Penyerahan data sementara jumlah warga Kota Jayapura yang berasal dari Saireri  kepada Koordinator FKMS, Yonas Nusi, Selasa (5/5) kemarin. (BMD For Cepos)

BMD Siapkan Tempat Tinggal Sementara bagi Warga Saireri yang Tak Bisa Pulang 

JAYAPURA –  Sebuah organisasi paguyuban Forum Komunikasi Masyarakat Saireri (FKMS), akhirnya terbentuk. Forum ini nantinya menjadi wadah bagi masyarakat dari kawasan Saireri untuk berkoordinasi terkait kondisi terkini  dampak dari pandemi Covid 19 terutama berkaitan dengan data warga dan bantuan yang sudah diterima. Ini dirasa perlu untuk menyatukan persepsi agar jangan ada warga yang seharusnya menerima bantuan justru tidak mendapatkan haknya. Pemerintah juga wajib memastikan kebutuhan bahan makanan masyarakat sejalan dengan penerapan berbagai pembatasan sosial dan aktifitas.

 “Forum ini akan memulai dengan melakukan pendataan lebih dulu. Kami pikir ada banyak sekali warga Saireri di Jayapura maupun Kabupaten Jayapura. Ini kami lakukan untuk membantu pemerintah bila akan menyalurkan bantuan dan dari data ini akan dikroscek kembali,” kata Koordinator FKMS, Yonas Nusi di Sekretariat FKMS, di Entrop, Selasa (5/5). Posko ini juga berlabel Covid 19 dimana tujuannya membantu pemerintah memvalidasi data warga khususnya yang berasal dari Saireri guna mengantisipasi dampak dari kebijakan selama pandemi covid 19. 

 “Kami berharap bagi masyarakat  yang berasal dari Saireri bisa melapor ke posko untuk dilakukan pendataan. Ini agar jangan sampai ada yang seharusnya menerima bantuan tapi ternyata belum lalu jangan sampai ada yang sudah menerima malah diberikan lagi. Data ini akan kami serahkan ke Dinas Sosial termasuk pemerintah, DPRP dan Polda untuk dikroscek dan dikoordinir agar tertib,”. Peresmian posko FKMS ini dihadiri seluruh anggota Majelis Rakyat Papua (MRP) yang berasal dari Saireri termasuk anggota DPRP. 

 Menurut Yonas Nusi warga asal Saireri di Jayapura jumlahnya diperkirakan mencapai 3500 dan posko ini mendata tak hanya jumlah tetapi jenjang pendidikan dan pekerjaan. “Jadi mulai dari penjual pinang, ASN hingga kontraktor juga kami coba input. Kami pikir jumlahnya sangat besar namun belum terdata dengan baik dan terkait bantuan dari pemerintah kami pikir jika tak ditangani baik bisa menimbulkan persoalan sosial,” imbuhnya. 

 Di tempat terpisah, Salah satu anggota Komisi IV DPR Papua, Boy Markus Dawir membuka ruang bagi siapa saja masyarakat yang berasal dari Saireri yang kesulitan tinggal di Jayapura untuk menempati tempatnya di Jl Kali Hanyaan Entrop Jayapura. Ini dilakukan setelah mendengar sejumlah informasi banyaknya warga asal Biak, Yapen, Waropen dan Supiori yang berada di Jayapura karena terjebak situasi. Harapannya paling tidak bisa meringankan kondisi keseharian masyarakat terutama terkait bahan makanan.

 “Silahkan buat saudara –saudara yang  sedang berada di Jayapura dan tak bisa kembali bisa berkumpul di kediaman kami dulu untuk selanjutnya dipikirkan bagaimana ke depannya,” kata Boy, Rabu (6/5). Tak tanggung – tanggung ia menyebut tempatnya masih bisa menampung hampir 100 orang dan selama berada di Hanyaan ia yang akan menanggung semua kebutuhan. “Untuk makan minum, air, listrik, tempat tidur bahkan wifi itu tak usah dipikirkan, sudah kami siapkan. Yang penting berkumpul dulu lalu akan diatur seperti apa,” jelasnya. 

 Dia melihat banyak warga Saireri yang kebetulan berada di Jayapura untuk kepentingan satu dan lain hal namun belum sempat kembali ke daerah asal ternyata pemerintah sudah menutup semua akses transportasi akhirnya terjebak.  (ade/wen)