JAYAPURA-Krisis air bersih kembali menimpa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jayapura. Rumah sakit rujukan tertinggi di Provinsi Papua itu dikabarkan sepekan terakhir membeli air tangki untuk memenuhi kebutuhan air bersih demi menunjang pelayanan.

   Salah seorang pengunjung RSUD Jayapura, Rony (34) kepada wartawan di depan UGD rumah sakit itu, Sabtu (4/9) mengaku dirinya memang dua tiga hari belakangan melihat sejumlah mobil tangki air keluar masuk lingkungan rumah sakit mengisi air di bak induk di bagian belakang. 

  “Saya kan ada keluarga yang sedang dirawat di Ruang Penyakit Dalam sejak lima hari lalu. Sempat berpapasan enam atau tujuh mobil tangki air di depan gerbang. Setahu saya soal air kan sudah lancar saat Pak Aloysius jadi direktur, karena saya sempat rawat inap juga empat bulan lalu. Ya semoga saja tidak mengganggu pelayanan. Jangan terulang lagi seperti 2018, saat keluarga saya dirawat inap, kami bawa air dari rumah. Dan itu pengalaman tidak enak,” kata Rony yang tinggal di Hamadi. 

  Salah seorang pegawai RSUD Jayapura yang tidak mau namanya dikorankan, Jumat (3/9) membenarkan bahwa saat ini manajemen memang kembali membeli air untuk memenuhi kebutuhan seperti terjadi di tahun 2018. Sebab debit air yang masuk ke bak induk di rumah sakit peninggalan Belanda itu, sudah sangat kecil sejak akhir Agustus 2021.

  “Kita bingung semua, ini penyebabnya apa debit airnya jadi kecil. Mungkin karena pipanya kotor ka, atau karena pembagiannya lebih banyak ke PON, jadi kita dapat kurang ka, atau bocornya pipa, kita belum tahu. Tapi ini aneh. Setahun terakhir tidak pernah terjadi seperti ini. Malah air melimpah ruah, terbuang kiri kanan di pinggir jalan sampai kamar jenazah. Ada apa sebenarnya ini,” tanyanya heran.

  Ia mengatakan, sejak tanggal 30 Agustus 2021, bisa dipastikan sudah seratus tangki air yang dibeli pihak RSUD Jayapura untuk mengisi bak induk. Dimana harga satu tangki air bervolume 5.000 liter adalah Rp 200 ribu.

  Pengakuan yang sama datang dari salah satu suster yang sehari-hari bertugas di unit pelayanan Ruang Isolasi Covid RSUD Jayapura. Menurutnya, beberapa hari terakhir, air PDAM memang tidak mengalir di ruangan tempat ia bekerja. “Sampai hari ini, di ruangan isolasi atas air tidak jalan-jalan, mati terus. Bak kering,” katanya membenarkan.

   Direktur RSUD Jayapura dr. Anthon Tony Mote dikonfirmasi wartawan Sabtu (4/9) mengatakan masalah kekurangan  air bersih yang tengah menimpa RSUD Jayapura sepekan terakhir ini terjadi disebabkan karena air bersih digunakan oleh pihak ketiga yang sedang membangun gedung dalam kompleks rumah sakit tersebut.

  “Kami sudah check kondisi kekurangan air bersih yang terjadi di RSUD Jayapura dalam beberapa hari terakhir. Ini karena digunakan pihak ketiga yang sedang membangun dalam kompleks rumah sakit ini. Kami sudah menyurati pihak ketiga itu yang meminta mereka menghentikan pemakaian air secara berlebihan,” kata dr Anthon.

  Anthon yang juga Penjabat Bupati Nabire ini berharap dalam beberapa hari ke depan, masalah kekurangan air bersih yang menimpa RSUD Jayapura, sudah dapat teratasi dengan baik sehingga tidak mengganggu hingga ke unit pelayanan.

   Kiung Suntoyo, kontraktor yang sedang membangun gedung Rawat Inap RSUD Jayapura dikonfirmasi wartawan Minggu (5/9) mengaku pihaknya sudah tidak lagi menggunakan air dari RSUD Jayapura untuk kebutuhan pembangunan. Sebab pasca Sertijab, Kamis (26/8), bagian teknisi dari IPRS rumah sakit itu sudah memutuskan jaringan ke tempat proyeknya.

  “Memang sebelumnya kita pakai, tapi kan orang teknis di IPSRS selalu kasih mati hidup, lagian kita pakai tidak banyak, karena cor kan pakai adhimix. Dan semenjak Sertijab direktur, akses air ke kami itu sudah diputus orang teknisi IPSRS atas permintaan manajemen, karena katanya air dari PDAM debitnya kecil. Sebelumnya, di masa Pak Aloysius jadi direktur, tak ada masalah kita. Air melimpah. Di ruang-ruang pelayanan saja sampai air terbuang saat ada saudara sakit,” kata Kiung.

  Hal senada disampaikan kontraktor lain, Robert yang sedang membangun Rawat Inap VVIP RSUD Jayapura. Menurutnya, sejak 30 Agustus 2021, pihak IPRS RS sudah memutuskan jaringan pipa di bagian depan dan belakang menuju ke lokasi proyeknya.

  “Dan sejak saat itu, kami beli air sendiri. Satu tangki air yang 5.000 liter harganya Rp 200 ribu. Rata-rata 1 tangki untuk kebutuhan kami membangun 1 hari. Bisa dicek, jaringan pipa kami sudah dipotong,” kata Robert, Mingggu (5/9). 

  Direktur Utama PDAM Jayapura Entis Sutisna beberapa kali dikonfirmasi wartawan Minggu (5/9) malam, namun tidak mengangkat telepon seluler yang dihubunginya.

  Sementara itu, pengamat masalah kesehatan di Papua Yulianus Dwaa, SKM menilai terulang kembalinya masalah air bersih di RSUD Jayapura ini tidak terlepas dari manajemen kepemimpinan. Ia menilai, jika selama satu tahun lebih, air bersih di rumah sakit itu melimpah ruah, itu artinya Aloysius Giyai mampu membangun komunikasi dan solusi yang baik dengan berbagai pihak, termasuk dengan PDAM Jayapura.

  “Nah ini tantangan bagi manajemen baru di bawah kepemimpinan dr Anthon Mote untuk bisa belajar seperti Aloysius sebagai seniornya agar masalah air bersih segera diatasi dan tidak mengganggu pelayanan. Harus segera membangun komunikasi yang baik, baik dengan manajemen rumah sakit yang lama maupun pihak PDAM agar segera diatasi. Kalau pakai beli terus kan anggaran membengkak,” kata Yulianus, Minggu (5/9) malam. (*/tim/tri)