JAYAPURA-Teror penembakan masih terjadi di Distrik Wandai, Kabupaten Intan Jaya. Seorang warga asli setempat yang diketahui bernama Yunus Sani (40), dilaporkan ditembak lalu dimutilasi. Dimana pelakunya diduga oleh kelompok bersenjata.

Dari data yang diterima Cenderawasih Pos, menyebutkan penembakan disertai dengan mutilasi yang dialami Yunus Sani terjadi Jumat (29/5) di Kampung Megataga, Distrik Wandai, Kabupaten Intan Jaya.

Kejadian bermula ketika  salah satu Pastor Gereja bernama Niko Wakey mengantar anaknya dari Enarotali. Saat kembali ke Kampung Mbegulo. Di tengah perjalanan di Kampung Megataga Distrik Wandai, Niko Wakey mendengar bunyi tembakan kurang lebih sebanyak 8 kali.

Setelah bunyi tembakan reda, sekelompok orang turun dari Kampung Magataga lalu menghampiri Niko Wakey, dengan menyampaikan telah membunuh Yunus Sani dan jenazahnya  telah dibungkus dengan karung.

Tokoh Gereja Katolik Dekenat Moni Intan Jaya, Pater Yan Yogi  mengecam rentetan peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini di Intan Jaya. Dimana sebelumnya gugurnya seorang tenaga medis akibat ditembak lalu menyusul lagi meninggalnya Yunus Sani.

Menurutnya, generasi Moni dengan cara dibunuh dan buang. Sedangkan suku Moni kalau dihitung dengan suku lain maka suku Moni paling sedikit jumlahnya.

“Suasana yang memanas saat ini entah siapa yang fasilitasi. Siapa yang bermain didalamnya  kami tidak tahu. Yang jelas, siapa dia yang menjadi Yudas, menjadi Simon atau Petrus merekalah yang mempunyai kerajaan di surga,” ucap Pater Yan.

Iapun berpesan agar para intelektual yakni anak-anak Moni bergabung untuk bersama-sama melacak siapa di belakang layar itu. Serta memberikan pemahaman kepada adik-adik lainnya yang menjadi Yudas di atas tanah Moni itu sendiri.

“Kalau kita membiarkan begitu saja, pasti kita akan habis di atas tanah kita sendiri. Juga Gereja pesan pemerintahan berkantor di Intan Jaya jangan alasan karena Corona,” tegasnya.

Sementara itu, Pastor Yustinus Rahangiar dari Paroki Birogay

saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos menyampaikan, korban merupakan orang Moni. Dimana saat itu korban baru kembali dari Timika mencari pekerjaan. Karena belum mendapat pekerjaan, maka yang bersangkutan jalan kaki dari Timika ke Paniai lalu kemudian lanjut ke Intan Jaya.

“Korban dikira mata-mata dan jenazahnya sudah dimakamkan di Kampung halamannya di Kampung Mamba, Distrik Sugapa pada Minggu (31/5),” ucap Pastor Yustinus melalui telepon selulernya, Senin (1/6).

Dampak dari kejadian ini lanjut Pastor Yustinus, otomatis membuat kekhawatiran bagi petugas medis dan guru jika ditugaskan di Intan Jaya. Apalagi dengan beberapa rentetan peristiwa yang terjadi.

“Ini menyuburkan konflik interen di kalangan masyarakat, antara satu keluarga dengan keluarga yang lain. Saling mencurigai di tingkat masyarakat hingga adanya saling ketakutan diantara mereka,” terangnya.

Seharusnya lanjut Pastor Yustinus, hal-hal seperti ini harus disudahi dan pemerintah harus pro aktif untuk menanggulangi ini. Karena ini berkaitan juga dengan pembangunan selanjutnya di tanah Papua.

Secara terpisah, Jubir TPNPB-OPM Sebby Sambom menyatakan, kejadian yang terjadi di Intan Jaya tidak benar dilakukan oleh TPNPB-OPM. Ia justru menyebut itu adalah propaganda atau adu domba yang dilakukan oleh TNI-Polri.

“Sampai saat ini, tidak ada bukti atas fitnah oleh TNI-Polri terhadap TPNPB,” ucap Sebby kepada Cenderawasih Pos, Senin (1/6).

Lanjut Sebby, terkait siapa pelakunya harus buktikan di depan hukum. Jika tidak, maka TNI- Polri hanya melakukan fitnah melalui propaganda di media.

