DEMO: Sejumlah warga saat menggelar aksi demo di halaman kantor Bupati Deiyai, Rabu (28/8). ( FOTO : Agus for Cepos)

Satu Anggota TNI Gugur, 2 Warga Sipil Meninggal, 10 Senpi Dirampas

JAYAPURA-Situasi di Kabupaten Deiyai memanas, akibat aksi demo di halaman kantor Bupati Deiyai yang berakhir bentrok, Rabu (28/8) kemarin.   

Dalam bentrok tersebut, satu anggota TNI bernama Serda Rikson dilaporkan gugur dan dua warga sipil dikabarkan meninggal dunia. Selain itu, tiga anggota Polisi dan satu anggota TNI mengalami luka-luka akibat terkena panah.

Informasi yang diperoleh Cenderawasih Pos menyebutkan, Serda Rikson gugur akibat terkena panah dan dibacok parang di kepala. 

Kapolda Irjen Pol. Rudolf Albert Rodja yang dikonfirmasi membenarkan adanya keributan dalam aksi demo di halaman kantor Bupati Deiyai yang mengakibatkan satu orang anggota TNI gugur dan dua orang massa meninggal dunia.

“Jadi korban bukan 6 orang dan situasi di Kabupaten Deiyai malam ini aman. Semua korban sudah dievakuasi ke Enarotali,” ungkap Kapolda Albert Rodja yang dikonfirmasi Cenderawasih Pos, Rabu (28/8). 

KORBAN: Salah seorang warga sipil yang jadi korban keributan saat mendapat perawatan di rumah sakit, Rabu (28/8). ( FOTO : istimewa)

Kapolda Albert Rodja menyebutkan, aksi demo yang berlangsung di halaman kantor Bupati deiyai awalnya berlangsung aman. Namun saat massa yang berjumlah kurang lebih 100 orang melakukan orasi, tiba-tiba datang massa dalam jumlah yang banyak sekira 1000-an orang.

Massa ini menurutnya sebagian melakukan waita (tarian adat) dan sebagian lagi menyerang mobil TNI yang di dalamnya terdapat personel TNI. Dalam penyerangan tersebut, seorang anggota TNI meninggal dunia karena dibacok dan ditusuk anak panah di bagian kepala. 

“Mereka juga merampas sekira 10 pucuk senjata api sambil melakukan penembakan ke arah petugas TNI-Polri yang sedang melakukan pengamanan unjuk rasa. Demo pada awalnya berjalan damai,” jelas Albert Rodja. 

Dalam kondisi diserang, aparat keamanan yang melakukan pengamanan melepaskan tembakan ke arah massa yang membawa Senpi. Hal ini mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan telah dibawa ke rumah sakit. 

Secara terpisah Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol CPL Eko Daryanto mengatakan, jenazah Serda Rikson, anggota TNI AD yang meninggal akibat terkena panah saat insiden di Kabupaten Deiyai sudah dievakuasi ke Nabire melalui jalan darat.

“Serda Rikson meninggal akibat luka kena panah dan parang di bagian kepala,” ucap Eko Daryanto saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos melalui telepon selulernya.

Dikatakan, adapun anggota yang mengalami luka-luka saat ini sedang mendapatkan perawatan medis.  “Satu anggota TNI bernama Sersan Sahuder sedang kritis,” bebernya. 

Terkait dengan insiden ini, TNI menurut Kapendam akan  berkoordinasi dengan Polda Papua untuk melakukan investigasi ke lapangan. “Untuk penambahan pasukan belum ada, situasi di lapangan mulai kondusif,” tambahnya. 

Sementara itu, Juru bicara KNPB Deiyai, Agus Mote kepada Cenderawasih Pos melalui telepon  mengatakan, massa awalnya ingin kembali menggelar aksi unjuk rasa terkait dugaan tidak rasisme kepada mahasiswa Papua di Jawa Timur. Menurutnya sudah disepakati pada aksi pertama bahwa pertemuan dengan Bupati Deiyai dilakukan, Rabu (28/8) untuk penyerahan aksi sebelumnya dimana bupati tidak berada di tempat. 

“Sebagai aksi lanjutan dari tuntuan masyarakat Deiyai karena bupati tidak di tempat maka mereka DPRD dan wakil bupati sepakat datang lagi hari Rabu  karena bupati akan ada di hari itu. Tadi mereka turun, bupati suda ada dan meminta kelanjutan tanda tangan bupati,” jelasnya.

Agus menyampaikan, sudah disepakati kedua pihak bahwa saat masuk di kantor Bupati dengan cara waita (tarian adat) dengan membawa anak panah. Namun menurutnya, aparat Kepolisian menganggap hal itu penyerangan.

“Kami sempat disitu ada enam orang korban. Dua orang korban mereka larikan ke rumah sakit. Jadi identifikasi nama sampai sekarang belum,” pungkasnya. (fia/nat)