Komitmen Kemanusiaan Chairullah, Penggali Makam yang Sediakan Sayur dan Lauk Gratis untuk Warga

Dengan pendapatan tak menentu, istrinya sempat ragu Chairullah bakal bisa konsisten menjalankan Jumat Berbagi atau tidak. Setahun berselang, ternyata kegiatan yang dia biayai dari kantong sendiri itu bisa berjalan nyaris tanpa putus.

M. HILMI SETIAWAN, Jakarta, Jawa Pos

SABAN Jumat dini hari, di tengah senyapnya pinggiran Jakarta, Chairullah memacu motor menuju Pasar Kebayoran Baru. Setiba di sana, penggali makam yang akrab disapa Irul tersebut segera berbelanja berbagai macam sayuran, tempe dan tahu, serta beragam jenis ikan asin.

’’Kalau untuk sayuran yang kuat, saya belinya pada Kamis pagi atau sore,’’ katanya kepada Jawa Pos yang menemuinya pada Minggu (4/7). Sayuran tahan lama yang dia maksud adalah kentang dan singkong. Karena belanjaannya banyak, dia harus bolak-balik ke pasar yang berjarak sekitar 8 kilometer dari tempat tinggalnya tersebut sampai tiga kali.

Berbagai belanjaan dari pasar itu lantas dibungkusnya dengan rapi di rumah bersama sang istri, Umiyati. Selesai salat Subuh, dia menata sayuran dan lauk tersebut di tembok di dekat rumahnya di Jalan Ulujami Gang Kramat, RT 6, RW 4, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Itulah waktunya Jumat Berbagi, kegiatan yang sudah setahun ini dia jalankan. Membagikan sayuran dan lauk tadi kepada sesama. Siapa saja boleh mengambilnya, maksimal dua kantong. Gratis. Syaratnya hanya harus menerapkan protokol kesehatan saat mengambilnya. Salah satunya, wajib memakai masker.

Jumat Berbagi dimulai tepat pada pukul 06.00. Namun, sejumlah warga biasanya sudah berkumpul pada pukul 05.30. ’’Pernah dalam waktu lima menit sudah habis,’’ ungkapnya.

Dia selalu mengingatkan setiap warga agar mengambil maksimal dua kantong sayuran saja. Dengan begitu, warga lain kebagian.

Bapak tiga anak itu menyatakan, sayur dan lauk yang disiapkannya dalam program Jumat Berbagi sejatinya bebas diambil siapa saja. Bukan hanya warga sekitar tempat tinggalnya. Bahkan, seorang driver ojek online yang sedang lewat pernah ikut mengambil. Ada pula pemulung yang melintas yang turut membawa pulang sayuran yang disediakan.

Irul menyebutkan, setiap Jumat Berbagi, ada ratusan bungkus sayuran yang digantungnya. Awalnya, biaya yang dia keluarkan untuk berbelanja sekitar Rp 300 ribu. Sekarang biayanya bertambah menjadi sekitar Rp 500 ribu. Seluruh uang tersebut berasal dari kantongnya. Tak ada iuran atau donasi dari warga di lingkungannya.

’’Tetapi, kalau ada warga yang ikut membantu, silakan,’’ kata pria kelahiran Jakarta, 11 Juni 1977, tersebut. Misalnya, suatu ketika ada warga yang ingin terlibat dengan menitipkan telur ayam. Kemudian, ada pula yang ikut menyumbang tempe atau tahu.

Jumat Berbagi mulai dia lakukan sejak 16 Juli 2020. Artinya, pada Jumat pekan depan (16/7), gerakan itu genap berusia setahun. Dia sedianya akan membuat acara tasyakuran karena diberi rezeki sehingga bisa konsisten berbagi. Namun, niatan tersebut dia urungkan karena PPKM darurat diberlakukan. Apalagi, kasus Covid-19 di lingkungannya cenderung naik.

Jumat Berbagi berawal dari keprihatinan Irul terhadap kondisi warga di lingkungan sekitarnya yang terdampak pandemi Covid-19. Tak sedikit yang kehilangan pekerjaan atau pendapatan.

Sejak pandemi, kegiatan serupa bisa ditemukan di sejumlah tempat lain. Baik dilakukan perorangan maupun kelompok. Irul termasuk yang sangat konsisten menjalankan kegiatan berbagi. Jumat Berbagi yang dia lakukan nyaris tak pernah terputus. Hanya sempat libur sementara menjelang Ramadan 2021. ’’Waktu itu saya sakit dan harus dirawat. Jadi, Jumat Berbaginya kosong dua kali,’’ jelasnya.

Meski begitu, saat dirawat karena sakit itu, dia tetap berusaha untuk berbagi. Hanya, bentuknya berbeda. Saat itu dia meminta sang istri membawa makanan bagi para perawat yang merawatnya di rumah sakit.

Irul bekerja sebagai penggali kubur sejak 2017. Tepatnya di Kompleks Pemakaman Wakaf Roudlatul Jannah, Ulujami. Sebelumnya, dia bekerja sebagai petugas keamanan di sebuah rumah sakit. Dengan penghasilan yang tak menentu, sang istri sempat meragukan rencana Irul membuat gerakan Jumat Berbagi. Umiyati khawatir gerakan yang digagas suaminya itu berhenti di tengah jalan.

Bekerja di kompleks pemakaman wakaf, status Irul bukan PNS Pemprov DKI Jakarta. Apalagi, pemakaman tempat Irul mencari nafkah memang bukan aset Pemprov DKI Jakarta. Dia awalnya bekerja sebagai perawat pemakaman di pemakaman tersebut. Dia memperoleh gaji, tetapi tak seberapa. Selain itu, gajinya sering kali tidak rutin diterima setiap bulan.

Setelah beberapa waktu, Irul mulai dipercaya sebagai penggali makam. Dari sana dia mendapatkan penghasilan tambahan di luar gaji rutin. Untuk setiap penggalian makam, upah yang dia terima sekitar Rp 600 ribu. ’’Upah ini dibagi bertiga,’’ katanya.

Untuk bisa menjadi penggali makam, dia harus lebih dulu belajar agama. Khususnya tentang spesifikasi lubang pemakaman sesuai dengan ketentuan agama. Selain itu, Irul belajar tata cara menguburkan jenazah. Hanya karena rezekinya datang lewat pemakaman, Irul tak lantas berdoa agar ada banyak orang yang meninggal. ’’Sering guyonannya itu lagi sepi proyek ya karena gak ada orang mati,’’ katanya, lantas tertawa.

Di tengah pandemi yang sudah lebih dari setahun ini, Irul belum pernah menguburkan jenazah dengan protokol Covid-19. Sebab, biasanya sudah ada petugas penggali makam yang dilengkapi alat pelindung diri (APD). Selain itu, pemakaman jenazah Covid-19 umumnya dilakukan di tempat pemakaman milik pemerintah daerah.

Irul mengakui, banyak pesan hidup yang dipetiknya sebagai penggali kubur. Sering berinteraksi dengan jenazah membuatnya berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Dia seperti punya rem yang mencegahnya terjerumus dalam perbuatan yang dilarang agama.

Ke depan, dia sudah berkomitmen untuk terus menjalankan program Jumat Berbagi. Di tengah kondisi sulit seperti sekarang ini, dia merasa kegiatan tersebut membantu banyak orang. ’’Urusan uang belanja sayur, saya selalu berdoa supaya diberi rezeki dan kemudahan,” ujarnya. (*/c14/ttg/JPG)