Benediktus Amoye ( FOTO : Gamel/Cepos )

Benediktus : Banyak Guru yang Tak Jalankan Kewajiban Namun Ngotot Minta Gaji 

JAYAPURA-Munculnya protes dari para guru di Mamberamo Raya terkait gaji yang belum dibayarkan akhirnya mendapat klarifikasi dari Kepala Dinas P dan P Mamberamo Raya, Benediktus Amoye. Dengan mengundang banyak media, Bendiktus menjelaskan secara rinci mengapa sampai persoalan tersebut menjadi ramai. 

Secara gamblang ia menyampaikan bahwa sejatinya tak semua guru belum dibayarkan, dari total guru yang ada yakni 385 orang, ada 167 guru yang sudah menerima gajinya. Sisanya atau 218 guru lainnya dalam waktu dekat segera dibayarkan sesuai dengan petunjuk bupati. 

 Namun terkait keterlambatan pembayaran ini Benediktus tak memungkiri jika ada kesalahan yang dilakukan oknum pegawainya dalam hal ini pihak juru bayar. Pria berinisial FW ini dilaporkan telah mencairkan uang pembayaran gaji pegawai namun tak diteruskan alias ada dugaan bentuk penggelapan.  Terkait ini pihaknya tak tinggal diam, keberadaan FW terus dicari untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. 

“Jadi tidak semua belum dibayarkan, hanya memang guru-guru yang belum menerima gaji ini mengajak yang lain akhirnya yang sudah menerima gaji juga ikut-ikut protes. Ini yang kami sayangkan,” katanya kepada wartawan di Hotel Sahid, Kamis,  (8/8).

Benediktus menyebut gaji yang belum dibayarkan adalah gaji bulan Juni, Juli, gaji 13 dan gaji 14. Untuk gaji bulan Juni yang belum dibayarkan sebesar Rp 16.110.623, gaji  bulan Juli sebesar Rp 32.783.127, gaji 14 sebesar Rp 406.548.340 dan gaji  13 lah yang terbilang cukup besar yakni Rp 746.343.800 sehingga total yang harus dibayarkan sebesar Rp 1.201.785.890. 

Dijelaskan bahwa pihaknya baru memberi keterangan saat ini karena membutuhkan waktu untuk melakukan pendataan. Ia berada di Jayapura untuk mengikuti kegiatan yang tak bisa ditinggalkan. “Jadi harus didata kembali siapa yang sudah menerima dan siapa yang belum. Jangan sampai yang sudah menerima justru mendapat dua kali, makanya  setelah mendata semua barulah saya jelaskan,” bebernya. 

 Namun perihal masih ada guru yang belum menerima gaji bukan saja karena tidak dibayarkan oleh juru bayar. Lainnya adalah ada guru yang tidak berada di tempat tugas meminta rekannya mengirimkan ke rekening dan ternyata tidak dilakukan alias uang masih dipegang temannya tadi. 

Pihak dinas kata Benediktus bahkan sempat merubah pola sistem penggajian. Jika sebelumnya melalui transfer kini diubah menjadi manual. Para guru harus ke Mamberamo Raya untuk menandatangani dan menerima gaji secara langsung, bukan lewat transfer. 

 Ini dilakukan karena dari evaluasi ternyata banyak guru yang tidak menjalankan tugasnya namun hanya menerima gaji. “Dan itu banyak, tidak mengajar tapi menunggu gaji makanya kami coba rubah. Tidak melalui transfer lagi, kami minta mereka datang ke kantor. Tapi bulan ini sudah kami normalkan,” tambahnya. 

Disini Benediktus menegaskan bahwa sesuai dengan petunjuk bupati maka dalam waktu dekat gaji para guru yang belum diterima akan segera dibayarkan. Meski demikian diakui bahwa aktivitas proses belajar mengajar sempat terganggu. “Kami harap setelah ini  semua bisa segera normal kembali dan para guru juga bekerja adil. Jalankan tugas baru menuntut hak. Jangan justru tinggal di luar, tidak mengajar namun protes hak,” pungkasnya.

Sementara itu, Dirkrimsus Polda Papua, Kombes Pol Putu Putera Sadana mengatakan sekitar dua minggu yang lalu ada perwakilan dari guru yang datang ke Polda Papua yang diterima oleh Kanit 2 Tipidkor Polda Papua mengadukan permasalahan tersebut. “Namun kedatangan mereka saat itu belum membuat pengaduan secara resmi,” ucap Putra Sadana saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos melalui telfon selulernya, Kamis (8/8).

Kendati demikian, pihaknya tetap akan tindak lanjuti kasus tersebut dengan membuat LI dan melakukan giat penyelidikan. (ade/fia/nat)