Benhur Tomi Mano

“Silahkan pakai nama Stadion Papua Bangkit atau apapun disana tapi jangan  ganggu jembatan ini,” Benhur Tomi Mano

JAYAPURA – Informasi terkait pengelolaan hingga nama yang melekat pada Jembatan Hamadi-Holtekam yang belakangan ramai dibicarakan pihak DPR Papua ternyata dipantau oleh Wali Kota Jayapura DR Benhur Tomi Mano MM. Ia menyebut bahwa saat ini jembatan yang membentang di ujung Teluk Youtefa tersebut sedang hangat dibicarakan karena tinggal difungsikan. Disini secra tegas Tomi Mano menyampaikan bahwa jembatan ini lahir karena persetujuan tokoh-tokoh adat di Port Numbay sehingga dimulailah pembangunan.

 Selain itu uang yang  digunakan juga bukan uang  dari kantor pribadi melainkan uang pemerintah dari sektor pajak. Karenanya Ia berpendapat bahwa tak elok jika jembatan ini diklaim begitu saja.

 “Jangan ribut soal jembatan ini (Hamadi-Holtekam) sebab yang perlu diingat adalah dia bisa berdiri setelah ada persetujuan para tokoh ondoafi di Port Numbay jadi tolong hargai hak-hak adat kami, jangan injak-injak begitu saja,” tegas BTM dalam sambutannya pada pembukaan Festival Teluk Humbold ke 11 di Jembatan Ring Road, Entrop, Senin (5/8). Tomi Mano juga menyinggung soal pemberian nama yang ternyata menurut pemerintah provinsi masih akan dilakukan pembahasan.

 Meski sebelumnya versi Pemerintah Kota Jayapura telah menempelkan nama Jembatan Youtefa   sesuai nama lokasi dan kearifan lokal setempat, ternyata pandangan lain  muncul dari pemerintah provinsi yang mengusulkan menjadi Jembatan Papua Bangkit maupun Jembatan Lukas Enembe. Alasannya adalah jembatan ini dibangun diera kepemimpinan Lukas Enembe.

 Terkait ini Tomi Mano kembali menyingung cukup keras. “Silahkan pakai nama Stadion Papua Bangkit atau apapun disana tapi jangan  ganggu jembatan ini,” katanya. Tomi Mano bersikukuh bahwa jembatan tersebut patut diberikan nama sesuai kearifan lokal setempat dan Ia menyatakan program pembangunan yang berjalan di  Papua, jangan lari dari pesan-pesan kearifan sebab bila keluar maka kebanggaan itu akan tercabut dengan sendirinya. 

 “Program pembangunan harus memikirkan pendekatan budaya, jangan lari dari situ sebab semua pasti mengaku sebagai anak adat,” imbuhnya. “Jadi jangan lagi diributkan, toh jembatan ini dibangun bukan untuk mencari PAD, tolong catat ini. Kami buka karena ingin ada pemerataan. Agar ada akses yang lebih mudah di lima distrik di Jayapura. Muara Tami yang dulu sulit dijangkau kini lebih mudah. Mendekatkan rentan kendali tujuan kami, hanya itu,” pungkasnya. (ade/gin)