Cerita Muhammad Wahyu, Satu di Antara Seribu Jamaah Haji 2020

Muhammad Wahyu sedang menjalani rangkaian ibadah haji 2020. ( FOTO: Foto : Dokumentasi pribadi)

Aktivitas keseharian Muhammad Wahyu dipantau lewat jam tangan begitu dia dinyatakan lolos sebagai calon jamaah haji. Untuk usir jenuh akibat ketatnya pengawasan, panitia menyediakan Rolex sebagai hadiah cerdas cermat kehajian. 

M. HILMI SETIAWAN, Jawa Pos, Jakarta

DARI balik layar ponselnya saja terlihat jelas betapa semringahnya wajah Muhammad Wahyu. Berkali-kali guru di Sekolah Indonesia di Riyadh, Arab Saudi, itu mengucap syukur.

”Siapa yang tidak bahagia jadi satu dari seribu orang saja yang bisa berhaji tahun ini,” kata dia kepada Jawa Pos yang mewawancarainya melalui panggilan video.  

Keinginan untuk berhaji itu sebenarnya sudah demikian besar begitu dia mendarat di Riyadh sebulan sebelum musim haji 2019. 

Namun, waktu itu kesempatannya untuk bisa berhaji tidak kesampaian. Sebab, untuk bisa mendapatkan surat izin berhaji, ekspatriat wajib memiliki iqamah atau sejenis KTP untuk warga negara asing. ’’Untuk mendapatkan iqamah butuh waktu dua bulan,’’ katanya.

Apalagi, pada waktu itu perwakilan Indonesia di Arab Saudi sedang berfokus dalam penyelenggaraan haji 2019. Akhirnya dia harus memendam keinginan untuk berhaji.

Sebab, kartu iqamah-nya baru selesai setelah musim haji 2019 selesai. Keinginan itu akhirnya baru terwujud di tahun ini. Dia menjadi 1 di antara 13 warga negara Indonesia yang bisa menunaikan rukun Islam kelima tersebut di masa pandemi Covid-19.

Suami Nisaiyatul Luthfia itu lolos dari ribuan pendaftar haji di sistem milik Saudi. Wahyu menceritakan, proses pendaftaran dilakukan secara online. 

Dia tidak tahu pasti berapa banyak jumlah pendaftar. Tapi, kabar yang dia terima, semula Saudi mengumumkan kuotanya tidak lebih dari 10 ribu jamaah. 

Bapak Azkayra Afsheen dan Suhaila Haseena itu menuturkan, proses pendaftaran berlangsung selama lima hari. Pendaftar haji harus melaporkan riwayat penyakit yang pernah diderita apa saja. Kemudian, ada ketentuan lain seperti belum pernah berhaji sebelumnya. Dan, usia dibatasi maksimal 65 tahun.

Pendaftar, kata Wahyu, tidak akan bisa berbohong. Sebab, dalam proses berikutnya mereka harus melakukan kontrol atau cek kesehatan di rumah sakit.

Nama Wahyu akhirnya masuk ke daftar pendaftar haji yang dinyatakan lolos. Pada 17 Juli lalu dia menjalani tes swab dan dinyatakan negatif Covid-19. 

Setelah itu, panitia haji memberikan sejenis jam tangan untuk memantau pergerakan calon jamaah haji. Jam tangan tersebut tersambung dengan sebuah aplikasi di HP.

Setelah menerima perangkat jam tangan itu, dia diwajibkan menjalani karantina mandiri. Tidak boleh keluar rumah. Jika keluar rumah, terdeteksi melalui jam tangan itu. Kalau ketahuan, kepesertaannya sebagai jamaah haji 2020 dicoret.

Berangkatlah Wahyu pada 25 Juli atau 4 Zulhijah dari Riyadh menuju Jeddah dengan menggunakan pesawat. Penerbangan khusus jamaah haji 2020. 

Seluruh proses haji, mulai berangkat dari Riyadh sampai pulang kembali ke ibu kota Arab Saudi itu, gratis. Dan, Wahyu mengaku merasakan pengalaman pelayanan supermewah. Pelayanan layaknya seorang sultan.’’Jika dibandingkan dengan haji seperti ini di Indonesia, tarifnya sudah ratusan juta rupiah,’’ katanya, lantas tersenyum. 

