Indonesia Itu (Bukan Cuma) Negeri Beras 

Sulitnya Indonesia move on dari beras merupakan bukti kegagalan pemerintah melakukan diversifikasi pangan. Tapi, substitusinya harus bahan makanan yang diproduksi lokal.   

KETAHANAN PANGAN: Masyarakat Mollo, NTT, menjaga tradisi untuk mengolah dan mengonsumsi bahan makanan lokal.

HARI-HARI ini Talita Dinda bakal tertawa kalau ada yang mengatakan kepadanya belum kenyang lho kalau belum makan nasi. Lha, dia sudah melakukannya bertahun-tahun dan merasakan betul manfaatnya.

”Antara lain badan lebih enteng dan saat haid tidak pernah sakit lagi,” ucap Talita yang saat ini bekerja sebagai karyawan bank swasta.

Semua bermula kala dia masih berkuliah di Universitas Diponegoro, Semarang. Sebagai anak kos, dia jenuh berhadapan dengan nasi. 

Suatu hari dia pun membeli sayur dan lauk saja di warung. Kemudian melahapnya sesampai di rumah. ’’Lalu beberapa hari saya coba nggak makan nasi ternyata ya nggak pusing atau lemas dan keterusan sampai sekarang. Sebagai pengganti nasi, saya rutin mengonsumsi sayur, lauk, dan buah,” kata perempuan 25 tahun yang berdomisili di Banyuwangi itu.

Pesinetron Nikita Willy juga sejak remaja tak lagi mengonsumsi nasi. ’’Paling sesekali saja icip-icip, itu pun minta saya suapi,” kata Yora Febriane, sang bunda. 

Sayur, granola, roti, daging, dan gandum merupakan makanan sehari-hari yang biasa disantap Nikita sebagai pengganti nasi putih. ”Pakai katering khusus dia dari dulu,” cetusnya.

Yora pun melihat banyaknya perubahan positif pada tubuh pemain film Terlalu Tampan itu sejak mengubah pola makannya. Badannya jadi lebih sehat, kencang, dan bugar.

Sebab, lanjut Yora, Nikita juga menyeimbangkannya dengan berolahraga rutin. ”Percuma kalau olahraga tapi pola makannya nggak diatur,” katanya.

Apa pun alasannya, diversifikasi makanan seperti yang diterapkan Talita dan Nikita itu sejalan dengan imbauan Bulog yang disampaikan sang kepala, Budi Waseso, di sela panen raya di Pandeglang, Banten, beberapa hari lalu. Imbauan serupa sebenarnya juga sudah berkali-kali diserukan berbagai pihak. 

Berdasar data Badan Pusat Statistik, produksi beras Indonesia semakin menurun, sedangkan konsumsi beras bisa dibilang relatif stabil. Pada 2015 produksi beras Indonesia mencapai 43,9 juta ton dalam setahun, sedangkan konsumsi berasnya menembus 31,9 juta ton di tahun yang sama. Empat tahun berselang, produksi beras di tanah air turun jauh menjadi 31,3 juta ton, sedangkan konsumsinya hanya melorot sedikit menjadi 29,6 juta ton. 

Padahal, alam Indonesia menghasilkan begitu banyak hasil bumi nonberas yang bisa dimanfaatkan sebagai pengganti beras. Di Mollo, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, contohnya, Dicky Senda sejak 2016 berikhtiar mendekatkan warga setempat, khususnya generasi muda, pada kebudayaan lokal, termasuk pangan yang makin terkikis. 

Tanah Mollo yang berupa pegunungan, kata Dicky, sangat bersahabat dengan komoditas jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan, sorgum, dan sebagainya. Dicky pun rajin memamerkan kreasi makanan dengan olahan bahan-bahan yang dihasilkan di Mollo di akun Twitter pribadinya. 

Misalnya, panekuk tepung mocaf dan aneka selai dari buah khas Mollo. Di antaranya, rosela, nanas, jeruk, dan murbei. ’’Menikmati makanan mahal ala kafe dengan bahan-bahan lokal,” tulis Dicky yang juga seorang penulis. 

