bisa dibilang terjadi tanpa sengaja. 

Perjumpaan dengan Indonesia terjadi pada awal masa kuliah masternya di jurusan musik di Rheinische Friedrich-Wilhelms-Universität Bonn pada 1991. Ketika itu dia ingin mencari pengalaman di Asia Tenggara. Atas saran seorang teman, dia pergi ke Bandung untuk magang di Goethe-Institut. ”Kata teman saya, Bandung kotanya terbilang sejuk dan banyak ekspatriat juga. Jadi, lebih mudah bagi orang asing seperti saya untuk tinggal,” kenang dia.

Sebagai bekal, sebelum berangkat ke Indonesia, dia mulai belajar bahasa Indonesia ketika masih berada di Jerman.

Satu bulan berada di kota berjuluk Paris Van Java tersebut, pada bulan berikutnya dia keliling Indonesia. Saat itulah dia lebih mengenal Indonesia dan terpikat. ”Saya suka berinteraksi dengan orang Indonesia. Mereka sangat ramah dan penuh tawa,” ucapnya, lalu tersenyum. ”Kalau orang Jerman, tahu sendiri kan. Selalu serius,” tambahnya.

Di ujung masa kuliahnya pada 1993, Birgit yang kian terpikat dengan Indonesia mengajukan diri untuk mendapatkan beasiswa Darmasiswa dari pemerintah Indonesia. Dan, dia berhasil. Dia pun berkesempatan mempelajari karawitan dan gamelan di dua kampus berbeda: ISI Jogjakarta dan STSI Bali.

Selesai kuliah, Birgit ingin menulis tesis mengenai pengaruh gamelan terhadap musik Barat dan sering mencari informasi di perpustakaan KBRI Jerman yang dulu masih berlokasi di Bonn. Pada saat bersamaan, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Jerman saat itu bermaksud mempekerjakan staf warga lokal yang bisa berbahasa Indonesia. Birgit yang mengetahui informasi itu kemudian melamar dan diterima.

Di KBRI, Birgit semakin intensif mempelajari bahasa Indonesia. Sebab, dia kerap harus menerjemahkan percakapan atau teks dari Jerman ke Indonesia atau sebaliknya. Sampai saat ini pun, ibu satu anak itu berbahasa Indonesia setiap hari.

Pada 2011, Birgit memutuskan untuk meninggalkan KBRI. Rencananya, dia mengisi jabatan kepala Goethe-Institut Bandung yang sedang kosong. Namun, dia justru berbelok ke Surabaya. Bersama-sama dengan Goethe-Institut dan Perkumpulan Ekonomi Indonesia-Jerman (EKONID), dia bertugas mengepalai sebuah institusi Jerman yang waktu itu sudah terancam gulung tikar. ”Tadinya itu bangunan Goethe-Institut. Mau tutup karena peminat kursus bahasa Jerman semakin sedikit,” ujar perempuan bermata biru tersebut.

Kedatangan Birgit ke Surabaya membawa angin segar bagi tempat di Jalan T.A.I.S. Nasution, Surabaya, yang tadinya tampak akan mati tersebut. Dia membawa konsep anyar yang lebih luas. Bukan sekadar tempat kursus bahasa Jerman, tetapi juga berfokus pada sektor ekonomi dan kebudayaan. Misalnya, setiap tahun dihelat Oktoberfest di Wisma Jerman.

Walau demikian, kursus bahasa Jerman tak lantas dilupakan. Wisma Jerman, yang namanya berasal dari ide Birgit, tetap menyediakan kursus bahasa Jerman. Sampai saat ini, Wisma Jerman menjadi rujukan bagi warga Surabaya dan sekitarnya untuk kursus bahasa Jerman. Begitu juga sebaliknya, Wisma Jerman juga menjadi tempat bagi WN Jerman di wilayah setempat untuk mendapatkan pengetahuan tentang budaya dan bisnis di Indonesia.

Birgit pun menghabiskan waktu selama lima tahun di Surabaya. Dia menyebut ibu kota Jawa Timur tersebut sebagai kota yang menantang sekaligus penuh kenangan. Dia sangat enjoy dengan karakter orang-orang Surabaya. Sebab, di matanya, mereka sangat terbuka dan terus terang. Birgit mengenang, saat itu stafnya tidak segan mengatakan tidak setuju jika ada keputusannya yang tidak berkenan di hati mereka. ”Tampaknya, orang Surabaya cocok sama orang Jerman,” kata dia, lalu tersenyum.

Selain itu, dia merasa orang Indonesia sangat spontan. Berbeda dengan orang Jerman yang segala sesuatunya harus direncanakan dengan matang. ”Saya sering ditelepon meminta suatu hal diselesaikan dengan mendadak. Setelah telepon ditutup, saya teriak, ’Arrrgggghhhh,,,,’” ungkap dia sambil menunjukkan gestur menggaruk-garuk kepalanya, lantas tertawa.

Namun, kecintaannya kepada Indonesia dan orang-orangnya tak lantas luntur. Karena itulah, sekembali dari Surabaya, dia menerima tawaran untuk bekerja di KBRI lagi. Sampai akhirnya, dia ditunjuk sebagai koordinator RBI Berlin pada 2017 hingga kini. 

Tugas utamanya sebagai koordinator RBI Berlin adalah memperkenalkan kebudayaan Indonesia seluas-luasnya kepada masyarakat Jerman melalui berbagai kegiatan yang diadakan di situ. Di antaranya, latihan gamelan Jawa, gamelan Bali, serta angklung. Juga, pementasan-pementasan kebudayaan. Ada pula diskusi sastra, pameran seni, dan pemutaran film-film Indonesia yang bekerja sama dengan sebuah bioskop di Berlin. Bukan hanya itu, di tempat itu juga diselenggarakan kursus bahasa Indonesia.

Birgit menyatakan, masyarakat Jerman merespons positif berbagai kegiatan di RBI Berlin. ”Setiap hari selalu ada kegiatan dan selalu banyak peminatnya,” terang Brigit.

Namun, sejak pandemi Covid-19 merebak yang menuntut berbagai pembatasan fisik, mau tidak mau dia dan timnya di RBI Berlin memutar otak agar kegiatan-kegiatan di sana tetap hidup. Beragam kegiatan dan kursus yang tadinya dilakukan secara fisik pun harus dipindahkan ke online.

Sempat sulit menggaet peminat pada awalnya, tetapi perlahan berbagai kegiatan online RBI Berlin mampu menarik perhatian banyak orang. Setelah merambah ranah daring, kalangan yang menikmati kegiatan-kegiatan di RBI Berlin semakin luas. Sebelumnya, kebanyakan yang ikut kegiatan adalah orang-orang dewasa. Sekarang banyak mahasiswa dan remaja yang ikut berpartisipasi. ”Mungkin nanti kami membuat secara hybrid sehingga audiens kami bisa semakin besar,” paparnya. (*/c14/ttg/JPG)