AMANKAN: Aparat Kepolisian saat mengamankan aksi solidaritas yang dilakukan sopir taksi jurusan Jayapura-Dok di depan Stadion Mandala Jayapura, Jumat (12/7) ( FOTO : Elfira/Cepos)

Terkait Kasus Tewasnya Sopir Taksi di Dok IX

JAYAPURA-Empat dari lima orang yang diduga pengeroyokan dan penganiayaan yang mengakibatkan tewasnya seorang sopir taksi bernama La Ode Rafiudin di Dok IX, Distrik Jayapura Utara, Jumat (12/7) dini hari sekira pukul 01.00 WIT, berhasil diamankan Polres Jayapura Kota.   

Empat orang terduga pelaku yang berhasil diamankan yaitu HN, AW, PW dan YW. Sementara satu terduga pelaku lainnya berinisial KW hingga kemarin masih dalam pengejaran anggota Polres Jayapura Kota. 

“Keempat terduga tersangka masih dimintai keterangan oleh penyidik Satuan Reskrim  Polres Jayapura Kota untuk menentukan status mereka,” ungkap Kapolres Jayapura Kota, AKBP. Gustav R Urbinas melalui Kasubag Humas Polres Jayapura Kota, Iptu Jahja Rumra kepada Cenderawasih Pos, Jumat (12/7). 

Kasus pengeroyokan dan penganiayaan yang menewaskan sopir taksi ini menurut Jahja Rumra, bermula saat dua orang saksi hendak mencari makan dari arah Dok IX tengah ke arah Dok IX depan, sekira pukul 01.00 WIT. 

Saat tiba di depan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, kedua saksi menurutnya terlebit pertengkaran mulut dengan sekelompok orang yang diduga dipengaruhi minuman keras. “Kedua saksi tersebut dikejar dan dianiaya di Dok IX tengah,” jelas Jahja Rumra. 

Jahja Rumra mengatakan, saat pelaku menganiaya kedua saksi, korban La Ode Rafiudin muncul di lokasi kejadian dan dianiaya para pelaku hingga meninggal dunia. 

Dikatakan, korban meninggal diduga dipukul pada bagian kepala. Belum diketahui apakah pelaku memukul korban dengan menggunakan balok atau tangan. Sebab kasus ini masih dalam pemeriksaan Satuan Reskrim Polres Jayapura Kota.

Terkait dengan kejadian ini, arus lalu lintas di Dok IX macet. Sebab pasca kejadian sekira pukul 08.00 hingga pukul 10.00 WIT, sejulah warga melakukan aksi pemalangan jalan. Aksi pemalangan akhirnya berakhir setelah aparat Kepolisian tiba di lokasi dan memberikan pengertian kepada masyarakat.

Selain aksi pemalangan, sebagai bentuk solidaritas, para pengemudi taksi jurusan Jayapura-Dok melakukan aksi mogok. Dari pantauan Cenderawasih Pos di lapangan solidaritas taksi jalur Dok mogok selama sehari terkait teman mereka yang meninggal. 

Dalam aksi mogok tersebut taksi yang memuat penumpang dan masuk ke daerah dok  dicegat di Jalan Mandala.

“Hari ini kami tetap mogok, ini kejadian yang berulang kali terjadi di daerah kami,” ucap salah satu sopir taksi.

Terkait dengan kejadian ini, Koordinator Trayek Dok G dan H Jamalik meminta adanya pembangunan pos di daerah Dok. Karena kejadian seperti ini kerap terjadi di daerah tersebut. Dirinya berharap, dengan adanya pos maka para sopir taksi serta masyarakat setempat merasa aman dan nyaman.

“Dari tahun ke tahun, Kapolsek ganti Kapolsek kejadiannya tetap sama dan sasarannya adalah sopir taksi. Ini harus ada ketegasan dari pihak Polisi juga pemerintah setempat,” pintanya.

Masyarakat meminta pemerintah bisa melihat kejadian ini dengan serius, bukan hanya mengharapkan aparat saja. Sehingga pembangunan Pos daerah Dok harus ada. 

Para sopir yang selama ini beroperasi di trayek Jayapura Kota – Dok IX meminta Polisi memberikan rasa aman kepada mereka selama narik (bawa taksi). 

Ini menjadi catatan penting mengingat selama ini mereka harus pulang lebih awal lantaran  merasa tak aman jika narik hingga larut malam. Apalagi dari kejadian Jumat (12/7) kemarin salah satu rekan mereka akhirnya tewas setelah dikeroyok sejumlah orang.

 “Kalau mau jujur selama ini kami narik dalam keadaan was-was, terancam dan tidak nyaman. Itu karena ada sejumlah kasus yang terus terjadi pada sopir teman-teman kami,” kata Eli Auparai saat ditemui di depan Stadion Mandala Jayapura, Jumat (12/7). 

Kemarin ia bersama puluhan sopir lainnya tengah melakukan aksi mogok sambil menggalang dana di jalan. Ini sebagai bentuk solidaritas sesama sopir. Kata Eli   beberapa kasus yang sudah terjadi seperti ada yang telinganya  dipotong, lalu kaca mobil dilempar hingga pecah dan ketiga pembunuhan kali ini. 

 “Dulu kami bisa narik hingga pukul 11 malam tapi saat ini harus pulang jam 7 malam. Kalau kami paksakan kadang takut terjadi apa-apa,” bebernya. 

Selama ini  sikap protes masih ditahan-tahan tapi kali ini tak bisa dibiarkan sehingga mereka sempat melakukan pemalangan jalan. Para sopir meminta agar pelaku segera diungkap dan diproses hukum dan  sebagai bentuk solidaritas sesama sopir  disepakati untuk aksi mogok dilakukan hingga jenazah dimakamkan. 

 “Kami minta Polisi memberi rasa aman. Kami selalu merasa tidak nyaman bila bekerja hingga malam hari,” imbuhnya. 

 Keamanan yang diminta adalah  lebih  sering melakukan patroli serta memantau dua titik yang dianggap sering terjadi aksi kekerasan. Dua titik jalan tersebut adalah di Kios Mawar dan di depan kantor Dinas Pendidikan Provinsi Papua. “Dua titik ini yang paling sering terjadi. Di dua titik ini perlu dibangun pos sebab itu lokasi yang paling sering terjadi kekerasan dan itu terjadi saat malam,” katanya. 

Demus Kapitan yang sudah narik sejak 1984 juga mengutarakan hal serupa.  Ia meminta patroli Polisi harus rutin agar tidak menunggu terjadi masalah baru bergerak tetapi perlu upaya pencegahan. Bila perlu pemerintah atau Polisi kembali mengaktifkan yang dulunya disebut sebagai Garnisun dimana orang-orang mabuk di jalan langsung diangkat. “Selama ini memang kami harus akui kadang ada kecemasan tapi tidak sampai terjadi pembunuhan seperti saat ini. Kawasan Dok IX seperti tidak aman kalau malam,” imbuhnya. Pantauan Cenderawasih Pos puluhan sopir ini tak hanya melakukan penggalangan dana tetapi ada beberapa kendaraan lain yang melintas langsung disuruh putar dan menurunkan penumpang. 

 Itu dilakukan sebagai bentuk solidaritas. “Jangan kami semua mogok malah ada yang memanfaatkan. Itu  bukan bentuk solidaritas namanya,” tegas Demus. (fia/ade/gr/nat)