Suasana Pasar Potikelek yang sepi dengan Pembeli.  Insert Pedagang yang mulai berjualan jalan irian dan Safri darwin Wamena. (FOTO : Denny/ Cepos )

WAMENA-Mama–mama Pedagang Asli Papua yang kesehariannya menjual sayuran di Pasar Potikelek Wamena mengeluhkan kurangnya pembeli pasca sebagian besar warga Non Papua pergi meninggalkan Jayawijaya usai kerusuhan beberapa waktu lalu. Selain itu warga juga cernderung memilih untuk berbelanja dalam kota sehingga pedagang di pasar merasa perekonomiannya terganggu.

  Salah seorang pedagang Pasar Potikelek Mama Yakomina Kossay menyatakan bahwa ia ia berjualan di Pasar Potikelek sejak pagi, pukul 07.00 WIT. Saat ini ia kesulitan untuk mencari pembeli, terkadang modal yang dikeluarkan untuk membeli sayuran dan untuk dijual kembali itu tidak bisa kembali semua. Bahkan ada yang tidak laku dan tak bisa dijual kembali lantaran sudah busuk.

  “Sejak kerusuhan   lalu, banyak barang –barang kami yang sudah busuk karena kami tidak bisa berjualan   selama seminggu karena masih takut, ini membuat kami pedagang kecil di Pasar Potikelek ini rugi,”ungkapnya Jumat (11/10) kepada Cendererawasih Pos.

  Mama Yakomina menceritakan, pada saat kejadian kerusuhan terjadi yang bisa diselematkan dari jualannya tidak semua, ia hanya menyelamatkan uang dagangan yang ada dalam noken dan beberapa jenis sayuran yang dijual lalu pergi menyelamatkan dirinya, sebagian uang yang diselipkan dalam karung yang dialas sebagai tempat jualan ditinggalkan.

  “Pembeli dipasar potikelek dari 23 september sampai dengan saat ini masih tergolong sepi, untuk saat ini mama –mama dari kampung yang membawa jualannya ke pasar Potikelek ini hanya mengandalkan ojek, untuk mobil tidak ada,”jelasnya

  Mama Kossay mengakui jika pasca aksi anarkis itu ia tak mengenali kelompok siswa SMA yang melakukan pelemparan dan pengerusakan itu , dan mereka bukan masyarakat dari Jayawijaya, bahkan masyarakat dan pedagang yang ada di Pasar Potikelek ini sebagian besar tidak tahu. 

  “Kalau yang bakar kiri kanan, lempar dan merusak itu bukan anak –anak sekolah, kami juga korban karena kami punya barang dagangan ini hancur  semuanya,”tuturnya.

  Para pedagang yang ada di Pasar Potikelek, menurut Mama Kossay, semua saling mengenal dengan baik, entah itu Papua, maupun non Papua selama ini berjualan sama –sama. Menurutnya,  banyaknya masyarakat non Papua yang mengungsi ke luar Wamena mempengaruhi pendapatan mama –mama pedagang di Pasar Pitikelek.

  “Kalau biasa kita punya saudara –saudara yang dari luar datang ini, mereka yang buat rame dan membeli kita punya barang dagangan ini, sekarang memang sudah sepi karena saya dengar banyak mereka yang pergi ke Jayapura maupun pulang kampung,”jelasnya

  Ia mengaku, mama –mama dipasar sebenarnya kasian dan sangat disayangkan mereka harus pergi meninggalkan Wamena, apalagi bagi mereka yang sama –sama berjualan dalam pasar ini pada saat pasar ini kembali dioperasikan oleh Pemda Jayawijaya.

 “Kami juga berharap pemerintah bisa mengembalikan pedagang yang kembali berjualan di luar pasar Potikelek untuk kembali ke pasar agar bisa menarik pembeli kembali, usai aksi kerusuhan kemarin itu banyak mama –mama yang keluar dari pasar Potikelek dan berjualan di jalan Safridarwin kembali,”bebernya.(jo/tri)