Entis Sutisna ( FTO: Robert Cepos)

SENTANI-Layanan air bersih dari  PDAM Jayapura khususnya di wilayah Kota Sentani sampai saat ini belum normal, meskipun sudah lebih dari setahun. Hasil penelusuran media ini, beberapa pelanggan mengeluhkan kondisi air yang masih berkeruh dan juga aliran yang kurang lancar ke rumah-rumah pelanggan.

Direktur PDAM Jayapura, Entis Sutisna menjelaskan,  aliran air yang saat ini mengaliri rumah-rumah pelanggan di Kota Sentani itu sebenarnya berasal dari intake baru yang ada di wilayah Pos Tujuh. Intake baru ini sudah dibangun sejak  Oktober sampai Desember 2019 dan baru dimanfaatkan Januari 2020.

” Secara sistem pembangunan intake baru di Pos 7 itu didanai melalui  anggaran dari pemerintah pusat, yang mana intake baru itu berlokasi di Kampung Sereh,” ungkap Entis Sutisna saat dikonfirmasi media ini, Jumat (5/6).

Dikatakan, sebenarnya jika dilihat dari progres pembangunan, fisiknya sudah selesai dan saat ini sudah bisa mendistribusikan kepada pelanggan.  Hanya saja, kata dia,  dampak dari kerusakan yang terjadi akibat banjir bandang Maret 2019 itu, masih ada jaringan pipa milik PDAM yang tersebar di beberapa wilayah daerah pelanggan masih tersumbat.

“Secara pelayanan berkaitan dengan rehabilitasi maupun perbaikan sistem penyediaan air bersih untuk Kota Sentani terutama untuk  para pelanggan yang jumlahnya sekitar 3700 pelanggan di Sentani, saya berharap nanti bisa menghubungi Kantor Cabang Sentani sehingga kita bisa menginventarisir masalahnya itu apa saja,” bebernya.

Karena secara sistem dari intake Pos 7 itu sudah normal. Hanya saja, sambung dia, untuk tingkat kekeruhan memang sifatnya fluktuatif, ini disebabkan di sekitar kawasan Pegunungan Cycloop belum stabil sehingga air yang mengalir dari gunung tersebut masih mengandung lumpur dan pasir.

 Air bersih yang dialirkan ke pelanggan ini tidak lagi melalui pengelolaan, artinya air dari sumber langsung ke reservoart dan dialirkan ke masyarakat. “Pasti agak keruh pada saat musim hujan, namun kita bisa meminimalisir masalah itu sesuai SOP kita. Apabila terjadi curah hujan yang cukup tinggi, otomatis air tidak lagi ditampung di reservoart dan langsung dibuang ke kali sambil menunggu pada saat situasi normal kembali,”pungkasnya.(roy/tho)