KETERANGAN PERS: General manager Operasi Bandara Sentani, A.R. Suebu didampingi kapolsek KP3 Udara Bandara Sentani, Iptu Ihaka Max Imoliana saat memberikan keterangan pers, di kantor AP1 Bandara Sentani, Rabu (18/3). ( FOTO: Robert Mboik/Cepos)

SENTANI-Empat pesawat terbang tujuan Bandara Sentani, sempat mengalami keterlambatan atau delay landing/mendarat  di Bandara Sentani, Rabu (18/3) pagi.

Dari informasi yang diperoleh Cenderawasih Pos, kemarin, empat pesawat yang delay mendarat yaitu masing-masing dua pesawat milik Lion Air dan Garuda Indonesia. 

Dari empat pesawat tersebut, satu pesawat Garuda Indonesia yang terbang dari Bandara Soekarno Hatta terpaksa dialihkan pendaratannya di Bandara Frans Kaiseipo Biak. Sementara tiga pesawat lainnya melakukan holding kurang lebih 30 menit sebelum akhirnya mendarat di Bandara Sentani.
Manager Operasi Angkasa Pura 1 Bandara Sentani, A.R Suebu mengakui adanya kejadian yang mengakibatkan pesawat mengalami delay saat hendak landing di Bandara Sentani. Bahkan menurutnya ada  lima pesawat yang hendak melayani rute lokal juga mengalami keterlambatan terbang. 

“Kali ini disebabkan oleh masalah teknis yang ada di Bandara Sentani. Masalah teknis lebih kepada mekanisme koordinasi antara  pihak bandara dengan pihak AirNav,” ungkapnya saat menjawab pertanyaan wartawan, Rabu (18/3), di Kantor Ap1 Bandara Sentani.

Meskipun sempat mengalami keterlambatan, namun keempat pesawat menurut Suebu bisa mendarat dengan selamat di Bandara Sentani. 

“Sekali lagi kami berbicara atas nama bandara nanti yang menjadi bagiannya. Bagian AirNav nanti dari teman-teman AirNav yang menjelaskan,” ujarnya.
Suebu menegaskan, keterlambatan terbang  maupun  landing di Bandara Sentani disebabkan karena adanya mis komunikasi dan koordinasi. Antara pengelola bandara dengan petugas di AirNav.

Miskomunikasi yang dimaksud menurut Suebu yaitu dalam memulai suatu penerbangan seluruh fasilitas penerbangan selalu dilakukan pengecekan oleh tim teknis bandara, dalam hal ini pengecekan runway. 

“Jika sudah dilakukan pengecekan kemudian dilaporkan kepada semua petugas termasuk AirNav, sehingga AirNav akan mempunyai keyakinan dalam mengambil keputusan apakah pesawat itu bisa didaratkan  atau  diberangkatkan,” jelasnya.

Intinya menurut Suebu harus ada hasil inspeksi landasan yang mengatakan bahwa bandara siap beroperasi. Hal ini rutin dilakukan sesuai dengan regulasi yang ada di dunia penerbangan.

“Tadi pagi ini terjadi keterlambatan pengecekan Runaway sekira 30 menit, sehingga dari data kami ada  empat yang  datang dan 5 pesawat berangkat yang terkena dampak dari persoalan ini,” tambahnya.

Sementara itu, General Manager AirNav Cabang Sentani, I Made Adi S menjelaskan, pihaknya memberikan arahan atau keputusan bagi setiap pesawat yang akan landing berdasarkan kondisi di lapangan.
“Mungkin ada delay sedikit kegiatanya dibawah (petugas). Kita menyesuaikan controler begitu dan menyesuaikan dengan kondisi dilapangan,” tegasnya.
Adi menepis isu yang menyebutkan adanya oknum petugas Pemandu Lalu Lintas Udara atau Air Traffic Controller (ATC)  yang dipengaruhi minuman keras saat bertugas. 

Hal itu menurut Adi tidak mungkin terjadi, karena setiap petugas yang menjalankan tugas  selalu discrening terlebih dahulu oleh dokter. Mulai dari kondisi kesehatan termasuk adanya kemungkinan mabuk atau tidak.

“Ada tes mata, jantung, termasuk miras, baru boleh naik. Jadi ngga mungkin itu,” pungkasnya. (roy/nat)