POLICE LINE- Anggota Satuan Unit Reskrim Polsek Sentani Kota saat melakukan police line dan olah TKP, terkait penemuan sesosok mayat di pinggir Danau Sentani, Kompleks Ariyauw Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Sabtu (9/11). ( FOTO : Yewen/Cepos)

SENTANI- Warga di Kompleks Ariyauw, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Sabtu (9/11), digegerkan dengan penemuan sesosok mayat laki-laki bernama Mellianus Deda (50), warga Perumahan Aila Permai dalam keadaan terapung di pinggir Danau Sentani. 

Kapolres Jayapura, AKBP Victor Dean Mackbon, melalui Kapolsek Sentani Kota, AKP Lintong Simanjuntak saat dikonfirmasi membenarkan bahwa telah ditemukan sesosok mayat laki-laki oleh warga di pinggir Danau Sentani, Kompleks Ariyauw Distrik Sentani dalam kondisi terapung.

“Benar kami mendapatkan laporan dari warga bahwa telah ditemukan mayat laki-laki di pinggir Danau Sentani, Kompleks Ariyauw Sentani, sehingga kami langsung ke TKP dan memastikan bahwa memang benar ada penemuan mayat,” jelasnya saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Sabtu (9/11).

Kata Lintong, setelah pihaknya tiba di TKP, jenazah korban sudah diangkat dan dipindahkan oleh pihak keluarga ke rumah korban yang tak jauh dari TKP. Setelah itu, pihak kepolisian kemudian mengambil keterangan dari para saksi-saksi, untuk mengetahui penyebab kematian korban.

Dari keterangan saksi bahwa dirinya melihat korban berdiri sendiri di pinggir Danau Sentani pada Jumat (8/11). Kemudian korban memarahi saksi menggunakan bahasa Sentani. Selanjutnya saksi meninggalkan korban. Berselang 30 menit datang lagi saksi yang berikutnya dan melihat korban sedang berdiri di pinggir danau.

“Nanti pada Sabtu (9/11) sekitar pukul 10.00 WIT, sekelompok pemuda hendak turun menyeberang ke danau untuk mencari keong dan menemukan mayat korban sudah terapung di pinggir danau Sentani,” jelasnya.

Dia menyatakan, pihaknya sudah mengamankan lokasi TKP dengan membuat police line dan mencari barang bukti (BB) di sekitar lokasi dan juga melakukan olah TKP. Dari hasil olah TKP, pihak kepolisian tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan di tubuh korban.

“Keluarga telah menerima kematian korban dengan ikhlas dan keluarga menolak untuk dilakukan otopsi, sehingga kami buatkan surat penolakan untuk dilakukan otopsi. Korban sendiri telah dibawah oleh keluarga ke kampung halamannya di Ayapo untuk dimakamkan,”ujarnya. (bet/tho).