Anak Usia 12-17 bisa Segera Divaksin 

JAYAPURA-Rencana pemerintah untuk memberikan vaksin Sinovac bagi anak usia 12-17 tahun setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan emergency use authorization (EUA) untuk penggunaan Vaksin Sinovac bagi anak usia 12 hingga 17 tahun, disikapi Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Papua.

Terkait dengan rencana vaksinasi untuk anak usia 12-17 tahun, Kepala  Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dr. Aaron Rumainum, M.Kes., mengatakan pihaknya masih menunggu lampu hijau dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Pasalnya, hingga saat ini Kemenkes menurut dr. Aaron Rumainum belum mengeluarkan petunjuk teknis (Juknis).

Selain itu, aplikasi vaksinasi yang digunakan saat ini menurutnya masih diperuntukan bagi warga usai 18 tahun ke atas. Sehingga warga yang berusia di bawah 18 tahun tidak terdata dalam aplikasi tersebut. Hal ini nantinya berpengaruh terhadap sertifikat bagi anak usia 12-17 tahun yang sudah divaksin. 

“Kami tinggal menunggu dari Kementerian. Sampai saat ini Kemenkes belum mengeluarkan Juknisnya. Kalau Juknis sudah dikeluarkan, vaksinasi untuk anak usia 12-17 langsung dilakukan,” jelas dr. Aaron Rumainum saat dihubungi Cenderawasih Pos via ponselnya, keamrin (29/6). 

Disinggung soal keamanaan penggunaan vaksin bagi anak usia 12-17 tahun, dr. Aron Rumainum menyebutkan bahwa vaksin yang digunakan untuk anak usia 12-17 tahun nanti yaitu vaksin Sinovac. Vaksin tersebut di[pastikan aman karena sudah diuji oleh BPOM dan juga oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia. 

“Vaksinnya sama dengan vaksin yang sudah kita suntikan baik untuk tenaga nakes, lansia maupun pelayan publik. Vaksinasi untuk anak bisa dilakukan dan bisa dipastikan aman bagi anak-anak, hanya saja untuk pelaksanaanya kapan belum bisa dipastikan,” tambahnya. 

Vaksin ini menurutnya sangat diwajibkan. Apa lagi tak lama lagi aktivitas sekolah sudah dimulai. “Jadi kalau tidak divaksin sebaiknya mengikuti pembelajaran dari rumah, namun ketika sudah divaksin bisa diperbolehkan sekolah,” pungkasnya. 

Sementara itu, BPOM Senin (28/6) memberikan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinik (PPUK) Ivermectin. Selain itu, BPOM juga memberikan izin penggunaan darurat vaksin Covid-19 dari Sinovac untuk anak usia 12 hingga 17 tahun. 

Invermictin di Indonesia digunakan sebagai obat infeksi kecacingan. Obat ini tergolong obat keras. Misalnya saat digunakan untuk infeksi kecacingan, hanya diberikan setahun sekali. Itu pun dengan jumlah yang sedikit. 

Pada masa Covid-19 ini, di beberapa negara menggunakan Ivermectin sebagai obat. Namun, BPOM tak mau gegabah. Untuk itu perlu adanya uji klinik. “Ada guideline dari WHO yang mengkaitkan treatment Covid-19. Ivermectin dapat digunakan sebagai kerangka uji klinik,” kata Kepala BPOM Penny K Lukito kemarin.

Dia menyatakan bahwa lembaganya mendukung uji klinik yang akan dilaksanakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan. Uji klinik dilakukan di delapan rumah sakit yang tersebar di Jakarta, Pontianak, dan Medan. “Jika masyarakat ingin mendapatkan obat ini dan tidak terlibat dalam uji klinik, maka dokter bisa memberikan sesuai protokol uji klinik,” katanya. Penny mengimbau kepada masyarakat agar tidak membeli obat ini secara bebas.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri BUMN Eric Tohir menyatakan bahwa adanya uji klinik ini merupakan upaya dalam mengatasi pandemi. “Dalam kondisi kritis seperti ini, yang perlu diperhatikan salah satunya adalah ketersediaan obat,” ungkapnya. Dia menyatakan bahwa dalam negeri siap memproduksi 4,5 juta.

BPOM juga telah menerbitkan emergency use authorization (EUA) untuk penggunaan Vaksin Sinovac bagi anak usia 12 hingga 17 tahun. Kabar itu disampaikan Presiden Joko Widodo kemarin. “Vaksinasi untuk anak-anak bisa segera dimulai,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Jokowi juga mengapresiasi tercapainya 1 juta vaksinasi. Kepala Negara menginginkan agar ketercapaian 1 juta ini dapat terus dilakukan dan jumlahnya dilipatgandakan. “Semua pihak harus tetap bekerja keras agar target 1 juta vaksin terjaga sampai akhir Juli dan dapat meningkat dua kali lipat pada Agustus,” ungkapnya. 

