Kisah Emmanuella Tanzil yang Mencari Orang Tua Kandungnya

Emmanuella Tanzil yang berusaha mencari informasi keberadaan orang tua kandungnya di Sleman melalui medsos.

Perempuan kelahiran 9 September 1985, Emmanuella Tanzil, masih mengusahakan mencari dan menemukan orang tua kandungnya. Sejak Mei 1986, Emmanuella sudah diadopsi dan dibawa ke Jakarta oleh orang tua angkatnya.

SEVTIA EKA NOVARITA, Sleman, Radar Jogja

Kecurigaan Emmanuella bukanlah anak kandung orang tuanya, bermula saat ia duduk di bangku sekolah dasar (SD). Salah seorang teman menyebut Emmanuella tidak mirip dengan kedua orang tuanya. Memasuki bangku sekolah menengah pertama (SMP), ia tidak pernah menemukan foto ibunya yang sedang mengandungnya. Hingga setelah menikah, ia mulai memberanikan diri untuk bertanya kepada orang tuanya terkait masa lalunya.

Emmanuella juga didukung oleh dua anaknya yang kerap menanyakan perkembangan pencarian. Tepat September lalu, ia mengutarakan ingin mencari orang tua kandungnya. Dari obrolan bersama ibunya, Emmanuella mengetahui nama kecilnya adalah Theresia. “Sempat mengunjungi saya di Liverpool pada 2015 dan 2017, namun baru September terbuka dengan Mami (panggilan Emmanuella untuk ibu angkatnya, Red),” kata Emmanuella.

Selain nama kecil yang diketahuinya, informasi lain yang dikantongi Emmanuella adalah saudara yang ada di Jogjakarta. Saudaranya itu sebelumnya yang mengantar orang tua angkatnya ke RS Pura Ibunda di Samirono, Caturtunggal, Depok, Sleman. Hanya saja, RS itu telah tutup permanen dan berganti menjadi RS bedah urologi bernama  An Nur.  “Tapi tante juga tidak ada info lainnya,” lanjutnya.

Dibantu saudara dan anaknya, Emmanuella akhirnya mendapatkan kontak dokter Lukas. Pemilik RS Pura Ibunda pada masa itu. Hanya saja, RS yang sudah tutup membuat data-data tidak lagi tersimpan. Dari dr. Lukas, Emmanuella disarankan untuk bertanya kepada pengelola yayasan adopsi. Kebetulan, pengelola yayasan adalah adik dari Lukas.

Usai menghubungi yayasan pada pertengahan Oktober lalu, Emmanuella masih belum melihat titik terang. “Jawabannya kurang jelas, seperti mengelak pertanyaan saya. Yayasan usul untuk melihat masa depan, tidak melihat ke belakang,” ungkap perempuan empat anak ini.

Tidak hanya itu, Emmanuella juga sudah mencari identitas orang tuanya melalui Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Sleman. Namun, hasilnya nihil. Tidak berhenti, ia terus melakukan pencarian orang tua kandungnya melalui media sosial hingga viral. Menyebutkan tanda lahir di punggung kiri berbentuk oval berukuran 5 sentimeter, Emmanuella berharap warganet di Instagram dan Twitter bisa membantunya.

Angin segar mulai dirasakan Emmanuella dari Dinas Sosial (Dinsos) Sleman yang akan membantunya. Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Sleman Wisnu Wardoyo menuturkan, pihaknya telah menelusuri sejarah adopsi Emmanuella. Hanya saja, proses itu masih sampai pada diketahuinya siapa yang menyerahkan Emmanuella. “Kalau orang tua kandungnya masih dalam proses penelusuran,” kata Wisnu.

Wisnu mengakui, proses pencarian tidaklah mudah. Mengingat proses adopsi di masa lalu memiliki kebijakan berbeda dengan masa sekarang. Saat itu adopsi bisa diserahkan secara langsung, sehingga membuat arsip tentang Emmanuella menjadi terkendala. Sedangkan saat ini, adopsi yang diatur di Indonesia dibagi menjadi dua jenis. Yakni adopsi privat dan kelembagaan. “Dulu, adopsi bisa dirahasiakan nama orang tua kandungnya. Tapi saat ini tidak boleh. Jika akan adopsi, orang tua kandung dan orang tua asuh harus ketemu,” tambahnya.

Optimistis, Emmanuella yakin orang tua kandungnya berada di Sleman dan masih hidup. Jika nantinya ditemukan orang tua kandungnya, ia tidak segan untuk terbang dari Liverpool ke Sleman. Jika berhasil ditemukan, Emmanuella akan tetap tinggal di Inggris. Jika bisa, ia akan mengajak orang tuanya tinggal bersama di Liverpool. (laz)