Harga Tahu Tempe Stabil, Sikapi Kenaikan Harga Kedelai dengan Kurangi Ketebalan

Bincang-bincang dengan Pengusaha Tempe Tahu “Ojo Lali’’ di Kali Acai

Harga kedelai mengalami kenaikan yang luar biasa dari  Rp 400 ribu /karung (isi 50 kg), menjadi Rp 475 ribu /karung. Kenaikan harga kedelai yang cukup tinggi ini sangat dirasakan perajin tahu tempe. Lalu bagaimana mereka mnenyikapinya?

Laporan : PRIYADI.

Perajin tahu tempe saat ini dihadapkan dengan  permasalahan harga kedelai yang naik begitu luar biasa. Dari harga Rp 400 ribu /karung (isi 50 kg) kini sudah naik menjadi Rp 475 ribu/ karung. Naiknya harga kedelai karena pengaruh global, bukan hanya nasional karena kedelai sendiri didatangkan dari luar negeri atau impor.

   Adanya kenaikan harga kedelai tersebut tentu membuat resah para perajin tahu tempe di wilayah Kota Jayapura, salah satunya Perajin Tahu Tempe “Ojo Lali” di Kali Acai Abepura.

Pemilik/ Perajin Tahu Tempe “Ojo Lali” di Kali Acai Abepura Ahmad Sunardi mengatakan, sampai saat ini harga kedelai naik per karung Rp 75 ribu, namun untuk harga jual tempe tahu di pasaran belum naik masih tetap bertahan dengan harga normal. Hal ini ia lakukan karena perajin tahu tempe di Kota Jayapura cukup banyak. Jika ia sendiri yang menaikan harga tentu bisa berpengaruh kepada pelanggan yang pindah ke penjual lain. Oleh sebab itu, sampai saat ini harga tahu tempe belum dinaikkan.

Hanya saja jika dalam perhitungan operasional, jika untungnya tipis  solusinya hanya mengurangi ketebalan tahu atau tempe. Untuk ukuran tidak bisa karena sudah dalam bentuk cetakan.

“Kita perajin tahu tempe harus kompak. Jika memang harga kedelai naik,  kita para perajin tahu tempe harus bisa konsisten dalam kasih harga. Jangan sampai ada yang naikan harga tapi yang lain tidak,’’ucapnya.

Ahmad mengaku, usaha yang sudah digeluti sekira 22 tahun lalu sejak tahun 1999 sampai sekarang memang membuat tahu tempe dan  banyak suka dukanya, karena tahu tempe banyak dibutuhkan masyarakat setiap hari dan saingan juga banyak. Jika tidak bisa dikelola dengan baik juga repot.

Hal lainnya,  karena tempat usahanya terdaftar di pemerintah, tentu harus mengikuti aturan pemerintah karena legal, beda dengan  yang tidak memiliki izin tentu tidak ada kontribusi untuk pemerintah jadi pemerintah juga harus tegas kepada perajin tahu lainnya yang tidak mengurus izin.

Lanjutnya, dalam sehari pihaknya bisa menghabiskan 12-13 karung kedelai. Jika dihitung sampai 1 bulan tentu pemasukan akan berkurang banyak jika harga kedelai naik begitu drastis. Oleh karena itu jika harga kedelai tidak turun-turun, tetap akan dilakukan penyesuaian produksi supaya ada untungnya.

  Ia juga masih bersyukur, walaupun harga kedelai naik, namun untuk stok kedelai di pasaran masih aman karena pihaknya ambil juga di agen yang ada di Kota Jayapura. Karena kalau ia datangkan dari Jawa membutuhkan modal besar minimal 1 kontainer. Jika kedelainya datang tidak sesuai harapan kualitas,tentu akan rugi jadi ambilnya di agen yang ada di Kota Jayapura.

Ditambahkan Ahmad, tahu tempe yang ia produksi juga dipasarkan ke supermarket, pedagang sayur di pasar, pedagang sayur motor keliling maupun warung makan dan lainnya. Jadi kalau ia mau naikkan harga tentu harus dipikir-pikir juga.(*)