Setiba di Jeddah, seluruh jamaah diangkut dengan bus menuju Makkah. Mereka ditempatkan di Hotel Four Points. Sebuah hotel bintang lima yang dioperasikan Sheraton di kawasan Aziziyah.

Pria kelahiran Pontianak, Kalimantan Barat, 23 Mei 1992, itu menuturkan bahwa fasilitas yang diterima di hotel mewah itu komplet. Satu kamar berisi satu orang. Perlengkapan untuk menjalani ibadah haji sudah disiapkan. Misalnya, kain ihram dan payung. 

Makan diantar petugas ke kamar masing-masing. Secara berkala mereka juga menjalani pemeriksaan kesehatan. Petugas medis datang ke setiap kamar.

Dia menegaskan, jamaah tidak boleh keluar kamar. ’’Kalau ketahuan keluar kamar, didiskualifikasi,’’ katanya. Proses karantina itu berlangsung pada 4 Zulhijah sampai 8 Zulhijah. Pagi buta menjelang subuh, sekira pukul 03.00 waktu setempat pada 8 Zulhijah itu, seluruh jamaah diangkut dengan menggunakan bus untuk menjalani miqat atau mengawali niat berhaji di Qarnul Manazil.

Umumnya orang yang mengambil miqat turun dari bus. Kemudian, mandi besar, lalu menggunakan baju ihram. Setelah itu, salat sunah di masjid, baru menuju Masjidilharam.

Namun, karena kali ini haji di tengah kondisi pandemi, Wahyu mengatakan, sejak keluar hotel, mereka sudah mandi wajib dan mengenakan baju ihram. ’’Kami di miqat tidak turun bus. Hanya memelankan kecepatannya,’’ katanya. 

Di dalam bus seluruh jamaah memasang niat berhaji sambil memanjatkan doa. Setelah itu, bus secara beriringan berjalan rapi dan dikawal mobil polisi melaju ke Masjidilharam. 

Jamaah yang dibagi tiap kelompok berisi 20 orang itu kemudian menjalani tawaf qudum. Seperti banyak beredar di media sosial, pelaksanaan tawaf berjalan sangat tertib.

Sebelum mulai memutari Kakbah, jamaah berdiri mengelilingi Kakbah sesuai garis yang ditentukan. Lalu, secara serentak mulai melakukan tawaf. 

Setelah selesai tawaf, jamaah melakukan sai atau lari kecil dari Safa ke Marwa. Proses sai yang biasanya bebas kini diawasi ketat. 

Wahyu yang sudah beberapa kali melaksanakan umrah merasakan suasana yang sangat berbeda selama menjalani ibadah di Masjidilharam. Biasanya sangat padat. Kali ini sangat longgar dan tertib. 

Proses haji bisa berjalan tertib karena petugas yang dikerahkan mencapai 60 ribu orang. ’’Bayangkan, jamaahnya seribu, petugasnya 60 ribu,’’ tuturnya.

Bahkan, untuk sekadar ke toilet, jamaah tidak boleh seenaknya keluar dari kelompok menuju toilet. Tapi, harus didampingi pembimbing. 

Pembimbing itu mengantar sampai ke toilet. Kemudian, memastikan jumlah jamaah yang masuk ke toilet dan kembali ke tim jumlahnya sama. Supaya tidak ada penyusup.

Setelah selesai rangkaian ibadah di Masjidilharam, sekitar pukul 10 pagi mereka berangkat menuju Hotel Mina Towers. Mereka menginap pada 8 Zulhijah untuk menjalani tarwiyah. 

Hotel ini cukup dekat dengan lokasi melontar jumrah. Hanya sekitar 200 meter. Sebagai perbandingan, jarak tenda jamaah haji reguler dan tempat melontar jumrah bervariasi, mulai 3 Km sampai 5 Km. 

Wahyu mendapat informasi bahwa tarif menginap di Mina Towers itu sekira 7.000 riyal atau Rp 27 juta.

Pada 9 Zulhijah atau 30 Juli seluruh jamaah bergerak dari Mina Towers menuju Arafah untuk menjalani wukuf. Rangkaian wukuf dimulai dengan mendengarkan khotbah wukuf. Setelah itu, melaksanakan salat Duhur dan Asar dijamak. 

