Melihat Cara Pembuatan Gerabah atauSempe di Kampung Abar, Distrik Ebungfau Kabupaten Jayapura (Bag-2/Habis)

Di Kampung Abar terdapat tradisi makan papeda di gerabah. Bahkan tradisi ini sejak tahun 2019  menjadi sebuah event festival. Seperti apa tradisi makan papeda di gerabah tersebut ?   

Laporan: Roberthus Yewen

GERABAH yang dibuat oleh Mama-mama di Kampung Abar, Distrik Ebungfau, Kabuapaten Jayapura memiliki banyak fungsi. Salah satunya digunakan untuk memutar atau membuat papeda. 

Peneliti Arkeologi Papua, Hari Suroto, saat memperlihatkan gerabah yang dibuat dengan motif Megalitik Tutari yang dibuat oleh mama Barbalina Ekbalkoi di dalam rumahnya di Kampung Abar Distrik Ebungfau Kabupaten Jayapura, Sabtu (10/10). ( FOTO: Yewen/Cepos)

Bahkan ada sebuah tradisi masyarakat di Kampung Abar yang hingga saat ini masih terus diperlihara oleh warga kampung yaitu tradisi makan papeda di gerabah atau sampe. Pesta makan papeda di gerabah ini, mulai tahun 2019 menjadi sebuah event festival yang diberi nama Festival Helay Mbay Hote Mbay.

Sebelum Festival Helay Mbay Hote Mbay digelar  tahun 2019, tahun 2018 digelar pesta makan papaeda dalam gerabah yang mengangkat tema tentang Helay Mbay Hote Mbay. Dari pesta ini, September 2019 akhirnya diputuskan untuk menggelar Festival Helay Mbay Hote Mbay. Festival ini akan digelar setiap tanggal 28-29 September.

Festival Helay Mbay Hote Mbay yang digelar tahun 2019 berlangsung cukup meriah. Pasalnya, festival ini dihadiri warga dari berbagai daerah. bahkan sejumlah wisatawan domestik dan manca negara hadir dalam festival tersebut. 

Namun sayang, karena adanya pandemi Covid-19 festival untuk tahun ini tidak gelar. Rencana, apabila pandemi Covid-19 ini berakhir maka Festival Helay Mbay Hote Mbay akan kembali digelar tahun 2021. 

Nama Helay Mbay Hote Mbay diambil dari bahasa Sentani yang artinya makan Papeda di dalam satu gerabah dan satu piring ikan. Jika diterjemahkan sebenarnya adalah makan di satu gerabah atau sempe dan ambil ikan dari satu piring. Nama ini juga memiliki nilai filosofi bagi masyarakat Sentani, terutama yang berada di Kampung Ambar.

“Ketika kita makan papeda di satu gerabah atau sempe dan ikan di satu gerabah secara bersama-sama. Ini mengambarkan hubungan kekeluargaan dan kekerabatan terjalin dengan baik,” ucap Kepala Suku Kampung Abar, Naftali Felle kepada Cenderawasih Pos, Sabtu (10/10) lalu. 

Adapun gerabah yang sudah jadi akan digunakan untuk masak ikan, putar papeda, dan kegunaan lainnya sesuai dengan jenis gerabah yang dibuat tersebut. 

Saat Cenderawasih Pos bersama tim dari Balai Arkeologi Papua bersama beberapa dosen dan mahasiswa dari Institut Kesenian dan Budaya (ISBI) Papua bersama serta seorang mahasiswa Jurusan Sosiologi Program Studi Kesejahteraan Sosial Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura melihat proses pembuatan gerabah, Mama Barbarina salah seorang pengrajin gerabah langsung memasak ikan mujair menggunakan gerabah buatannya. 

Ikan mujair yang dimasak Mama Barbarina dengan daun bete atau keladi. Bumbu yang digunakan hanya garam. Masakan ini merupakan masakan alami yang sudah ada sejak dahulu sampai sekarang. 

Setelah itu, Mama Barbarina kemudian memutar papeda di gerabah yang sedang dan gerabah yang kecil. Papeda yang diputar kemudian disajikan di dapur yang berhadapan langsung dengan Danau Sentani. Hari terasa panas dan perut mulai tak tahan lapar ketika papeda bersama ikan mujair berada di depan mata. 

Secara adat Sentani, papeda yang diputar dalam gerabah kecil dan gerabah yang besar harus dimakan secara bersama-sama  dalam kelompok yang disesuaikan dengan besar dan kecilnya gerabah tersebut. 

Jika papeda yang disajikan di gerabah berukuran kecil, maka orang yang akan makan hanya berjumlah kurang lebih 3-4 orang dalam satu kelompok. Jika papeda disajikan dalam gerabah yang berukuran sedang, maka orang yang makan bisa berjumlah kurang lebih 6-7 orang dalam satu kelompok. 