Bersama Komunitas Lakoat Kujawas yang didirikannya, sejauh ini Dicky menyebut sebagian warga yang sudah mendapat edukasi mulai aktif menanam benih-benih makanan lokal nonberas. Untuk memberikan semangat lebih, Komunitas Lakoat Kujawas juga mengajak masyarakat untuk menjadikan aktivitas tersebut sebagai sumber penghasilan alternatif dengan menjualnya di berbagai platform. 

Bahkan, atas gagasan komunitas, masyarakat Mollo kini juga punya ekowisata yang mengajak wisatawan untuk belajar mengenali dan mengolah berbagai makanan lokal di sana. ”Potensi sumber daya alam kita punya, teknik bertani kita punya, tinggal bagaimana kita menjaga tradisi itu dan membiasakan untuk menerapkan,” katanya kepada Jawa Pos kemarin.

Variasi makanan itu pula yang diterapkan Etty Yuliana, seorang ibu rumah tangga, untuk keluarganya. Sejak 2010, mereka rutin mengonsumsi nasi jagung. ”Menurut saya, tingkat glukosa jagung lebih rendah dibanding nasi putih. Jadi aman dikonsumsi keluarga,” papar perempuan yang bersama keluarga tinggal di Sidoarjo itu.

Dokter sekaligus ahli gizi komunitas, Dr dr Tan Shot Yen MHum menjelaskan, isi piring setiap makan harus memenuhi empat komponen. Mulai makanan pokok, sayuran, lauk-pauk, hingga buah-buahan. Itu berlaku untuk menu sarapan, makan siang, dan makan malam. 

Dia menerangkan, berdasar data dari Fat Secret, setiap 100 gram nasi putih mengandung 27,9 gram karbohidrat. Selain itu, nasi putih masuk ke dalam asupan yang memiliki indeks glikemik (IG) tinggi. ’’IG adalah kecepatan karbo dicerna menjadi gula dalam tubuh. Makin tinggi indeksnya, pengolahan karbonya makin cepat dan itu tidak baik,” katanya.

Ahli gizi Qonita Rachmah merekomendasikan, jika ingin tetap makan nasi, konsumsilah nasi berwarna. Misalnya, nasi merah, cokelat, dan hitam. Sebab, jenis beras tersebut lebih berserat sehingga memiliki IG lebih rendah. ”Lalu bisa juga makan umbi-umbian karena IG dan kalorinya lebih rendah dibanding nasi putih,” ungkapnya.

Sementara itu, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mendukung penuh kalau pemerintah ingin melakukan diversifikasi pangan. Namun, yang menjadi catatan, patut dicermati bahwa substitusi beras haruslah makanan pokok yang juga diproduksi lokal. 

Masalahnya, lanjut Dwi, bahan makanan substitusi yang peningkatannya cukup pesat adalah gandum. Padahal, gandum merupakan komoditas yang 100 persen impor.

Dwi menjelaskan, angka konsumsi gandum untuk pangan sudah mencapai 8,5 juta ton atau sekitar 30 kilogram per kapita per tahun. Sedangkan konsumsi beras, menurut kajian Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 27 kilogram per kapita per tahun. ’’Konsumsi gandum kita saat ini sudah di atas 25 persen dari beras. Saya anggap ini sudah masuk ambang bahaya karena 100 persen gandum kita diimpor,” tegasnya.

Menurut Dwi, perubahan konsumsi masyarakat ke gandum itu disebabkan gagalnya program diversifikasi pangan oleh Kementerian Pertanian. ”Sangat terlihat betul diversifikasi pangan kita gagal total. Bahkan, anggaran Kementerian Pertanian tahun 2019 seingat saya nol rupiah untuk diversifikasi pangan,’’ beber Dwi.

