Boaz Solossa (kiri) bersama rekannya Yustinus Pae (kanan) dan Saepul Sambas (tengah) saat memperlihatkan dua buku yang telah mereka terbitkan, Jumat (15/1) malam. ( FOTO: Erik / Cepos)

JAYAPURA – Di tengah ketidak kejelasan kompetisi Liga 1 Indonesia, duo superstar Persipura Jayapura, Boaz Solossa dan Yustinus Pae terus berkarya tanpa batas. Bukan di atas lapangan hijau, tapi duo maestro Mutiara Hitam itu kini berkarya dengan menulis buku.

Banyak yang tidak mengatahui aktivitas kedua pemain handal Papua itu di luar lapangan. Soal prestasi di atas lapangan hijau, Boaz dan Tipa sapaan akrabnya, tak perlu diragukan lagi.

Tapi soal menulis, Boaz dan Tipa juga tak perlu diragukan. Buktinya, sejak tahun 2019 silam, dua maestro Mutiara Hitam itu telah menerbitkan dua buku. Boaz dan Tipa tak sendirian, ia juga berkolaborasi dengan, Saepul Sambas dalam menulis buku tersebut.
Saepul mengatakan bahwa untuk buku pertama yang mereka terbitkan berjudul Pemuda Gerakan Bola Pengusaha Bijak merupakan jenis buku yang menyapaikan pesan moral dari cerita para pesakbola yang mengawali kariernya dengan penuh proses.

“Ini kita ambilnya macam bunga rampai. Jadi bunga rampai itu ada pesan moral dari tiap ceritanya bahwa sukses itu bukan berarti selalu ada di atas. Tapi belajar dari proses dan banyaknya masalah,” ungkap Saepul saat berbincang-bincang dengan Cenderawasih Pos didampingi Boaz dan Tipa di salah satu Cafe di Kota Jayapura, Jumat (15/1).

Sementara untuk buku kedua, menurut Saepul, lebih menyerupai majalah yang menceritakan seorang publik figur yang masih mudah tapi telah memiliki track record keberhasilannya.

Dalam buku kedua, Saeful, Boaz dan Tipa lebih menceritakan perjalanan 5 pemain muda Papua, Marinus Wanewar, Todd Ferre, Gunansar Mandowen, Kevien Rumakiek dan Ronaldo Wanma.
“Contohnya Marinus, dia bisa sampai ke rana profesional dan timnas. Dia punya cerita dari seorang pemuda asal Sarmi yang ekonomi keluarga terbatas, tapi dia punya semangat lebih untuk menjadi pesepakbola. Termasuk sampai menjual PS temannya demi seleksi PPLP,” ujar Saepul.

Saepul menuturkan bahwa dalam waktu dekat mereka akan melakukan launching untuk memperkenalkan karya-karya para pesepakbola di luar lapangan hijau.

“Ini biar bikin penasaran dulu, dua karya ini sudah tuntas. Bukan berarti Covid-19 membuat kedua legenda (Boaz dan Tipa) berhenti berkarya. Targetnya kita itu memang seluruh Indonesia, itu umum, tapi khususnya kita masuk ke Papua dan Papua Barat dari setiap Kabupaten,” ucapnya.

“Tujuannya buat semangat generasi di Papua maupun di Indonesia tentang membaca dan berkarya. Karena dua sosok legenda ini, mereka punya karya lain dan semoga bisa mendobrak pergerakan secara manset maindset kreafitas anak-anak muda dari keadaan covid pun itu tetap berkarya,” sambung Saepul.

Saepul juga menceritakan awal pertemuan dirinya dengan Boaz Solossa dan Tipa yang akhirnya memilih berkarya sebagai penulis. Dirinya, mengenal Boaz dan Tipa lebih dekat melalui media sosial serta melalui salah satu official Persipura, Alex.

“Kami sering sharing. Saya tanya di Papua ada yang buat buku? Kaka Bochi bilang tidak ada pemain yang nulis. Dan kebetulan saya punya potensi nulis, dan kami sharing bagaimana kalau kita nulis bareng,” ucap Saepul.
“Kami sering ketemu di luar kota. Setiap Persipura main di luar kota saya selalu ada. Di situ kita buat karya bareng sampai buku ini selesai. Ini dikerjakan bareng-bareng. Jadi mahalnya kita di sini itu kekeluargaan kita yang sudah melekat,” ujarnya.

Dirinya berharap, buku ini akan menjadi sejarah pertama di Papua yang diharapkan dapat membangun niat baca anak-anak Papua. Bahkan ia membeberkan bahwa mereka akan siap menerbitkan buku dengan estimasi 87 ribu buku.

Di tempat yang sama Boaz Solossa mengaku, sejak tahun 2019, bersama Tipa sudah membangun komunikasi yang baik dengan Saepul yang membuat mereka bertiga terjun dalam pembuatan buku.

Pembuatan buku ini menurutnya dapat menjadi bukti fisik bagi para pesepakbola Papua bila kelak telah gantung sepatu maupun telah tiada.

“Selain adik-adik kita yang mulai muncul, saya berpikir harus ada cerita mereka dan termasuk senior kita yang 70 tahun atau 90 tahun, kita akan cari tahu, kita akan buat cerita, jangan sampai selesai bermain cerita itu hilang,” ucap Boaz.

Untuk dunia sepak bola tanah air, nama Bambang Pamungkas merupakan yang pertama memilih profesi sebagai penulis buku setelah gantung sepatu. Dan kini, Boaz Solossa dan Yustinus Pae (Tipa) pun kini menjadi wakil Indonesia Timur.

“Ini bukti, bahwa kita dari Papua juga bisa. Kami akan turun ke daerah-daerah, apalagi kami masih aktif sebagai pemain, dan paling penting itu harus meningkatkan minat baca anak-anak Papua,” ungkap Boaz.

Senada dengan itu, Yustinus Pae juga mengatakan, bahwa buku-buku tersebut nantinya akan menjadi bukti nyata bagi para pemain untuk anak-cucu kala meninggalkan lapangan hijau.

“Kenapa tertarik, karena semenjak kita dari punya senior ketika mereka pensiun, mungkin mereka punya cerita sebatas dari mulut ke mulut, dan ketika orang baca Cepos. Tapi kalau buat bentuk buku ada sesuatu kesan yang kita ceritakan di sini dan bisa disimpan ketika dia sudah pensiun atau dia sudah tidak ada tapi dia pu anak cucu bisa membaca kalau dulu dia punya bapa pernah menjadi pemain hebat,” jelas Tipa.
“Kedua mungkin untuk kita punya regenerasi untuk bagaimana lewat buku ini pemain-pemain sudah menjadi inspirasi untuk bisa membaca dan mengikuti jejak dari adik-adik ini,” ujar Tipa.

Bersama Boaz Solossa dan Saepul, Tipa sengaja berkarya lewat buku, agar setelah pensiun mereka tetap bisa berkarya meski tak lagi sebagai pesepak bola.
“Saya pikir ini sesuatu yang istilahnya belum pernah orang terpikir buat buku, Kami berpikir untuk buat sesautu yang positif dan mungkin di situ kita bisa menawarkan sesuatu. Ini bukan soal materi tapi kita punya tawaran yang positif untuk pemuda di Papua kalau seluruh Indonesia lebih bagus lagi,” pungkasnya. (eri/nat)