Jelang Dibukanya Pembelajaran Tatap Muka Januari 2021

WAJIB TERSEDIA SAAT PTM: Fasilitas cuci tangan hal wajib sebagai bagian protokol kesehatan dalam PTM. Kondisi ini terlihat di SMP 1 Balikpapan. Dalam waktu dekat simulasi kesiapan PTM digelar di sejumlah sekolah. ANGGI PRADITHA/KALTIM POST

JAKARTA, Jawa Pos – Pemerintah memberlakukan pelonggaran ketentuan pembelajaran tatap muka di tengah pandemi Covid-19. Sehingga pembelajaran tatap muka di sekolah boleh dibuka kembali Januari 2021 depan. Anggota Komisi X DPR Ferdiansyah mengatakan sebelum dibuka sebaiknya dilakukan pemetaan kondisi kesehatan guru serta simulasi.
Politisi Partai Golkar itu mengatakan pemetaan kondisi kesehatan guru sangat penting. Diantaranya pemetaan ini adalah usia guru. Dia menjelaskan banyak guru yang usianya sudah lanjut. Bahkan banyak yang tinggal setahun lalu sudah pensiun.
’’Itu artinya sudah 58 tahun atau 59 tahun. Mereka kan masuk resiko tinggi penularan Covid-19,’’ kata Ferdiansyah kemarin (7/12). Guru-guru yang sudah mendekati usia pensiun tersebut, tentunya tidak memiliki ketahanan fisik layaknya pendidik usia muda.
Untuk itu perlu dilakukan pemetaan yang tepat sehingga pembelajaran tatap muka di tengah pandemi bisa membawa keselamatan tidak hanya bagi siswa. Tetapi juga guru, khususnya guru-guru sepuh. Jangan sampai banyak laporan guru yang gugur gara-gara terinfeksi Covid-19.
Kemudian Ferdiansyah juga mengingatkan perlu ada simulasi dahulu. Termasuk juga pengaturan jadwal. Misalnya satu kelas ada 35 siswa, langsung dibagi menjadi lima hari. Sehingga setiap hari ada tujuh siswa yang masuk. Jadi satu siswa hanya masuk sehari dalam sepekan.
Faktor infrastruktur menurutnya begitu penting. Khususnya fasilitas layanan cuci tangan. Menurut Ferdiansyah kondisi sekolah di Indonesia sangat beragam. Mulai dari yang komplit fasilitasnya hingga yang terbatas. ’’Boro-boro tempat cuci tangan. Air bersih saja susah,’’ jelasnya.
Dia menegaskan persiapan membuka pembelajaran tatap muka di tengah pandemi harus matang. Tidak bisa sekadar menanyakan kesiapan ke guru. Sebab kalau ditanya ke guru, pasti jawabannya siap. ’’Masalah babak belum belakangan. Jangan disiap-siapkan,’’ tuturnya.
Sementara itu Kementerian Agama (Kemenag) merespon munculnya klaster di MAN 22 Jakarta. Seperti diketahui setelah ada kegiatan sejenis wisata di Jogjakarta, sebanyak 40 orang guru dan karyawan MAN 22 Jakarta dinyatakan positif Covid-19.
’’Tentunya kita prihatin atas kegiatan yang dilakukan kepala madrasah itu. Kita fokus pada penyembuhan dahulu,’’ kata Direktur Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Madrasah Kemenag Muhammad Zain. Dia mengatakan sudah mendatangi madrasah yang ada di Jakarta Barat itu.
Menurutnya upaya pertama yang harus dilakukan adalah menyelamatkan guru dan karyawan yang sakit terlebih dahulu. Kemudian baru urusan pembinaan atau pendisiplinan.
Zain menceritakan kasus tersebut tidak sampai menular ke siswa. Sebab posisi MAN 22 Jakarta sampai saat ini memberlakukan pendidikan jarak jauh (PJJ). Selain itu kegiatan di Jogjakarta itu digelar setelah masa ujian akhir semester gajin tahun pelajaran 2020-2021.
Dia berharap kasus di MAN 22 Jakarta itu menjadi perhatian seluruh madrasah di Indonesia. Apalagi menjelang pelonggaran pembelajaran tatap muka Januari tahun depan. Dia tidak ingin kejadian seperti di MAN 22 Jakarta itu berdampak pada psikologis masyarakat. Khususnya siswa dan orangtuanya. Zain mengatakan seluruh warga madrasah harus kompak dan disiplin menjalankan protokol kesehatan. (wan/JPG)