Para petani  di Merauke yang  tergabung dalam Aliansi  Petani Merauke  saat menggelar  aksi demo  ke Kantor Bulog Merauke, DPRD dan Kantor Bupati Merauke, Senin ((28/9)  lalu. (FOTO: Sulo/Cepos)

MERAUKE-Sampai  Kamis (1/10), tuntutan   dari  para  petani di Merauke  saat menggelar aksi demo di depan Kantor  Bulog  Merauke  beberapa hari lalu   belum dapat dipenuhi  oleh   Perum Bulog  Merauke. Pasalnya, Perum Bulog Merauke   belum mendapatkan  persetujuan  dari Direktur  Utama   Bulog  untuk  pembelian  beras   dari petani  tersebut. 

  “Sampai   hari ini  kebijakannya  belum berubah.  Masih tetap   pembelian  gabah kering. Sebagai pelaksana  di Merauke,  kami hanya mengikuti perintah dari  Direktur  Utama Bulog. Kalau sudah ada perintah   tertulis   untuk  membeli   kembali beras  maka     kami akan  melakukan pengadaan  beras,” kata   Kepala  Perum Bulog Merauke  Djabiruddin  dihubungi   Cenderawasih Pos  lewat telpon selulernya,  Kamis (1/10).   

   Yang berlaku  saat ini, kata Djabirudin, adalah pembelian gabah   kering melalui mitra bulog. Dimana, untuk    perkilonya   sebesar Rp 5.300. Harga ini sudah  berada di pintu gudang  bulog  dengan  persyaratan  kadar air 14  persen dan kotoran 3 persen.  

     Kendati membuka  pintu   untuk membeli  gabah  selebar-lebarnya,  namun kata  Djabiruddin,    petani  tidak mau   menjual  gabah kering. Mereka    hanya mau  menjual   beras  seperti   yang  dilakukan selama ini. Petani    tidak mau  menjual gabah  kering tersebut dengan alasan rugi.    Harga  pembelian  para mitra   bulog ke   petani  di bawah  harga Rp 5.300/kg beras. 

   Menurut   Djabiruddin  bahwa   harga pembelian  mitra ke petani  untuk   gabah  kering antara Rp 4.200  perkilonya. Ditanya apakah ada kemungkinan Bulog  yang akan langsung membeli gabah  ke  petani   tersebut   dengan alasan petani  tidak mau jual  gabah keringnya karena   kemungkinan  harga pembelian   mitra   terlalu  murah,  Djabiruddin menjelaskan  bahwa kalaupun  Bulog yang  akan  langsung  melakukan  pembelian   gabah kering ke petani  akan tetap  memenuhi syarat   tersebut,   yakni  kadar air  maksimal 14  persen dan  kotoran maksimal 3 persen. 

  “Kami  sudah coba, tapi  petani   juga tetap  tidak mau jual  gabah. Maunya beras, karena petani   masih memperhitungkan dedak dan  menir saat mereka yang  giling  langsung,’’ terangnya. 

   Disinggung soal  rencana pembelian  beras petani oleh Pemkab Merauke sebanyak 10.000  ton, Djabiruddin   mengaku mendengar informasi  tersebut, namun saat rapat  dengan pemkab   Merauke  yang dipimpin  langsung  Wakil Bupati  Merauke Sularso  pada Rabu (30/9), yang dibahas  adalah   bagaimana  SKPD terkait mencari pasar  untuk beras petani tersebut.  (ulo/tri)