Sementara itu, jumlah kasus ibu hamil terkonfirmasi Covid-19 menunjukkan angka cukup tinggi. Dilaporkan, sekitar 35.099 orang terpapar. Sedangkan bayi baru lahir usia 0-12 bulan yang terkena Covid-19 sebanyak 24.591 anak. Melihat kondisi ini, pemerintah berencana segera melakukan vaksinasi untuk ibu hamil dan anak-anak. 

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengungkapkan, sejumlah rapat pun telah digelar untuk mematangkan rencana tersebut. saat ini pelaksanaannya tinggal menunggu rekomendasi BPOM terkait dosis penyuntikan. 

Untuk proses penyuntikannya sendiri, kata dia, bakal dipercayakan kepada para bidan di bawah pengawasan dokter setempat dan koordinasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Setidaknya ada sekitar 400 ribu bidan yang akan diberdayakan untuk optimalisasi vaksinasi ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak.”Tidak melulu harus melalui posyandu, tapi bisa home visit,” ujarnya. 

Muhadjir sendiri mengusulkan agar pengadaan vaksin difokuskan pada produksi vaksin nasional.Hal ini untuk mengantisipasi adanya tidak tergantung pada pasar internasional. Sebab, situasi pasar vaksin dunia saat ini memiliki ketidakpastian yang cukup tinggi. Sementara kasus Covid-19 terus mengalami peningkatan signifikan dengan hadirnya varian-varian baru yang konon lebih mudah menularkan. Karenanya ia mendorong percepatan penelitian vaksin Merah Putih. 

“Dari mereka yang sekarang sedang berinisiatif mana yang lebih cepat dan mana yang kira-kira lebih menjanjikan, itu yang segera kita support,” katanya. Ia meyakini apabila Indonesia bisa memproduksi secepatnya dari berbagai sumber, harapan Presiden Jokowi untuk mewujudkan Health Immunity di akhir tahun 2021 dapat lebih cepat terwujud.

Vaksinasi dinilai menjadi satu hal yang krusial untuk membuat Indonesia keluar dari Pandemi. Sebagaimana diketahui, beberapa negara yang prosentase populasi tervaksin-nya tinggi mulai bisa melakukan pelonggaran seperti Singapura, Israel, Amerika Serikat dan beberapa negara di Eropa. 

Guru Besar Fakultas Kedokteran UI Tjandra Yoga Aditama menyebut bahwa peningkatan vaksinasi adalah salah satu hal yang tidak bisa ditunda lagi. Memang mungkin dampaknya tidak akan mungkin langsung terlihat karena butuh waktu, tapi jelas vaksinasi memegang peran utama dalam pengendalian pandemi. 

Tjandra mencontohkan India yang meningkatkan vaksinasi hingga berlipat ganda saat tsunami gelombang ketiga menyerang. ”Sebagai ilustrasi saja, India sudah berhasil memvaksinasi 8 juta orang dalam satu hari,” jelasnya. 

Indonesia sendiri telah berhasil mencapai angka signifikan yakni 1,3 juta dosis vaksin per 27 Juni 2021. Meskipun kembali loyo ke angka 300 ribuan per kemarin (28/6). 

Namun Yoga tidak mau menyimpulkan bahwa ketercapaian her immunity dengan 75 persen populasi ter vaksin adalah indikasi aman untuk melonggarkan penggunaan masker dan kerumunan. Termasuk memperlakukan Covid-19 seperti flu biasa yang banyak diwacanakan seperti Singapura “Belum ada yang memperlakukan seperti Flu. Singapura baru mempersiapkan (prepare),” Katanya.  

Mantan Direktor WHO Asia Tenggara ini menambahkan bahwa masih perlu dilihat dahulu perkembangan penerapan konsep hidup bersama pandemic yang disiapkan oleh Singapura. 

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, vaksinasi menjadi salah satu upaya penting dalam mengurangi laju penyebaran virus sehingga mengurangi lonjakan kasus dan membawa keluar dari pandemi. “Salah satu strategi pemerintah adalah mengupayakan ketersediaan vaksin dan mempercepat program vaksinasi sehingga semakin banyak masyarakat terlindungi,” ujarnya. 

Menkes Budi juga memastikan, pemerintah juga terus mengupayakan ketersediaan vaksin baik lewat skema multilateral maupun bilateral demi mencukupi stok yang ada saat ini dan menjaga laju vaksinasi tetap tinggi di angka satu juta dosis per hari. “Dengan vaksinasi dan melaksanakan protokol kesehatan yang ketat, kita dapat keluar dari pandemi,” katanya. 

Data Kementerian Kesehatan, per tanggal 26 Juni, vaksinasi dosisi pertama telah dilakukan pada lebih dari 27 juta orang dan vaksinasi dosis kedua pada lebih dari 13 juta orang. (ana/nat/JPG)