Untuk bisa merangsang perubahan pola konsumsi, menurut Dwi, Indonesia patut mencontoh negara-negara maju seperti Jepang dan sejumlah negara di Eropa yang punya School Feeding Program. ”Jadi, mereka sejak usia dini mengajarkan pada anak di sekolah untuk mengenal dan membiasakan mengonsumsi makanan pokok yang variatif,” tegasnya.

Dwi menjelaskan bahwa bahan pangan pokok seperti sagu dan umbi-umbian sangat cocok dengan kondisi pertanian dan geografis Indonesia. Hasil pertanian sagu di Indonesia Timur, misalnya, sangat produktif. 

Namun, sayangnya semakin ke sini keberadaannya juga semakin terkikis oleh beras. ”Memang jika ingin mencapai diversifikasi pangan, butuh keseriusan pemerintah untuk menyosialisasikan dan membiasakan secara masif,” katanya. 

Semangat untuk menggelorakan diversifikasi pangan harus didukung. Sebab, ketergantungan pada beras dinilai dapat mengerek inflasi. Meski memang tidak akan mudah mengubah pola konsumsi. Mengingat 94 persen masyarakat Indonesia mengonsumsi karbohidrat yang berasal dari beras.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira menyebut, diversifikasi pangan patut dipercepat, khususnya di Indonesia timur. Termasuk subsidi tepat sasaran dan pendataan yang valid sehingga peluang dan potensi produksi pangan alternatif bisa dipetakan dengan baik.

Di tengah situasi tidak pasti seperti pandemi Covid-19 saat ini, Bhima menilai bahwa diversifikasi pangan menjadi strategi yang baik. Apalagi, ke depan ada ancaman krisis pangan.

Diketahui, beberapa negara eksportir pangan, khususnya beras, saat ini terpantau cenderung melakukan proteksionisme dengan mengurangi ekspor pangan ke negara lain. ”Tanpa diversifikasi pangan selain beras, ketahanan pangan sangat rentan,” tambahnya.

Diversifikasi pangan juga dinilai perlu dilakukan mengingat kondisi produksi beras yang terus menurun beberapa tahun terakhir. Sepanjang 2019, produksi beras hanya menyentuh angka 31,31 juta ton, lebih rendah 2,63 juta ton atau setara 7,75 persen dari tahun 2018 yang menyentuh 33,94 juta ton. 

”Untungnya kebutuhan beras hanya 29,6 juta ton per tahun sehingga ada surplus 4,37 juta ton di 2018 dan 1,53 juta ton di 2019,” ujar Kepala BPS Suhariyanto.

Turunnya produksi beras pada 2019 dipengaruhi oleh anjloknya produksi padi. Menurut BPS, pada tahun itu data produksi padi Indonesia diperkirakan hanya 54,60 juta ton gabah kering giling (GKG). Nilai ini turun 4,6 juta ton atau setara 7,76 persen dari perkiraan 2018 di kisaran 59,2 juta ton GKG. “Secara keseluruhan, produksi padi di 2019 lebih rendah dibanding 2018,” ucap Suhariyanto.

Di lain pihak, Kementan mengaku terus mendorong pemerintah daerah mengembangkan potensi sumber pangan lokal dan mengajak masyarakat agar mengubah pola pikir bahwa beras atau nasi bukan satu-satunya sumber karbohidrat.

”Kita memetakan sasaran lokasi pengembangan pangan lokal, dan juga action plan yang mencakup ketersediaan bahan baku, aksesibilitas, hingga pemanfaatannya,” ujar Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan Agung Hendriadi.

 Berdasarkan pemetaaan tersebut, terdapat enam komoditas pangan lokal sumber karbohidrat yang potensial dikembangkan. Mereka adalah singkong, talas, sagu, kentang, pisang, dan jagung. Upaya diversifikasi pangan lokal ini ditargetkan menurunkan konsumsi beras dari 94,9 kg per kapita per tahun menjadi 85 kg per kapita per tahun pada tahun 2024. 

Selain itu, upaya ini diharapkan dapat menumbuhkan UMKM pangan sebagai penyedia pangan lokal. (agf/*/c7/ttg)