Sejumlah warga lokalisasi Yobar, Merauke saat menjalani rapid test antibodi, Senin (18/1). ( FOTO: Yulius Sulo/Cepos)

MERAUKE-Dari 40 penghuni lokalisasi Yobar  yang reaktif usai mengikuti rapid test antibodi pertama, sebanyak 19 orang dinyatakan reaktif setelah menjalani rapid test antibodi kedua. 

Mereka yang hasil rapid testnya masih reaktif, selanjutnya menjalani rapid test antigen, Selasa (19/1) kemarin. “Kalau kemarin  itu, setelah dilakukan rapid test kedua, ada 19  orang yang masih reaktif sehingga hari ini lanjut  mengikuti rapid test antigen di Rumah Sakit Angkatan Laut,” ungkap  Yuli, mantan Ketua RT 9  yang juga salah satu pengelola di Lokalisasi Yobar tersebut saat dihubungi Cenderawasih Pos  lewat telpon selulernya, Selasa (19/1).  

Dari hasil pemeriksaan itu, menurut Yuli, seluruhnya negatif. Artinya, tidak ada yang terpapar Covid. ‘’Ya, alhamdullillah semuanya negatif setelah dilakukan rapid  antigen,” tuturnya. 

Yuli sendiri  mendampingi 19  penghuni Lokalisasi Yobar yang mengikuti rapid  antigen tersebut. Karena  dia sendiri  saat rapid test pertama negatif. 

Secara terpisah, Kepala Pusat Kesehatan Reproduksi  (KPR) dr. Inge Selvi saat dikonfrmasi enggan memberi komentar  apalagi   terkait dengan   hasil rapid test tersebut. Sebab, menurut dia,  jika dirinya mempublis nantinya  akan sangat berpengaruh terhadap keberadaan dari para penghuni Yobar. “Kalau secara umum  saya bisa komentari, tapi kalau sudah menyangkut komunitas tidak. Kalau  dari pihak lain yang memberikan informasi silakan saja,’’ tandasnya.   

Diketahui sampai sekarang   lokalisasi Yobar tersebut  ditutup setelah 40 penghuni dari Yobar reaktif saat dilakukan rapid test antibodi  beberapa waktu lalu. Terkait dengan penutupan  itu, Kepala Satpol PP Kabupaten Merauke Elias  Refra, S.Sos, MM, dihubungi Cenderawasih Pos  mengungkapkan bahwa terkait dengan  penutupan sementara dengan ditemukannya adanya yang reaktif di tempat tersebut.

Pihaknya ikut melakukan pengawasan sehingga pengunjung  maupun  penghuni yang ada di dalam lokalisasi tersebut tidak melakukan aktivitas sesuai dengan profesi mereka. “Kita  tetap awasi mereka dalam rangka memutus mata rantai  penularan Covid-19,’’  kata Elias Refra. 

Namun lanjut  Refra,  pengawasan yang dilakukan dengan memantau situas di di tempat tersebut. “Ini kembali lagi pada kesadaran semua pihak. Baik  yang ada di dalam  lokalisasi Yobar maupun pengunjung untuk mematuhi protokol kesehatan. Tapi  untuk tempat seperti itu, protokol  kesehatan mungkin agak sulit  diterapkan oleh pengunjung dengan penghuni. Tetapi jika  ada yang ditemukan melanggar dari edaran PSBB pemerintah, kami akan memberikan sanksi yang tegas,” tutupnya. (ulo/nat)