“Orang asli Papua yang sering difitnah oleh TNI-Polri atau kata lain sreing disebut milisi barisan merah putih  bentukan TNI-Polri di Papua seperti East Timor dulu, jadi itu sedang terjadi di Papua,” tegasnya.

Sebelumnya, pada Jumat (22/5), terjadi penembakan terhadap dua tenaga medis yang tergabung dalam tim gugus tugas Covid-19, dimana keduanya ditembak di Distrik Wandai, Kabupaten Intan Jaya.

Penembakan tersebut menyebabkan Heniko Somou, pegawai Kesehatan Kabupaten Intan Jaya meninggal dunia dengan luka tembak di bagian paha. Sementara rekannya Almelek Bagau yang juga Pegawai Kesehatan Kabupaten Intan Jaya tertembak di bagian kaki dan mendapatkan perawatan medis di rumah sakit.

Adapun penembakan dua tenaga medis di distrik Wandai Kabupaten Intan Jaya yaitu, Heniko Somou dan Almalek Bagau masih menuai kecaman. Salah satunya dari  akademisi Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Marinus Yaung.

Marinus Yaung berpendapat bahwa dalam konflik, seharusnya kelompok kesehatan, para guru maupun missionaris tidak disentuh dalam kemelut kepentingan tersebut. Namun karena sudah terjadi sehingga dikatakan perlu ada pihak yang bertanggung jawab. 

 Marinus menganalisa dan menarik kesimpulan bahwa pelaku penembakan bukanlah dari kelompok TNI-Polri  ataupun kelompok TPNPB  pimpinan Daminanus Yogi dan Otto Yogi, melainkan kelompok Lekagak Telenggeng. “Saya mencari beberapa sumber informasi untuk memastikan ini dan melihat story yang pernah ada, akhirnya saya berani menyimpulkan demikian. Pelaku berasal dari kelompok Lekagak Telenggeng,” bebernya, Sabtu (30/5). 

Catatannya, lokasi Wandai merupakan lokasi pertemuan sekaligus persinggahan kekuatan militer tiga kelompok TPNPB. Pertama kelompok Lekagak Telenggeng dalam dua tahun terakhir ini yang selalu melakukan penembakkan. Meski demikian wilayah Intan Jaya masuk dalam daerah operasi kelompok Egianus Kogeya di Nduga dan kelompok Daminanus Yogi dan Otto Yogi di Paniai. Tapi dikatakan baik kelompok Egianus dan Damianus Yogi serta Otto Yogi sudah lama tidak beroperasi di lokasi ini dan yang aktif melakukan serangan sporadis di Intan Jaya hingga kini adalah kelompok Lakagak Telenggeng. 

 “Jadi  jangan berdalih atau melempar tuduhan bahwa pihak TNI dan Polri yang menembak untuk menutupi kesalahan. Alasan saya menyimpulkan kelompok Lekagak Telenggeng yang menembak karena mereka saat ini memiliki konflik kepentingan dengan kelompok TPNPB Paniai Daminanus dan Otto Yogi,”  kata Yaung. 

Kelompok OPM Paniai menurutnya menolak kepemimpinan Lekagak Telenggeng dan tidak mau tunduk dibawah komandonya. “Ada memang sejarah konflik kepentingan diantara almarhum Tadius Yogi dengan Goliat Tabuni yang menjadi riset saya di Universitas Padjajaran Bandung sekarang. Karena itu, kalau ada orang Mee yang coba melarang atau menghalangi aktivitas TPN OPM dari kelompok Laa Pago, maka dia bisa dijadikan target penembakan. Inilah salah satu titik kelemahan kekuatan militer OPM,” bebernya. 

Iapun menyarankan agar TPN-OPM baik yang di Paniai, Mimika, Nduga, Puncak Jaya, dan Pesisir pantai Utara Papua untuk tidak gegabah dalam berjuang. Sebab tanpa simpati dan dukungan internasional maka Papua tidak akan pernah merdeka. 

 Masyarakat internasional sudah sepakat bersama dalam Konvensi Jenewa tahun 1949  untuk melindungi tenaga medis, tenaga kemanusian dalam setiap konflik senjata. “Jadi kalau TPN-OPM bertindak melawan atau bertentangan dengan Konvensi Jenewa, siapa yang mau memberi simpati dan menolong. Perang modern maupun perang tradisional dan perang suku semuanya ada aturan main. Bagi dan siapa melanggar aturan main pasti kena sanksi,” pungkasnya. (fia/ade/nat)