LULUS – Dr. Rini S.Sutrisno Modouw,S.Pd, M.Si yang baru saja menyelesaikan studi di California State University, Fullerton, California,  Amerika Serikat  berfoto bersama teman-teman kuliahnya April lalu.( FOTO : Rini For Cenderawasih Pos) 

Motivasi Rini S Modouw dari Golden Gate San Francisco, Amerika Untuk Generasi Muda Papua

Sebuah kesuksesan tak ada yang diraih dengan instant. Beberapa pemuda/i asal Papua berhasil lulus dari universitas di luar negeri bukan berarti  karena orang tua mereka kaya raya. Rini Modouw salah satunya. Iapun berbagi cerita.  

Laporan : Abdel Gamel Naser – Jayapura  

Pendidikan menjadi satu pilar utama untuk lahirnya sebuah perubahan. Dengan pendidikan juga kapasitas manusia bisa menjadi lebih baik bahkan jika dikaitkan dengan sebuah peradaban yang lebih maju. Tanpa pendidikan tentunya banyak hal sulit digapai dan gelap. 

Hanya saja untuk memperoleh semuanya tentu tak semudah membalikkan telapak tangan. Hanya sosok yang percaya, gigih tak kenal putus asa yang bisa keluar dari sulitnya sebuah proses untuk menjadi sukses. 

 Salah satu cerita sukses menempuh pendidikan ini disampaikan oleh Dr. Rini S.Sutrisno Modouw,S.Pd, M.Si yang baru saja menyelesaikan studi di California State University, Fullerton, California,  Amerika Serikat. Cerita Rini ini melanjutkan apa yang sudah dilakukan Geore Saa sebelumnya dan berbicara soal pendidikan di luar negeri sejatinya tak sedikit putra putri asal Papua yang kini juga sedang mengambil studi di luar negeri. 

Namun yang dilakukan Rini bukan muncul begitu saja apalagi jika dikaitkan dengan kemudahan-kemudahan.

 Rini menceritakan awal mula semangatnya menempuh studi hingga berakhir dengan gelar doktor. Disini Rini menitipkan pesan kepada siapa saja generasi muda Papua yang sedang sekolah ataupun kuliah untuk tidak mudah menyerah. Harus ada jiwa yang  gigih untuk mewujudkan semua mimpi. Wanita kelahiran Jayapura, 25 September 1980 ini  berawal dari sebuah mimpi kecil untuk bisa berbahasa Inggris. Rumahnya di Waena bertetangga dengan seorang missionaris orang Amerika yang humanis. 

 Dari sering berkomunikasi inilah Ia tertarik dengan karakter berbahasa Amerika. Dari situlah niatnya tertanam sehingga sejak sekolah di SMA1 Abepura Ia terus mengambil program bahasa. Hanya saja perjuangan guru di SMA PGRI Waena ini tidak mudah. Pasalnya Ia berasal dari keluarga yang sederhana. Bahkan sejak SD ia sudah terbiasa berjalan kaki dan mencari uang taxi dengan bantu ortu berjualan. 

Ia dididik oleh kedua orang tuanya dimana sang ayah erupakan pensiunan swasta dan sang ibu merupakan pensiunan guru SD. 

 “Mereka pekerja keras dan tak pernah berhenti menyemangati kami untuk belajar dan belajar. Orang tua selalu memiliki kado special bila kami mendapat rangking di sekolah sehingga dari SD saya sudah sudah terbiasa kelas tidak lepas dari 5 besar,” tulis Rini yang mengirimkan tulisan ini saat berada di Golden Gate, San Fransico. 

Ia teringat ketika masih SD ia sudah terbiasa mengikuti orang tua  mengumpulkan batu di Kali Kampwolker untuk menambah uang taxi. 

 Tak hanya itu Rini juga ikut berjualan pinang depan rumah, berjualan nasi kuning, menjual kangkung maupun ketupat saat bulan puasa. 

“Termasuk kelapa muda. Ini saya jalani untuk mendapat uang taxi. Semuanya tak mudah,” bebernya.

 Bahkan pekerjaan yang tak seharusnya dilakukan anak perempuan juga masih dilakukan. Anak kedua dari tiga bersaudara ini mengaku  pernah mengikuti ayahnya untuk mengembalakan sapi. Membantu sang ayah berkebun membersikan halaman dan berbagai kegiatan lainnya. “Intinya semua itu buat saya sudah terbiasa. Saya terbiasa bekerja keras dan berjuang untuk menghargai apa yang sudah orang tua saya perjuangkan untuk anak-anaknya. Seperti yang saya bilang di wall (dinding FB) tiap orang dengan garis tangannya masing masing dan saya bersyukur juga bangga dan semua itu menempa saya untuk menghargai hasil kerja keras, rendah hati dan tetap menghargai orang lain,” sambungnya.

 Wanita finalis puteri Indonesia ini menambahkan bahwa untuk membekali dirinya  dalam berkarakter, Ia menempa diri dengan aktif di gereja sebagai pengasuh sekolah minggu. “Keluarga besar kami dari keluarga mama saya menghibahkan atau mewakafkan tanah keluarga untuk pembangunan gedung gereja dan itu seperti rumah kedua kami untuk ditempa dalam keimanan dan karakter hidup. Ini juga penting,” tambahnya. 

 Rini sendiri memiliki 3 saudara. Ia memiliki seorang adik yang bekerja sebagai dosen dan kakaknya yang juga lulusan teknik. Disini ketiganya belajar saling menghargai dan diperlakukan sama. “Ini sedikit lucu, jika mereka bisa memanjat pohon maka saya juga harus bisa. Bermain bola juga ebgitu. Intinya kami diajarkan untuk menjadi tangguh. Karakter Rini sendiri ketika kecil cukup tomboy namun tetap cantik. 

Dan dari garis tangannya ini juga mengantarkan dirinya mengikuti ajang Puteri Indonesia yang membawa saya lebih bisa tertata dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Lalu susahnya meraih gelar doktor ini dijelaskan bahwa ia memulai mendaftar program beasiswa untuk program doktor di California Fullerton sejak dua tahun lalu dengan mengemail suvervisor di beberapa kampus. “Ada yang menolak karena ada yang alasan penuh supervisornya dan ada menyampaikan saya bukan lulusan universitas luar negeri sehingga harus extra prepare di Bahasa Inggris.

 Iapun memperdalam Bahasa Inggris via training training, ikut ke Australia,  banyak bergaul dengan komunitas bule seperti di HIS via Sahabat Yosua dan belajar sendiri. “Suka dukanya di negeri orang menjadi pengalaman hidup yang penting. Bagaimana menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, sistem pendidikan dan budaya sementara jauh dari keluarga hingga belajar untuk tetap bertahan,” pungkasnya. Rini sendiri mulai mengajar sejak SMA dan secara profesional dimulai sebagai asistant dosen di Uncen, mengajar di fakultas teknik untuk mata kuliah bahasa inggris umum, di SMP Paulus, menjadi guru honor  di SMAN 1, mengajar kursus, mengajar Bahasa Indonesia di Hilcrest International School untuk siswa missionaris kids dan guru yang mau belajar Bahasa Indonesia sehari hari. 

 “Termasuk ngajar sebagai dosen luar biasa di kampus FKIP program BK untuk guru dan Bahasa Inggris umum. Yang jelas semua harus dimulai dari bermimpi, meniatkan dan berusaha keras untuk mewujudkan. Saya meyakini siapa saja bisa tanpa terkecuali, tinggal bagaimana memulai dan tetap komitmen,” imbuhnya. (*)