“Harus duduk berkelompok dan harus makan sampai selesai dan tidak boleh ada papeda yang sisa di dalam gerabah,” ucap Mama Barbarina sambil mempersilakan rombongan untuk makan.

Satu per satu dari rombongan kemudian mengambil piring dan sendok yang telah disediakan kemudian mulai menyantap papeda dan ikan mujair yang telah disajikan oleh mama Barbarina. 

Ada 3 orang dari rombongan menikmati papeda di gerabah yang berukuran kecil bersama ikan mujair yang dimasak menggunakan sayur bete. Sedangkan 6 orang rombongan lainnya menikmati papeda di gerabah berukuran sedang  dan ikan mujair kuah kuning.

Salah seorang anggota rombongan yang merupakan mahasiswa Jurusan Sosiologi Program Studi Kesejahteraan Sosial Uncen, Gelda Asrouw mengungkapkan bahwa ikan mujair yang dimasak menggunakan gerabah dengan daun bete tanpa bumbu apapun sungguh enak. Bahkan menurutnya berbeda dengan ikan yang dimasak menggunakan bumbu.

Mahasiswi semester 7 ini mengakui kalau ikan mujair yang dimasak hanya menggunakan daun bete dan garam ini jauh lebih enak dari pada ikan kuah kuning yang dimasak menggunakan bumbu pada umumnya.

“Ini enak sekali dan baru pertama kali saya makan ikan mujair yang dimasak langsung menggunakan gerabah hanya menggunakan daun bete dan garam,” ungkapnya sambil menghabiskan papeda dan ikan yang masih di dalam piringnya.

Usai menikmati papeda dan ikan mujair, rombongan juga disuguhkan pinang dan sirih yang telah disiapkan oleh Mama Barbarina di dalam gerabah. Sesuai dengan tradisi orang Sentani bahwa selesai makan papeda dan ikan di gerabah, maka selanjutnya mencuci mulut dengan cara makan pinang, sirih dan kapur. 

“Semua rombongan harus makan pinang, sirih dan kapur,” pinta Mama Barbarina sembari mempersilakan semua rombongan untuk makan pinang. 

Ada beberapa rombongan yang sudah terbiasa makanan pinang, sirih dan kapur, tetapi ada beberapa yang belum pernah merasakan pinang, sirih dan kapur. Namun karena sesuai tradisi, maka semuanya berhasil makan pinang, sirih dan kapur. Meskipun dari beberapa terlihat belum sempurna mengunyah pinang, sirih dan kapur, tetapi setidaknya mereka telah mencoba untuk memakannya.

Tidak lama kemudian, panas di langit Kampung Abar berubah menjadi mendung dan awan hitam dan hujan teras terlihat dari bagian Sentani barat menuju ke wilayah Sentani tengah. Hujan deras disertai kilat kemudian turun dan membasahi seluruh wilayah Danau Sentani selama kurang lebih 30 menit. 

Sambil menunggu hujan reda dan berhenti, rombongan kemudian berbincang-bincang dengan Mama Barbarina dan kepala suku Kampung Abar, Naftali Felle di dalam rumah sambil menikmati teh panas yang telah tersedia. Cerita dalam suasana kekeluargaan terasa di dalam rumah. Sambil sesekali tertawa. “Ayo hujan sudah berhenti kita harus kembali,” kata Peneliti Arkeologi Papua, Hari Suroto kepada rombongan. 

Sebelum bergegas meninggalkan rumah milik Mama Barbarina, rombongan membeli gerabah yang telah disediakan oleh mama Barbarina dengan berbagai motif, terutama motif Tutari. Gerabah ukuran kecil di jual dengan harga 100 ribu per buah. 

Hampir semua rombongan membawa 1 buah gerabah sebagai oleh-oleh dari Kampung Abar. Gerabah yang dibuat dengan motif Tutari ini sebenarnya telah dipesan sebelumnya oleh Hari Suroto selaku peneliti Balai Arkeologi Papua.  

Menurut Hari Suroto ini merupakan bagian dari mempromosikan gerabah bermotif Tutari kepada masyarakat melalui ekonomi kreatif. Sehingga kedepan gerabah ini menjadi sumber pendapatan utama bagi warga masyarakat di Kampung Abar, terutama dalam rangka meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di kampung tersebut.

“Kami harapkan dengan pembuatan gerabah bermotif situs Tutari ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di Kampung Abar,” harapnya.

Tak terasa hari mulai sore dan jarum jam terlihat sudah pukul 15.30 WIT. Rombongan bersama dua orang ibu guru dan salah satu ibu pendeta yang kemudian menumpang di perahu motor yang dibawa oleh Kepala Suku Kampung Abar, Naftali Felle  bertolak dari Dermaga Abar menuju kembali ke Dermaga Yahim. ***