TANDATANGAN: Bupati Puncak Papua Willem Wandik, SE., M.Si., saat menandatangani hasil pengumuman seleksi CPNS formasi 2018 di kantor Bupati Puncak di Ilaga, Senin (21/9). ( FOTO: Diskominfo Kabupaten Puncak for Cepos)

ILAGA-Janji Bupati Puncak, Willem Wandik dan Wakil Bupati Pelinus Balinal, untuk memperjuangkan nasib orang asli Papua (OAP)  asal Kabupaten Puncak, dalam penerimaan CPNS formasi 2018, akhirnya terbukti. 

Dimana dari 409 formasi yang dibuka, berdasarkan hasil seleksi yang diumumkan, Senin (21/9) kemarin, 409 formasi yang disediakan diisi 100 persen oleh anak-anak asli Kabupaten Puncak.

Hal ini terungkap saat Bupati Puncak Willem Wandik memimpin apel sekaligus pengumuman hasil seleksi CPNS formasi tahun 2018 di halaman kantor Bupati Puncak, kemarin. 

Hasil seleksi CPNS Kabupaten Puncak formasi 2018 ini juga diumumkan di Harian Cenderawasih Pos terbitan hari ini (22/9). 

“Kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada BKPSDM (Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia) Kabupaten Puncak, karena ternyata saat pengumuman kali ini, hasil tes semuanya 100 persen anak asli Papua. Saya sudah baca nama-nama dari awal sampai terakhir, semua anak-anak asli Kabupaten Puncak. Tidak ada dari luar Kabupaten Puncak. Ini membuktikan keperpihakan kita kepada orang asli Papua,” ungkap Bupati Willem Wandik. 

Berdasarkan laporan yang dirinya terima dari BKPSDM,  dari 800 peserta tes CPNS formasi 2018, pesertanya semua anak asli Kabupaten Puncak. Tidak ada yang dari luar Papua. 

Seleksi yang dilakukan menurut Willem Wandik juga dilakukan secara online dan transparan. Bahkan hasil nilai setiap peserta ditunjukkan dan tidak ada intervensi dari pejabat. Termasuk dari bupati dan wakil bupati.

Bahkan  semua nama-nama peserta tes juga ditempel secara transparan. Ini membuktikan bahwa hasil pengumuman CPNS 2018, sudah sesuai dengan aspirasi masyarakat Papua asal Kabupaten Puncak, sehingga tidak boleh lagi ada penolakan terhadap hasil ini.

“Tes CPNS 2028, kita tidak buka tes untuk umum. Murni 100 persen anak asli Kabupaten Puncak. Mereka sendiri yang ikut tes, lihat nilai sendiri dan mereka sendiri yang tentukan. Ini murni kerja dari para pencaker anak asli Pancak yang ikut tes. Apapapun hasilnya diterima, tidak boleh lagi ada keributan atau kenapa dan kenapa. Tanya pada dirimu sendiri,”tambahnya.

Lanjut Willem Wandik, hasil ini bukan berarti ada diskriminasi. Namun ini merupakan langkah afirmasi secara positif bagi anak asli Papua. Karena sejauh ini untuk bidang lain, nampaknya masih membutuhkan proses. Sementara banyak anak asli Papua yang sudah menyelesaikan kuliah, namun tidak terserap di lapangan kerja. Sehingga kesempatan untuk menjadi PNS, hanya bisa dilakukan melalui cara-cara seperti ini.

“Penerimaan-penerimaan yang dahulu, sudah banyak kita berikan kesempatan kepada saudara-saudara kita dari luar Puncak. Kesempatan seperti ini, tidak salahnya kita berikan kesempatan buat adik-adik kita yang sudah sarjana, yang menganggur ini. Tidak mungkin mereka pegawai di luar Kabupaten Puncak atau Papua. Kesempatan mereka jadi PNS hanya di daerah mereka sendiri. Artinya ini bagian dari diskriminasi positif bagi orang asli Papua,” tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati Willem Wandik meminta kepada para pencakar yang lain, terutama honorer baik anak asli maupun non Papua yang namanya belum tembus karena tidak mengikuti tes. Dirinya meminta untuk bersabar. Sebab nama mereka sudah didatakan, terutama tenaga guru dan kesehatan.  Mereka akan diakomodir pada penerimaan berikut dengan kuota 20 persen.

“Penerimaan berikut, sudah pasti 80 persen anak asli dan 20 persen non Papua. Khusus untuk non Papua, kita akan akomodir tenaga guru dan kesehatan. Terutama saudara-saudara kita yang sudah mengabdi hampir tujuh sampai delapan tahun ke atas. Mereka sudah pasti akan kita terima,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala BKPSDM Kabupaten Puncak, Elkana Waropen, SE., menjelaskan peserta tes online 2018 semuanya anak asli Kabupaten Puncak yang berjumlah 800 lebih orang. 

Elkana menyebutkan nama peserta yang tes dan tidak ikut tes, semua ditempel secara terbuka, sehingga tidak ada permainan di dalam.

“Sementara khusus untuk tenaga honorer K2 atau di luar K2, kita sementara data. Direncanakan minggu ketiga Oktober akan ada informasi soal nasib mereka,” tuturnya.

Untuk para peserta tes CPNS yang sudah lulus, Elnaka mengatakan sesuai dengan petunjuk bupati, akan dibuka lokasi pemberkasan di Kabupaten Timika, Jayapura dan Nabire. Hal ini, dilakukan agar tidak semua peserta yang lulus berbondong-bondong naik ke Ilaga.

Bupati menurut Elkana memperhatikan pendemi Corona makin tinggi di Papua, sehingga membatasi warga masuk Ilaga. Hal ini dilakukan untuk membatasi penyebaran virus Corona atau Covid-19 di Kabupaten Puncak.(Diskominfo Puncak dan BKSDM Puncak/nat)