Melihat dari Dekat Situs Megalitik Yo No’ong di Danau Sentani, Kabupaten Jayapura (Bag-2/Habis)

Penemuan batu megalitik di sekitar Danau Sentani, dapat mengungkap kehidupan nenek moyang masyarakat di sekitar danau. Bagaimana kehidupan masyarakat di sekitar Danau Sentani pada zaman prasejarah?

Laporan: Roberthus Yewen, Sentani

Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto, saat menunjukkan dokumen foto batu tegak atau batu menhir ketika berbincang-bincang dengan Cenderawasih Pos di ruang kerjanya, Senin (5/10). ( FOTO: Yewen/Cepos)

Danau Sentani di Kabupaten Jayapura ternyata menyimpan berbagai benda-benda peninggalan sejarah masa lalu. Benda-benda ini notabene  berbentuk batu yang berada di peraian Danau Sentani. 

Batu ini dianggap sebagai salah satu kepercayaan masa lalu yang dimiliki oleh masyarakat yang mendiami Danau Sentani. 

Ada berbagai bentuk bebatuan yang ditemukan di perairan Danau Sentani seperti batu menhir atau batu tegak yang terdapat ukiran. Batu menhir ini tertancap di dalam perairan Danau Sentani dan berada di Kampung Asei Distrik Sentani Timur. 

Selain itu, ada juga batu beranak yang terdiri dari 12 batu. Dimana 2 batu berukuran besar dan 10 batu berukuran kecil. Ada juga batu rezeki yang berada di Pulau Mantai Kampung Kwadiware, Distrik Waibu. 

Masyarakat di sekitar Kampung Kwadeware menganggap bahwa 2 batu berukuran besar ini merupakan bapak dan ibu. Sementara 10 batu berukuran kecil dianggap merupakan anak-anaknya. 

Dengan demikian, 2 batu berukuran besar itu adalah orang tua dari 10 batu yang berukuran kecil tersebut. Batu ini dianggap satu keluarga dan disebut sebagai batu beranak.

Sementara batu rezeki dianggap oleh masyarakat setempat bahwa dahulu sebelum masuknya agama batu ini dianggap membawa rezeki. Sebab sebelum berburu, mencari ikan di danau atau tokok sagu, masyarakat ke batu rezeki dan menaruh sesuatu, seperti pinang dan siri. Ini dilakukan agar saat mencari ikan atau berburu binatang atau menokok sagu bisa mendapatkan hasil yang memuaskan.

Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto mengatakan, dalam arkeologi batu-batu yang berada di sekitaran Danau Sentani ini disebutkan sebagai peninggalan megalitik. Dimana manusia mengenal budaya dengan kehadiran batu-batu besar yang ada di perairan Danau Sentani. 

Batu-batu ini dianggap sebagai media pemujaan, media penghubung dengan roh nenek moyang dahulu kala. “Kalau di Kampung Asei disebut batu menhir atau batu tegak yang ada ukirannya. Sementara di Pulau Montai disebut batu beranak dan batu tegak di Kampung Kwadeware,” ungkapnya kepada Cenderawasih Pos, Senin (5/10), . 

“Ada juga Papan Batu di pinggiran perairan Danau Sentani di Tanjung Warakho, Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu,”sambungnya. 

Batu-batu yang terdapat di perairan Danau Sentani di Pulau Montai Kampung Kwadeware dan Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu serta Kampung Asei Distrik Sentani Timur ini pada umumnya disebutkan sebagai batu menhir. Cuma bedanya batu yang ada di Kampung Asei merupakan batu yang ada ukirannya.

 Batu Menhir  ini juga seperti berbatuan di Tutari Kampung Doyo Lama, tetapi ada ukirannya. Ukiran yang ada di batu ini digunakan oleh para pelukis untuk melukis di kulit kayu.

Benda-benda prasejarah, terutama batu-batuan yang diukir dan memiliki nilai sejarah bagi masyarakat di wilayah perairan Danau Sentani tentu menjadi salah satu destinasi wisata yang cukup menjanjikan, jika dikelola secara baik oleh pemerintah dan masyarakat setempat. 

Apalagi Bandara Sentani berada tak jauh dari benda-benda sejarah yang dimiliki oleh masyarakat setempat. Ini tentunya menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap orang yang datang ke Papua melalui Bandara Sentani.

Selaku Peneliti Arkeologi Papua, Hari Suroto sendiri kuatir dengan dengan adanya pergeseran atau hanyutnya batu-batuan yang menjadi benda-benda sejarah di Danau Sentani  pasca banjir bandang tahun 2019 di Sentani. Namun ternyata posisinya tidak berubah. Karena setelah air surut di Danau Sentani kondisi batu tersebut masih tetap dalam posisi yang semula di perairan Danau Sentani. 

Waktu air naik setelah banjir bandang, batu beranak, batu rezeki, dan batu menhir atau batu tegak tidak bisa terlihat secara langsung. Tetapi setelah air danau surut batunya bisa terlihat dengan jelas. Bahkan bisa dilihat dengan jelas bekas air di batu ketika air danau surut. 

Budaya ini sebenarnya berkembang setelah masa akhir bercocok tanam. Istilahnya sejak dulu manusia sudah mulai tinggal menetap, bercocok tanam, dan mengenal batu-batuan. Untuk Arkeologi sendiri berbicara harus berdasarkan hasil laboratorium dan dianalisi setelah itulah baru diketahui umur dari benda-benda prasejarah tersebut.

“Di Sentani kami baru ambil satu sampel di Situs Yomokho di sebelah Khalote Distrik Sentani Timur. Kami gali di situ dan dapat arangnya. Setelah dibawa ke laboratorium dan dapat usianya sekira 2.590 tahun yang lalu. Ini orang bilang 500 tahun yang lalu sebelum Yesus lahir itu orang sudah ada di Danau Sentani,” ujarnya. 

Hari Suroto memberikan contoh bahwa batu menhir atau batu tegak dengan ukiran di Kampung Asei merupakan salah satu benda yang dihasilkan oleh masyarakat yang sudah menetap. Sehingga tidak mungkin oleh masyarakat yang berburu dengan pola berpindah-pindah. Apalagi berburu selalu mengikuti pergerakan hewan. 

Kalau dilihat dari ukiran batu menhir di Kampung Asei sebenarnya masyarakat sudah tinggal dan membuat perkampungan. Misalnya ada sebuah rumah besar yang di dalamnya terdapat beberapa orang. Jika dilihat, ini merupakan budaya manusia yang sudah menetap dan bercocok tanam. 

Hal ini bisa dilihat dari ukiran batu yang berada di Kampung Asei Distrik Sentani Timur Kabupaten Jayapura.

Diharapkan benda-benda berbatuan yang memiliki nilai-nilai prasejarah di perairan Danau Sentani. Terutama yang berada di Kampung Asei Distrik Sentani Timur, di perairan Danau Sentani di Pulau Mantai Kampung Kwadeware dan yang berada di pinggiran Danau Sentani di Kampung Doyo Lama serta situs-situs prasejarah lainnya seperti Situs Yomokho di Khalhote Distrik Sentani Timur dan Situs Megalitik Tutari di Kampung Doyo Lama. Serta benda-benda prasejarah lainnya dapat dikelola secara baik, sehingga dapat menarik para pengunjung, terutama wisatawan yang ada di dalam negeri maupun luar negeri ke Danau Sentani.

“Kalau benda-benda prasejarah dan situs-situs bersejarah ini dikelola secara baik oleh pemerintah dan masyarakat setempat, maka tentu akan memberikan dampak secara ekonomi bagi masyarakat setempat,” harapnya. ***