Para dokter, perawat dan petugas kesehatan lainnya serta pegawai RSUD Biak Numfor ketika mengikuti peyampaian pernyataan sikap menyikapi kejadian pengoroyokan dr. Ricardo Mayor, Senin (17/6) kemarin. ( FOTO : Fiktor/Palembangan)

BIAK-Gabungan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Perawat Nasional (PPN) Cabang Kabupaten Biak Numfor mengecam keras tindakan pengeroyokan yang dilakukan oknum masyarakat terhadap Plt. Direktur RSUD Biak dr. Ricard Ricardo Mayor, M.Kes, Sabtu (15/6). 

Selain itu, mereka menyatakan mengutuk keras kejadian pengeroyokan yang menimpa dr. Ricard R Mayor itu dan menuntut supaya diusut tuntas.

Para tenaga medis meminta jaminan keamanan dalam menjalankan tugas. Pasalnya, kejadian kekerasan terhadap petugas kesehatan dalam menjalankan tugas kemanusiannya itu bukan baru pertama. Baik dalam bentuk penganiayaan maupun pengancaman yang dilakukan oleh oknum keluarga pasien dan oknum masyarakat lainnya. 

“Kami mengutuk keras kejadian yang menimpa Direktur RSUD Biak, dr. Ricardo Mayor. Kami meminta supaya kejadian seperti ini terakhir kali terjadi. Kami minta ada jaminan keselamatan dan keamanan yang jelas bagi semua tenaga dokter dan petugas kesehatan lainnya dalam menjankan tugas,” tegas Ketua IDI Kabupaten Biak Numfor, dr. Irwan Tansil, Sp.Rad membacakan pernyataan sikap di depan kurang lebih seratus petugas kesehatan, di RSUD Biak, Senin (17/6) kemarin. 

Selain itu, dia juga menegaskan bahwa IDI akan terus mendorong kasus pengeroyokan terhadap Plt. Direktur RSUD Biak supaya diproses hukum dengan tuntas. 

Hal tersebut, lanjut Ketua IDI, sebagai bentuk tindakan tegas dan efek jera bagi setiap oknum keluarga pasien yang melakukan tindakan main hakim sendiri. Pasalnya kalau dibiarkan maka kejadian seperti itu akan terulang dan membuat para tenaga medis tidak tenang dalam menjalankan tugas pelayannya kepada masyarakat.

“Kami akan mengawal proses hukum terhadap kasus ini dan minta supaya ada aturan jelas di daerah tentang jaminan keselamatan bagi dokter dalam menjalankan tugasnya,” tegas Irwan Tamsil didampingi dr. Ricardo Mayor, dr. Fajar, Sp.R dan dr. I Wayan Widana, Sp.B dan sejumlah dokter lainnya.

Hal yang hampir sama ditegaskan oleh Ketua PPN Kabupaten Biak Numfor, Marinus Kafiar, S.Kep.Ns.

Dalam pernyataan sikapnya, di depan puluhan perawat dan dokter serta pegawai RSUD Biak, dengan nada lantang menyampaikan bahwa PPN Kabupaten Biak Numfor mengutuk kejadian pengeroyokan terhadap Plt Direktur RSUD Biak. 

“Ini sudah sangat keterlaluan, Plt. Direktur RSUD Biak dikeroyok sampai babak belur. Kami mengutuk keras kejadian ini dan mendorong supaya diproses hukum. Kami akan mengawal kasus ini, kami minta supaya kejadian penganiayaan terhadap petugas kesehatan terakhir kali. Sebab jika ini terjadi, maka kami sudah menyatakan sikap bakal mogok kerja,” tegas Marinus Kafiar. 

Sementara itu, dr. Ricardo Mayor yang masih diperban kepalanya juga menyatakan akan tetap mendorong kasus itu untuk diproses sebagai bentuk efek jera. Dia khawatir, jika kasus pemukulan atau pengeroyokan terhadap petugas kesehatan kedepan masih terjadi akan berdampak pada pindahnya para dokter serta pelayanan kesehatan yang tidak maksimal kedepan 

“Saya kwatir, jika kejadian pemukulan atau pengeroyokan seperti ini terjadi banyak dokter yang akan pindah. Kami berharap kedepan, jika memang ada hal-hal yang kurang berkenan dikeluarga pasien supaya dibicarakan baik-baik, kami selalu berupaya memberikan yang terbaik namun jika ada  tidak puas saya kira itu manusiawi,” tandasnya. 

Menurutnya bahwa kejadian pengeroyokan terhadap dirinya berawal ketika dirinya akan memberikan penjelasan kepada keluarga korban yang menunggu dilakukan otopsi di kamar mayat.  

“Ketika saya ke kamar mayat mau memberikan penjelasan tentang otopsi yang agak terlambat karena masih menunggu surat pengantar permintaan dari polisi dan itu wajib  kami terima, dan kebetulan dokter forensic masih ditunggu. Nah di situ ada yang makan pinang lalu saya minta supaya tidak meludah sembarang, nah di situlah awal mulanya,” tuturnya. 

Lebih jauh dituturkan bahwa dia menegur  salah satu keluarga korban, namun tidak terima, dan marah. 

Larangan makan pinang di area RSUD Biak dan tidak merokok juga sudah diberlakukan dengan maksud untuk kebersihan di sekitar rumah sakit. Oleh karena itu, siapapun tidak diperbolehkan makan pinang karena terakhir akan ada ludah pinang.

“Nah di situlah awal mulanya saya dikeroyok. Ada yang menghantam dengan helm, memukul menggunakan doka, melempar batu, memukul dengan batu bata. Saya lari tapi tetap dikejar sampai terjatuh,” katanya. 

“Nah, mata saya merah dan sekitar mata lebam karena dipukul, kepala juga sobek. Bagian mulut saya juga luka dalam karena kena pukulan menggunakan doka. Jadi banyak yang kejar saya dan untung ada satu orang yang peleh. Saya juga sudah tidak tahu akan seperti apa kondisi saya saat itu ketika tidak ada yang peleh,” lanjut dr. Mayor.

Terkait dengan peristiwa itu, dr. Mayor berharap ke depan kejadian pemukulan atau penganiayaan petugas kesehatan di RSUD Biak tidak terjadi lagi. 

Pihaknya juga meminta supaya ada jaminan keamanan, termasuk berupa payung hukum terhadap semua petugas kesehatan yang menjalankan tugasnya di wilayah Kabupaten Biak Numfor. 

“Kami minta jaminan keamanan. Kami harapkan juga masyarakat Kabupaten Biak Numfor memahami tugas perawat dan dokter. Saya khawatir jika kejadian seperti ini berulang akan berdampak buruk terhadap pindahnya sejumlah dokter ke luar dari Biak,” pungkasnya.(itb/nat)