Anak-Anak berkebutuhan khusus  yang ada di belakang  Lapangan Mini Maro Merauke yang  jumlahnya 133  orang  yang selama ini tidak menikmati pendidikan  formal  saat menerima  berkat  dari pastor dan pendeta  untuk  mengawali   proses  belajar mengajar  yang merupakan  program pendidikan inklusif yang  diberikan dari  SMAN   I  Merauke,   Kamis (18/6) ( FOTO: Sulo/Cepos)

MERAUKE-Dalam rangka memulai  kembali   layanan pendidikan inklusif  bagi anak-anak berkebutuhan  khusus yang dilakukan  oleh SMAN I Merauke,   digelar  doa pemberkatan  oleh   Pastor Paroki Fatimah Kelapa Lima Merauke dan Ketua GKI Klasis  Merauke di teras salah satu  rumah  warga yang ada di   belakang    lapangan Mini Maro Merauke.  

    Sebanyak  133  anak  yang  sudah   usia sekolah TK dan SD  yang ada di   belakang   lapangan Mini  Maro, Kelurahan Kelapa Lima Merauke    tersebut    seharusnya  sudah sekolah,  namun  selama ini  belum pernah  mengenyam  pendidikan. Kendatipun  ada yang  pernah   menyandang   murid SD, namun  putus ditengah  jalan.    

  Kepala SMAN I Metauke  Sergius  Womsiwor, S.Pd, M.Pd    mengungkapkan  bahwa   dirinya  memanggil   pihak   gereja    agar  bisa  sama-sama melihat    hal ini. “Sebab, jika   ini saya kerjakan sendiri maka saya  sudah pasti akan  jumpai kendala,’’ kata   Womsiwor. 

   Ia mencontohkan,  misalnya  berkaitan dengan   tingkat   kehadiran anak    bisa menyampaikan  ke gereja dan gereja  dapat mengingatkan  kepada  orang tua dan anak-anak. ‘’Di sini, terdata 133     anak  yang ada di sekitar  sini dan tuan rumah  menyediakan  tempat  untuk kita  gunakan teras  rumah ini  untuk belajar. Sementara manajemen induknya ada di SMAN I Merauke,’’  terangnya.   

   Menurutnya, pendidikan inklusif  yang merupakan program  Dinas  Pendidikan Provinsi   Papua  ini adalah mendekatkan  pendidikan kepada   masyarakat khususnya anak-anak yang berkebutuhan khusus  tersebut.  ‘’Kami  yang harus datang ke mereka.  Supaya  masyarakat bisa  mengerti  dan memahami bahwa kita  juga tetap  diperhatikan  oleh pemerintah dan gereja. Karena itu kita dekatkan. Karena   pendidikan  ini tidak  hanya diarahkan  untuk pendidikan akademik tapi  juga non akademik. Kebiasaan hidup bersih    dan sebagainya,’’   katanya.      

   Sergius  menjelaskan bahwa   kegiatan ini sangat mulia. Karena itu, dia berharap    pemerintah  Kabupaten Merauke   melalui    Dewan dan Dinas Pendidikan  dan Kebudayaan   Kabupaten Merauke mendukung  kegiatan  ini  melalui pembiayaan bersama. Karena  menurutnya    pendidikan  ini  merupakan  persoalan universal   dan  regulasinya  sudah sangat tegas dimana semua  orang diberikan  kesempatan  atau hak dasar  di bidang pendidikan.

   “Saya kuatir anak-anak Papua ini  kalau  tidak dibekali dengan baik akan menjadi potret buruknya bangsa kita. Karena  ini, mari kita  secara bersama  untuk bagaimana  anak-anak  kita ini  bisa  tetap  sekolah dan belajar,’’ tandasnya. 

   Sementara   itu, Ketua  GKI Klasis  Merauke Pdt. Hetty Kaleb   memberi apresiasi   dan dukungan   terhadap program dan kegiatan  yang dilakukan  oleh  Kepsek SMAN I Merauke bersama jajarannya dalam  melihat dan mempersiapkan anak-anak Papua  ini meski ada dalam kebutuhan khusus dimana  anak-anak yang tidak mendapatkan  pendidikan formal bisa  sama dengan anak-anak yang  lain  yang   mendapat  pengajaran-pengajaran dimana   diakui oleh pemerintah. “Kami dari pihak gereja  sangat mendukung  apa yang dilakukan  terhadap anak-anak  kita ini    yang ada di  sini,” tambahnya. (ulo/tri)