Sekretaris Daerah Kabupaten Biak Numfor Markus O. Masnembra, SH, MM ketika berbincang-bincang dengan migran dari Salomon yang menginap di Badan Diklat, Kamis (1/10). ( FOTO: Fiktor/Cepos)

BIAK-Sebanyak 63 pekerja migran dari Kepulauan Salomon  yang transit di Biak dan ditampung di Badan Diklat Kabupaten Biak Numfor kini sudah bisa melanjutkan perjalanan ke daerah asalnya masing-masing. 

   Pemerintah Kabupaten Biak Numfor telah mengizinkan mereka melanjutkan perjalanan dan pulang ke daerah asalnya setelah hasil pemeriksaan terhadap sampel swab yang telah keluar semuanya dinyatakan negative atau bebas Covid-19. 

  “Ketika 63 migran dari Indonesia yang menggunakan Salomon Air ketika baru tiba di Biak sebenarnya juga langsung dirapid test dan hasilnya negatif, namun untuk memastikan apakah mereka memang bebas Covid-19 dilakukan pemeriksaan swab dan hasilnya sudah keluar tadi (Kamis, 1/10), semuanya negatif,” ungkap Sekretaris Daerah yang juga adalah Kepala Sekretariat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Biak Numfor Markus O. Masnembra, SH.,MM ketika dikonfirmasi, Kamis (1/10) kemarin.

   Dengan keluarnya hasil uji swab itu, maka ke-63 penumpang Salomon Air yang diturunkan di Biak itu selanjutnya sudah bisa melanjutkan perjalanan ke daerah asalnya masing-masing. Para migran Indonesia yang pulang negara Kepulauan Salomon itu sebenarnya banyak sudah lama akan kembali, namun Negara Salomon memberlakukan lock down dan menutup akses keluar masuk negaranya sejak Covid-19 mewabah di seluruh dunia.

   Migran Indonesia dari Kepulauan Salomon itu diturunkan di Biak, karena pesawat Salomon Air yang digunakan tujuannya adalah negara Philipina. Mengingat Bandara Frans Kaisiepo dinilai sebagai rute yang dilalui pesawat tersebut dan lebih dekat, maka ke-63 penumpang itu diturunkan di Biak.  Dan sekedar diketahui, bahwa negara Kepulauan Salomon masih zero atau masih zona hijau dari Covid-19.  

   “Jadi perlu juga kami jelaskan bahwa di Salomon itu kasus Covid-19 belum ada, artinya masih zona hijau. Lalu kenapa ke 63 migran/penumpang harus turun di Biak, hal itu karena Salomon Air tujuannya ke Philipina dan Biak merupakan rute yang dilalui lebih dekat sehingga menurunkan migran Indonesia ini di Biak, sebab kalau lewat PNG maka harus menggunakan kendaraan lewat jalan darat ke Jayapura, artinya lebih murah transit di Biak,” jelas Sekda. 

  “Terkait dengan itu, maka hal ini perlu diketahui semua masyarakat sehingga tidak menimbulkan informasi simpang siur tentang turunya atau adanya 63 migran Indonesia dari Kepulauan Salomon yang menginap di Badan Diklat Ibdi. Mereka adalah warga negara kita, dan menjadi kewajiban kita (pemerintah daerah Biak Numfor) untuk menampung mereka,” lanjutnya. (itb/tri)