JAYAPURA-Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyebut Gerald Sokoy, tenaga kesehatan (nakes) yang mengabdi di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang sebagai salah satu saksi penting terkait peristiwa penyerangan dan pembakaran fasilitas publik yang terjadi, Senin (13/9) lalu.

Saat penyerangan, Gerald berada di lokasi bersama 11 nakes lainnya. Dari 11 Nakes tersebut, satu nakes bernama Gabriella dinyatakan meninggal dunia akibat dianiaya Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB), sementara Gerald saat itu tidak ditemukan. Hingga fotonya beredar di media sosial diamankan KKB.

Kepala Komnas HAM RI Perwakilan Papua, Frits Ramandey menyampaikan, Gerald merupakan saksi penting atas peristiwa yang terjadi di Kiwirok, terlepas dari beberapa rekannya yang sudah memberikan kesaksiannya terlebih dahulu.

Frits mengaku bersyukur ketika mengetahui Gerald masih hidup sebagaimana foto yang beredar. Dirinya berharap Gerald bisa kembali dengan selamat itu yang paling penting. “Apakah status Gerald disandera atau mengamankan diri atau diamankan, itu tidak penting. Yang terpenting adalah ada pihak lain yang sedang menyatakan pernyataan bahwa Gerald sedang ada bersama mereka,” terang Frits saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Jumat (24/9)

Lanjut Frits, dari penyampaian kelompok ini mereka menyatakan akan menyerahkan Gerald Sokoy. Ia mengharapkan penyerahan Gerald secara baik-baik dan tidak ada kekerasan terhadap yang bersangkutan. “Penyerahan Gerald Sokoy dari kelompol sipil harus di tempat yang netral, sehingga  tidak menimbulkan akses baru,” tegas Frits.

Frita menambahkan, Gerald merupakan saksi penting. Untuk itu pihaknya akan memberi perlindungan kepada Gerald. Selain itu, Komnas HAM juga sudah berkomunikasi dengan semua pihak agar yang bersangkutan bisa diperlakukan secara baik.

“Gerald merupakan saksi penting atas peristiwa yang terjadi di Kiwiriok, sehingga semua lembaga, gereja, Pemda, Polda Papua dan Kodam serta Komnas HAM memberi perlindungan kepada Gerald. Terima kasih kepada kelompok sipil yang mau melepaskan dia secara baik baik,” ucap Frits.

Terkait dengan peristiwa di Kiwirok, Frits menyampaikan sebelumnya beberapa nakes yang merupakan korban mendatangi kantor Komnas HAM. Kedatangan korban tersebut mengadukan tentang kekerasan dan kronologi kejadian serta memohon perlindungan.

 “Mereka (nakes-red) mengadu tentang ancaman yang mereka alami, bagaiaman perlakuan yang mengakibatkan teman mereka meninggal dunia, mereka juga mengadukan hak-hak mereka,” jelas Frits.

Terkait permohonan nakes tersebut, Komnas HAM sudah memfasilitasi mereka bertemu Kapolda Papua Irjen Pol Mathius D Fakhiri, dan Kapolda telah memberikan jaminan tentang keselamatan mereka. Termasuk bertemu dengan Bupati Pegunungan Bintang terkait dengan hak-hak mereka. “Secara substansi bagaimana hak mereka sebagai korban itu menjadi perhatian baik Komnas HAM, Kepolisian, Pemda dan lembaga lainnya,” pungkasnya. (fia/nat)