Christian Sohilait ( FOTO: gratianus silas/cepos)

JAYAPURA- Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan, dan Arsip Daerah (DPPAD) Provinsi Papua, Christian Sohilait menyebutkan bahwa pihaknya akan mendata jumlah pelajar yang terdampak konflik bersenjata antara  Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dan aparat keamanan di Kabupaten Intan Jaya dan Nduga.

Pasalnya, sambung Sohilait, setidaknya konflik bersenjata di Nduga telah membuat masyarakat meninggalkan tempat tinggalnya, sehingga anak-anak usia sekolah tak lagi dapat mengenyam pendidikan.

“Kita harus selamatkan anak-anak di sana (Intan Jaya dan Nduga), karena mereka generasi penerus. Kalau sampai kita tidak tolong, maka tidak ada lagi generasinya. Sekarang belum ada datanya tapi kami akan dapatkan datanya,” terang Christian Sohilait, Rabu (10/2) lalu.

Kata Sohilait, untuk Intan Jaya, terdapat dua distrik yang aktivitas belajar dan mengajar terhenti karena adanya gangguan keamanan, yakni Hitadipa dan Mbiandoga. Oleh karenanya, Sohialit mengagendakan untuk mengunjungi Intan Jaya, guna memastikan kebenaran informasi tersebut.

“Sedangkan untuk Nduga, konflik bersenjata yang telah terjadi sejak akhir 2018 telah membuat banyak warga setempat mengungsi. Namun, proses pindahan membuat banyak anak berhenti sekolah. Semua anak-anak di daerah ‘panas’ kita akan kumpul di Keneyam, (ibukota Nduga) dan saya sudah koordinasi dengan Bappenas agar membangun asrama di sana dan kita tampung,” tambahnya.

Tidak hanya di Keneyam, Sohilait juga menyebutkan bahwa banyak warga Nduga yang sudah berpindah ke kabupaten sekitar, yaitu Lanny Jaya dan Jayawijaya. Nantinya setelah pendataan selesai dilakukan, Sohilait akan mengatur agar anak-anak yang berasal dari Nduga bisa bersekolah di dua kabupaten tersebut.

“Anak-anak di Wamena (Jayawijaya) dan Lanny Jaya, kita akan minta agar anak-anak tersebut bisa tersebar di sekolah yang ada di sana,” pungkasnya. (gr/ary)