Proses penimbangan sampah yang diperoleh dari sepanjang Jl Holtekamp dalam kegiatan World Cleanup Day yang dilakukan serentak diseluruh dunia pada Sabtu (20/9) lalu.  (FOTO: Gamel Cepos)

JAYAPURA – Aksi grebek sampah terbesar di dunia atau World Cleanup Day (WCD) untuk wilayah Jayapura mencatat bahwa dalam dua jam, para peserta yang berjumlah hampir 200 orang lebih ini berhasil mengumpulkan seberat 1600 Kg sampah. Sebanyak 1524 Kg diperoleh dari sepanjang jalan Holtekamp dan 76 Kg diperoleh dari hutan mangrove Entrop. Sampah – sampah ini kebanyakan berbentuk sampah plastik dan botol.

 Wali Kota Jayapura, Dr Benhur Tomi Mano, MM memberi apresiasi adanya gerakan anak muda yangmau peduli. Ia menyebut untuk mendapatkan 6 kali  dari perubahan yang dilakukan dan jangan hanya diam. “Bicara kebersihan sudah banyak yang kami lakukan, banyak tempat yang kai tata. Lokasi judi dan tempat esek – esek kami bongkar jadikan taman dan ini untuk menata dan membersihkan,” kata Tomi Mano memberikan arahan membuka kegiatan WCD di Pantai Holtekampp, Sabtu (20/9).

 Ia menyebut kepedulian dan bertanggungjawab atas sampah sendiri adalah kuncinya dan dari aspek pemerintah ia perkuat dengan armada dan personil. Tomi Mano juga menyebut sampah di hutan bakau jumlahnya sangat banyak. Ada jenis pembalut hingga plastik. Ia merasa miris sebab dulunya masih sering memakan bia (kerang) hasil tangkapan dari hutan bakau. “Saya jadi Wali Kota cerdas karena makan bia dari hutan mangrove tapi saat ini sulit dapat bia karena banyak sampah,” jelasnya.

Kepala Dinas Kehutanan Ir Jan Ormuserai menyampaikan bahwa WCD dilakukan tak hanya di Jayapura  tetapi juga di Biak dan Merauke dan penting untuk  bertanggungjawab atas sampah masing – masing. “Saya pikir ketika sebuah darah itu kotor maka akan menjadi sumber penyakit dan saya berharap WCD bisa menginspirasi anak – anak muda untuk bersahabat dengan alam,” bebernya. Sementara leader WCD Jayapura, Muhammad Ikbal menyebut lokasi pengumpulan sampah dilakukan di dua titik, pertama di jalan Holtekamp dan kedua di hutan mangrove.

 “Kami dibantu pemerintah kota lewat unit truk sampahnya dan dari dinas kehutanan provinsi yang terus memonitor perkembangan WCD,” kata Ikbal. Dikatakan WCD hanyalah momentum sebab perubahan sesungguhnya harus dilakukan oleh masing – masing individu. “Jika sampah orang lain mau kita bersihkan masak sampah sendiri tidak bisa menjadi bagian dari tanggungjawab kita,” tutupnya. (ade/wen)