Dubes Jepang untuk Indonesia, Masafumi Ishii saat menyerahkan cindera mata kepada Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE,M.Si di sela-sela kunjungan kerjanya ke Kabupaten Jayapura, Jumat,(21/2).  ( FOTO: Robert Mboik Cepos)

SENTANI-Duta Besar (Dubes) Jepang untuk Indonesia, Masafumi Ishii, melaksanakan kunjungan kerja ke beberapa daerah di Papua. Dalam kunjungan itu, Masafumi Ishii, berkesempatan mengunjungi Kabupaten Jayapura, Jumat (21/2). 

Dalam kunjungan itu, Dubes Jepang untuk Indonesia itu mengunjungi titik lokasi banjir bandang Sentani, tepatnya di Kampung Kemiri. 

Selain itu, Masafumi Ishii bersama Bupati Mathius Awoitauw, SE,M.Si   juga berkesempatan mengelilingi beberapa spot di Danau Sentani dengan menggunakan kapal Pesiar Foi Moi.

Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw mengatakan, dalam kunjungan itu, ada beberapa hal penting yang dibicarakan dengan Dubes Jepang untuk Indonesia itu. Diantaranya berkaitan dengan peningkatan SDM  di Kabupaten Jayapura, hal itu sudah dilakukan melalui  pengiriman pegawai dari Pemkab Jayapura ke Jepang.

“Terakhir Pemkab Jayapura mengirim 3 orang untuk belajar tentang kebudayaan dan beberapa hal lainnya di Jepang. Pemkab juga pernah melakukan kunjungan ke Jepang pada 2015, terkait kerja sama pengelolaan Danau Sentani.

“Kami terus membangun komunikasi dengan Bappenas, LIPI, itu   dalam rangka menjaga kelestarian Danau Sentani, Gunung Cycloop,” ungkap Mathius Awoitauw kepada wartawan di Sentani, Jumat (21/2).

Lanjut dia, hal lain yang dibicarakan pada kesempatan itu sehubungan  dengan kerja sama repatriasi  tulang-belulang tentara Jepang yang menjadi korban perang dunia II di Papua khususnya di Jayapura, Biak, Supiori, Sarmi.

“Untuk daerah ini ada kerja sama khusus dari Jepang, ada perhatian dari pemerintah Jepang,” ujarnya.

Dikatakan, untuk program repatriasi tulang-belulang tentara Jepang dari Provinsi Papua khususnya dari Kabupaten Jayapura itu sudah dilakukan sejak 2013 lalu. Dimana ada sekitar 400-an tulang belulang berhasil dipulangkan ke Jepang. Untuk Kabupaten Jayapura, tulang-belulang tentara Jepang ini terbanyak ditemukan di Kampung Puai sebanyak 300-an, kemudian di Brap dan Genyem juga terdapat dua dan tiga tulang tentara Jepang. Menurut Mathius, keberadaan tulang belulang  itu tercatat dalam dokumen negara Jepang.

“Setelah ke Sentani, mereka melanjutkan kunjungan ke provinsi mungkin ada pengalaman pengalaman di Sentani, Biak, Supiori  ini bisa cerita dengan provinsi sehingga provinsi bisa bangun kerja sama di tingkat atas,” tambahnya.(roy/tho)