Pariwisata Singapura setelah Berbulan-bulan Pandemi (1)

MENGEMBALIKAN GELIAT TURISME:Salah satu kegiatan wisata dalam ajang Travel Revive,Singapura (25/11).

Wartawan Jawa Pos DEBORA SITANGGANG turut menjadi ’’wisatawan” pertama dari Indonesia yang masuk ke Singapura pasca penutupan perbatasan karena pandemi. Berikut catatannya tentang kesiapan dan kedisiplinan Negeri Singa itu dalam upaya membangkitkan kembali pariwisatanya. 

BANYAK mata menatap heran melihat sederet vespa melintas di sekitar kawasan Kampong Glam, Singapura, itu. Pasalnya, rombongan kendaraan tersebut membawa penumpang yang merupakan ’’wisatawan” mancanegara. Lebih tepatnya, dari Indonesia.

Jawa Pos termasuk salah satu yang beruntung bisa merasakan menjadi ’’wisatawan’’ pertama dari Indonesia yang masuk ke Singapura pasca penutupan perbatasan karena pandemi pada akhir bulan lalu itu (25/11). Dalam rangka membangkitkan kembali sektor pariwisata di Negeri Singa tersebut, Singapore Tourism Board (STB) mengundang sejumlah travel agent dan media asal Indonesia untuk kembali merasakan Singapura era kelaziman baru.

Lima hari kami habiskan di bekas koloni Inggris itu mulai Senin (23/11) hingga Jumat (27/11). Separo berupa diskusi, bagaimana mengembalikan geliat pariwisata internasional di Singapura. Separonya lagi kegiatan wisata, tentu dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat.

Salah satu kegiatannya adalah mengunjungi Kampong Glam. Kami mengunjungi kampung bernuansa Melayu di sepanjang Beach Road itu hingga tiga kali. Untuk makan hidangan Peranakan, untuk makan makanan Timur Tengah, dan untuk berkeliling naik vespa.

Vespa yang disediakan agen bernama Singapore Sidecars itu membawa kami melewati ruas-ruas jalan di Kampong Glam. Salah seorang pengemudinya bernama Jack. 

Namanya memang maskulin, tetapi dia perempuan. Jack bertutur bahwa ini kali pertama mereka membawa wisatawan mancanegara selama pandemi.

’’Enaknya sekarang jalanan tidak sepadat dulu. Jadi, motor lebih nyaman lewat jalan raya,’’ kata Jack sembari memacu motornya di tengah lalu lintas Beach Road. 

Vespa dengan tempat duduk di samping itu juga blusukan ke jalan yang lebih kecil di kawasan tersebut. Salah satunya Haji Lane, di mana banyak bar kecil dan biasanya ramai oleh wisatawan asing. Mereka mempersilakan wisatawan Indonesia yang hobi foto-foto untuk mengabadikan momen di sana.

Sebagai gantinya, masyarakat Singapura yang kebetulan sedang jalan-jalan di sekitar Kampong Glam turut mengambil potret kami. Menurut Jack, banyak yang tergerak untuk memotret atau bahkan merekam karena ini kali pertama bagi warga Singapura melihat orang asing di negara mereka setelah pandemi. 

Bukan warga asing yang tinggal di Singapura, melainkan betul-betul warga asing yang baru datang dan menginjakkan kaki di negara mereka.

Selain Kampong Glam, Tradewinds Tour & Travel yang menjadi pemandu rombongan Indonesia membawa kami ke beberapa titik wisata lain. Dimulai dari Little India, Chinatown, Singapore Botanic Garden, One Faber Cable Car, hingga menikmati pesiar singkat di kapal Royal Albatros.

Semua kegiatan itu memang sejatinya masuk ke leisure atau hiburan. Namun, Singapura belum membuka pintu bagi wisatawan jalan-jalan. Sementara masih untuk keperluan essential business saja. Artinya, hanya mereka yang memiliki kepentingan bisnis yang berkaitan dengan perusahaan atau pemerintah Singapura yang bisa masuk.

Prosedurnya juga tak main-main. Pemerintah Singapura sudah siap dengan dukungan teknologi informasi. 

Setiap orang yang mau masuk ke teritori mereka harus memenuhi prasyarat yang semuanya terangkum dalam Safe Travel Concierge. Kami semua harus mengisi data tersebut, lengkap dengan prosedur kesehatan berupa swab test sebelum dinyatakan berkualifikasi dan layak masuk Singapura.

Selama di Singapura pun, jangan harap bisa keluar untuk berbelanja atau sekadar mampir ke minimarket beli air mineral. Tidak diperkenankan. Sebab, sebelum berangkat, kami juga telah mendapat arahan berupa itinerari atau agenda kegiatan yang sudah terkontrol dan disetujui pemerintah Singapura. Seluruh peserta rombongan harus mengikuti jadwal tersebut. Tidak boleh melipir meski cuma sebentar.

’’Itinerari yang di-submit itu yang dikontrol. Kalau acaranya tiga hari ya tiga hari. Selepas tiga hari, harus langsung pulang. Gak bisa ditambahkan dengan ketemuan sama keluarga atau teman, mungkin. Leisure trip belum dibenarkan, belum bisa,’’ jelas Area Director STB Indonesia Mohamed Firhan.

STB mencoba menerapkan itinerari terkontrol itu untuk kali pertama pada event Travel Revive ini. Mereka ingin memastikan apakah model pariwisata yang baru, dengan kontrol ketat, bisa tetap memberikan wisatawan pengalaman penuh untuk menikmati Singapura.

Kalaupun mau belanja, kita bisa meminta tolong kepada pemandu wisata. ’’Kami siap jadi jasa titip. Kalau Bapak-Ibu mau belanja apa, nanti biar saya yang carikan dan antar ke hotel,’’ seloroh Ang Hock Huat alias Anthony, pemandu kami dari STB, begitu kami tiba di Bandara Internasional Changi Senin siang (23/11).

Meskipun tak bisa berbelanja, toh akhirnya bawaan kami tetap beranak pinak. Sebab, di setiap destinasi, kami pasti mendapat buah tangan sebagai kenang-kenangan. Dari Chinatown, kami mendapat oleh-oleh tar nanas, teh, dan hiasan kaligrafi. Dari Universal Studio Singapore (USS), kami pun mendapat kenang-kenangan notes. Dan, tentu saja yang paling sering didapat adalah hand sanitizer dan tisu basah. (*/c7/ttg/JPG)