’’Inti khotbahnya itu kita diminta bersabar,’’ katanya. Setelah itu, seluruh jamaah diberi waktu untuk menjalankan ibadah masing-masing. Jamaah berdoa di tenda dengan sofa yang ditata sedemikian rupa untuk menjalankan protokol jaga jarak. 

Sekira pukul 17.00 semua jamaah berjalan dengan rapi di setiap kelompok menuju Jabal Rahmah. Jamaah berada di bukit perjumpaan Nabi Adam dan Hawa sampai sekitar pukul 19.00 atau menjelang magrib.

Setelah di Arafah, jamaah bergerak menuju Muzdalifah untuk menjalani mabit. Saat di Muzdalifah sempat turun hujan. ’’Jamaah yang tidak tertampung di dalam masjid sempat merasakan kehujanan. Tetapi sebentar,’’ katanya. 

Untuk makan, petugas mengantar sampai ke dalam masjid. Jamaah menjalani iktikaf di Muzdalifah sampai pelaksanaan salat Subuh.

Sehabis salat Subuh, jamaah ke Mina untuk melempar jumrah aqabah di tanggal 10 Zulhijah atau bertepatan dengan Idul Adha. Dari tiga lantai jamarat atau tempat melontar jumrah, hanya satu lantai yang digunakan. Jamaah diatur memanjang saat melaksanakan lempar jumrah.

Setelah selesai lempar jumrah aqabah, jamaah menuju ke Masjiidlharam untuk tawaf ifadah. Lalu, kembali ke Mina Towers untuk tahalul dan menanggalkan baju ihram. 

Proses dilanjutkan dengan mabit di Mina Towers dan melontar jumrah sampai tanggal 12 Zulhijah. Sekira pukul 15.00 menuju Masjidilharam untuk tawaf wada atau tawaf perpisahan. Proses haji pun sudah selesai.

Wahyu mengamati lingkungan sekitar Masjidilharam yang jauh berbeda dengan kondisi normal. Hotel dan pusat perbelanjaan di Zam Zam Tower yang biasanya ramai saat musim haji seperti kota mati kali ini. Semuanya tutup. Pedagang kaki lima di Terminal Syieb Amir yang ada di sekitar Masjidilharam juga tidak ada.

Setelah selesai tawaf wada, seluruh jamaah pulang sesuai rute. Ada yang ke bandara di Jeddah. Ada juga yang ke Madinah atau kota-kota tempat asal jamaah lainnya. Perjalanan pulang itu tetap dikawal petugas kepolisian sampai di rumah masing-masing. Wahyu mengatakan, tidak ada pikiran untuk beli oleh-oleh. ’’Mau beli oleh-oleh di mana, kan tutup semuanya,’’ katanya.

Dengan proses rangkaian ibadah haji yang cukup ketat itu, panitia memiliki sejumlah cara untuk mengusir kebosanan. Di antaranya adalah menjalankan program semacam cerdas cermat tentang ibadah haji. Ada juga lomba tilawah. Perlombaan itu dilakukan secara online melalui ponsel jamaah masing-masing. 

Hadiah lomba itu lumayan. Yakni, jam tangan Rolex. ’’Ada dua jamaah WNI yang mendapatkan jam tangan Rolex,’’ jelasnya. 

Sepuluh hari setiba di rumah dari haji, kesehatannya tetap dipantau. Wahyu juga harus menjalani karantina mandiri di rumah.

Bisa berhaji tahun ini memang menjadi momentum langka. Banyak WNI di Arab Saudi yang mendaftar, tetapi tidak lolos. Misalnya, yang dilakukan Konsul Haji KJRI Jeddah Endang Jumali. Dia mengatakan sudah mendaftar online, tetapi dinyatakan tidak lolos.

Seluruh pendaftar dari keluarga besar KJRI Jeddah tidak lolos. Hanya ada satu istri staf lokal KJRI Jeddah yang berhasil. 

Endang mengatakan akan menulis buku tentang cerita jamaah haji WNI musim 2020. Dia juga bersyukur proses haji tahun ini berjalan lancar meski di tengah pandemi. (*/c10/ttg)