PASAR IKAN: Proses masa karantina yang sempat menutup aktivitas di Pasar Ikan Hamadi berdampak signifikan terhadap penghasilan para pedagang ikan. Tampak aktivitas pedagang di Pasar Ikan Hamadi, setelah kembali dibuka pekan kemarin. ( FOTO: Gamel/Cepos)

JAYAPURA-Menerapkan New Normal tak semudah membalik telapak tangan. Sejumlah indikator dipersiapkan pemerintah dalam penerapan new normal tersebut. Salah satu indikator yang dimaksud adalah Reproduction Number (R0).

Perlu diketahui bahwa  R0 merupakan indikator yang mengukur atau menunjukkan daya penularan virus Corona dari satu kasus positif. Atau dengan kata lain, R0 merujuk pada jumlah infeksi baru yang dapat disebabkan oleh satu kasus terhadap populasi yang rentan terpapar Virus Corona.

 Artinya, satu pasien positif Covid-19 dapat menularkan virus terhadap 2 atau 3 orang lainnya.

Jikalau R0 di atas angka 1, maka penularan atau penyebaran virus akan terus berkembang. Sebaliknya, jikalau R0 di bawah angka 1, maka penyebaran virus tetap terjadi, namun dengan jumlah kasus kematian yang lebih rendah. 

Hal inilah yang disampaikan Presiden RI, Ir. Joko Widodo, sebagaimana dilansir JawaPos.com, bahwa daerah yang memiliki R0 di bawah 1 (tingkat penularan rendah) bisa menerapkan tatanan new normal tersebut.

Sementara untuk Provinsi Papua, menurut Juru Bicara Satgas Covid 19 Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, Sp.OG (K)., R0 Papua berada di angka 1,8. 

Dengan kata lain, infeksi satu kasus positif Covid 19 dapat ditularkan kepada 2 orang, kemudian 4 orang, hingga 16 orang (N2).

“Posisi kita, atau reproduction number kita hari ini (kemarin), berdasarkan data kesehatan yang diberikan, berada di angka 1,8. Angka 1,8 ini bermakna, 1 orang bisa menularkan kepada 2 orang, kemudian 4, 16, (N2),” ungkap dr. Silwanus Sumule, Jumat (29/5) kemarin.

“Dengan kata lain, kita belum berada di bawah angka 1, yang menjadi salah satu ukuran untuk melaksananan new normal,” sambungnya.

Sementara dari sektor pendidikan, menurut Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan, dan Arsip Daerah Provinsi Papua (DPPAD), Christian Sohilait, saat new normal diterapkan, masyarakat harus membiasakan hidup normal dengan situasi Covid-19. 

“Contohnya, dengan mengenakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak (physical distancing), hingga perilaku hidup bersih-sehat lainnya yang barangkali mulai aktif dilakukan saat masa pandemi seperti ini, dijadikan sebagai kebiasaan hidup sehari-hari,” tuturnya.

Untuk itu, sejumlah instrument di sektor pendidikan dipersiapkan, yakni menyiapkan orang tua ketika peserta didik kembali bersekolah. Pasalnya, menurut Sohilait, dengan adanya pandemi Covid-19 secara global, orang tua juga memiliki kekhawatiran untuk melepas anak-anak ke luar rumah. Terlebih dengan siapa anaknya akan melakukan kontak/berkomunikasi, hingga kebersihannya di luar rumah, termasuk di sekolah.

“Kedua, mempersiapkan manajemen sekolah, baik guru maupun perangkat di dalamnya. Sekolah harus memiliki persiapan terhadap new normal. Seperti menyiapkan tempat cuci tangan, masker, handsanitizer, hingga termoscanner di sekolah,” tambahnya.

Tidak ketinggalan, mengatur instrument siswa dan guru di sekolah. Termasuk memperhatikan protokol kesehatan yang diterapkan di sekolah, bukan hanya bagi para peserta didik, melainkan pula bagi para guru dan staf pendidik lainnya.

“Ini yang kita siapkan sehingga ketika new normal ini berjalan. Dimana kita belum tahu pasti kapan akan ikut menerapkannya. Baik Juli seperti yang dikatakan wakil gubernur atau Agustus. Namun saat ini, kita perlu melakukan persiapan untuk membiasakan kehidupan yang tidak biasa kita lakukan untuk menjadi kebiasaan hidup sehari-hari. Ini yang paling penting,” pungkasnya. (gr/nat)