Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Kepala Dinas Sosial Kabupaten Merauke  Yohanes Samkakai  dengan Komisi B DPRD Kabupaten Merauke dipimpin  Wakil Ketua  II DPRD  Merauke  Dominikus Ulukyanan, S.Sos  didampingi Ketua  Komisi B  DPRD Kabupaten  Merauke Drs Lukas Patrow, SH. Hadir pula Asisten I Sekda Kabupaten Merauke Sunarjo, S.Sos mewakili bupati. (FOTO: Sulo/Cepos )

MERAUKE – Dewan Perwakilan   Rakyat  Daerah (DPRD)  Kabupaten  Merauke bersama dengan  Pemerintah Kabupaten Merauke  sepakat   menolak  bantuan  sosial (Bansos)  E-Warung  yang  diberikan Pemerintah Pusat   lewat Kementerian  Sosial di tahun  2020. 

  Selain karena  jumlahnya  yang tidak sesuai  dengan data orang miskin di  Kabupaten Merauke,  penolakan ini karena  dinilai   tidak sesuai dengan  kondisi  di  Papua khususnya Kabupaten Merauke.  

  Penolakan  terhadap Bansos  ini  terungkap dalam   Rapat Dengar Pendapat antara Kepala Dinas Sosial   Kabupaten Merauke  Yohanes Samkakai, S.Pd   dengan  Komisi  B  di ruang  sidang  DPRD Kabupaten Merauke Selasa (4/2).

   RDP   tersebut dipimpin  Wakil Ketua  II DPRD  Merauke  Dominikus Ulukyanan, S.Sos  didampingi Ketua  Komisi B  DPRD Kabupaten  Merauke Drs Lukas Patrow, SH.    Hadir  mewakili Bupati   Merauke,   Asisten I Pemerintahan Umum   Sunorjo, S.Sos. 

   Yohanes    Samkakai menjelaskan bahwa dari 20 distrik   yang ada di Kabupaten Merauke, hanya  16  distrik  yang  mendapatkan Bansos  ini. Sementara 4 distrik yang dihuni warga lokal  tidak mendapatkan   Bansos e- Warung tersebut.   

  Ia mencontohkan, untuk   Distrik  Merauke untuk penyaluran  E-Warung  dari September -Desember   2019   sebanyak 3.000  lebih penerima, maka   untuk  2020 jumlah  penerima   tinggal 2.000 lebih penerima.

  “Memang nilainya   mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp 110.000   menjadi Rp 150.000 perbulan.  E-Warung  ini  disalurkan  oleh   BRI di 50 titik. Dimana    untuk distrik  tertetentu   penyalurannya   di ibukota  distrik.  

   Dominikus   Ulukyanan menjelaskan, penolakan   program  ini  karena akan menimbulkan masalah baru   bagi masyarakat  Merauke dengan  kondisi yang ada. ‘’Karena tidak semua   daerah  itu  ada  BRI di situ. Misalnya,     Kimaam. Di  disitu  tidak ada  BRI. Trus bagaimana   masyarakat yang dari kampung -kampung   yang  hanya  datang mengambil  6 bulan  yang jumlahnya  Rp 900.000. Sementara  biaya   dari kampung ke  ibukota  distrik  lebiuh dari Rp  1 juta,’’ katanya.   

   Karena itu, lanjut   Dominikus Ulukyanan,    DPRD Kabupaten Merauke menyatakan  menolak  program E-Warung  tersebut. Kecuali, jika    program  tersebut  untuk Papua  khususnya Merauke  diuubah  dalam bentuk Bansos Rastra dengan menyalurkan  beras   kepada masyarakat.        “Selain kita  bisa salurkan  pengadaan beras Bulog, juga    kita menyerap   beras  petani yang kita  tahu  bersama  tahun kemarin,  petani    mengalami kendala pemasaran,’’ katanya. 

  Karena itu,  rencananya   dewan akan menemui Menteri Sosial untuk  dapat merubah kebijakan E-Warung tersebut ke Bansos Rastra. ‘’Kalau   tidak  bisa  diubah maka  lebih baik  kita tolak. Sekali-kali tidak tolak kebijakan  pemerintah pusat  yang tidak memperhatikan kondisi  di daerah  seperti   apa,’’ tandasnya.  Sementara  Sunarjo  menyatakan mendukung     Dewan  terkait dengan E-Warung   tersebut. (ulo/tri)