Kelompok pemuda dari Rumah Bakau Jayapura membersihkan sampah plastik yang terselip akar pohon mangrove di lokasi hutan bakau di Entrop, Sabtu (14/6). Para penggiat lingkungan berpendapat bahwa seharusnya berdiam diri di rumah atau stay at home bisa mengurangi sampah plastik. (Gamel Cepos)

JAYAPURA – Masa relaksasi yang diberlakukan pemerintah provinsi Papua dimana aktifitas warga mulai dilonggarkan sambil melihat perkembangan di  tengah masyarakat juga dimanfaatkan oleh kelompok peduli lingkungan. Rumah Bakau Jayapura  yang menjadi rumah bersama bagi komunitas lingkungan yang ada di Jayapura merespon masa relaksasi kontekstual Papua ini dengan menggelar satu kegiatan kecil yakni grebek sampah.

 Dari kegiatan grebek sampah yang dimulai pukul 10.15 WIT hingga 13.00 WIT di Hutan Mangrove Hanyaan, Entrop ini puluhan remaja berhasil mengumpulkan 15 kantong sampah plastik berukuran besar. Ini artinya sampah plastik benar-benar memberi ancaman nyata karena sangat sulit dicerna bahkan menjadi ancaman bagi ekosistem perairan laut maupun pesisir. “Saat ini banyak anjuran untuk berdiam diri di rumah atau Stay At Home berhubung dengan  pandemi covid yang belum berakhir, tapi kenyataannya sampah tetap ada. Harusnya bisa mengurangi karena minim aktifitas di luar rumah,” kata Sita dari Rumah Bakau Jayapura, Sabtu (13/6).

 Ia berpendapat dengan covid 19 seharusnya manusia juga bisa merefleksikan diri tentang kondisi alam. Bagaimana  peduli dan mulai berfikir  bijak dengan sampah. “Jadi bukan justru tidak ada perubahan, ini waktu yang tepat karena kita diberi waktu panjang untuk berfikir, apakah kita sudah peduli dan apa yang sudah dilakukan. Kalau masih begitu-begitu saja ya percuma,” bebernya. Lima belas kantong ini ternyata bukan hanya berisi sampah botol air mineral tetapi ada juga sampah yang tak biasa.

 Dibilang tak biasa karena ada sampah yang tak ada hubungannya dengan kawasan pesisir. “Misalnya kami temukan botol oli yang bentuknya mirip jerigen, termasuk sampah produk minyak rambut produksi tahun 90 an. Artinya  semua wadah ini belum hancur dan sejak 90 an hingga sekarang masih terlihat utuh,” beber Kelvin Senge. Seorang guru bernama Adjie yang ikut dalam grebek sampah juga merasa miris. “Ternyata kalau dari luar terlihat hijau dan bersih tapi kalau pohon bakaunya didekati rupanya banyak sekali sampahnya, tadi saya menemukan kemasan minyak rambut Brisk yang dikenal era 90an karena saya juga sempat pakai,” bebernya. 

 Tak hanya itu ada juga jerigen minyak yang gagangnya terjebak pada akar mangrove. Ukuran akarnya juga tak kecil sehingga bisa dibilang bahwa jerigen ini sudah cukup lama terjebak. Untuk mengambilnya ternyata tak mudah karena lubang gagangnya telah dimasuki akar dan akar tersebut telah tertanam jauh ke dalam air.. (ade/wen)