Kapolres Jayawijaya, AKBP. Dominggus Rumaropen, S.Sos, M.Si., mendengarkan penjelasan Kalapas Wamena, Imam Sapto Riadi saat memperlihatkan pagar besi yang dibobol tiga narapidana untuk kabur, Senin (27/6) malam. ( FOTO: Denny/Cepos )

WAMENA-Tiga warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wamena dilaporkan kabur, Senin (27/6) malam sekira pukul 20.00 WIT.

Tiga narapidana yang kabur ini yaitu Seve Kosy (32) terpidana kasus pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan korbannya seorang ibu pendeta meninggal dunia Desember 2018 lalu. Dua narapidana lainnya yaitu Beny Lokobal alias Batman Lokobal (36) terpidana kasus penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia dan Demi Matuan (20) yang merupakan terpidana kasus jambret.

Ketiganya kabur setelah ebrhasil membobol pagar besi di samping Gereja Oikumene Lapas Wamena. Mereka kemudian kabur memanjat tembok setelah berhasil membobol pagar besi menggunakan tang. 

Kaburnya ketiga narapidana ini baru diketahui petugas Lapas saat akan mengunci tamping (tahanan pendamping) yang bertugas di dapur. 

Kapolres Jayawijaya AKBP. Dominggus Rumaropen yang dikonfirmasi membenarkan adanya narapidana yang melarikan diri usai mendapatkan laporan dari Lapas Wamena. 

Rumaropen mengaku menerima surat dari Lapas Wamena yang menyatakan ada 3 onarapidana yang melarikan diri. “Saya sudah memerintahkan anggota untuk mencari dan menangkap kembali ketiga narapidana yang kabur ini,” ucapnya, Selasa (30/6). 

Diakuinya, tiga narapidana yang kabur ini merupakan pelaku kejahatan yang tidak biasa  sehingga harus diwaspadai. 

“Kemungkinan mereka akan melakukan kejahatan lagi. Karena mereka tidak punya pekerjaan apa-apa. Jadi untuk mempertahankan kehidupan, mereka bisa kembali melakukan tindak kriminal,” tuturnya.

Untuk itu, Rumaropen berpesan kepada masyarakat Jayawijaya untuk waspada dan apabila menemukan 3 narapidana ini agar segera melaporkan kepada pihak kepolisian. “Mereka yang melarikan diri ini sangat jelas berbahaya bagi keselamatan orang lain di luar. Untuk itu, partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan, baik yang melihat, mendengar bisa melaporkan kepada kepolisian,” pintanya. 

Secara terpisah Kepala Lapas Wamena, Imam Sapto Riadi saat ditemui di Lapas Wamena mengatakan, kaburnya ketiga narapidana ini diketahui saat petugas ingin melakukan penguncian tamping di blok.

“Saat petugas kami mau melakukan penguncian tamping di blok, ketiga orang yang juga merupakan tamping sudah tidak ada. Mereka sudah bersama kami di lapas ini beberapa tahun. Saat dilakukan penguncian mereka dicari dan tidak ditemukan dalam lapas,”bebernya.

Mengetahui ketiga narapidana tersebut tidak ada, Imam mengaku langsung memerintahkan seluruh petugas melakukan pencarian. Dalam pencarian tersebut akhirnay ditemukan tralis besi di samping kiri gereja sudah dibobol dan di sekitar lokasi tersebut ditemukan tang. 

“Untuk alat yang digunakan kami sendiri tak tahu didapatkan dari mana. Sebab semua peralatan bengkel yang ada di Lapas usai melakukan pekerjaan pasti dikumpulkan. Kalau dari kunjungan keluarga tidak mungkin, sebab yang melakukan kunjungan digeledah oleh petugas kami dengan alat metal detector,” jelasnya.

Imam mengaku akan mendalami kembali dari mana ketiga narapidana ini mendapatkan alat untuk membobol trali besi. Kemungkinan menurutnya alat tersebut diperoleh dari luar dengan cara dilempar ke dalam Lapas. 

Terkait kaburnya tiga warga binaan ini, Imam menyampaikan permohonan maafnya sebagai Kalapas Wamena. Dimana dalam hal ini ia mengaku kecolongan. Untuk itu, pihaknya berharap dan meminta bantuan dari seluruh masyarakat Wamena untuk membantu memberikan informasi jika melihat 3 narapidana ini. Sebab dirinya yakin dan percaya mereka masih ada di Jayawijaya.

“Saya akan sebarkan foto-foto narapidana yang melarikan diri ini. Kami juga akan melakukan upaya pencarian terhadap mereka dan kami akan bekerja sama dengan TNI-Polri. Kami juga sudah mengantongi alamat berdasarkan data saat mereka masuk ke Lapas Wamena,”tutupnya. (jo/nat)