Muhammad Ikbal yang ikut melakukan agenda penanaman di Bukit Pelangi APO melintas di lokasi yang dijadikan kebun oleh warga yang berdampak pada menurunnya debit air. Dilokasi ini juga banyak pohon soang yang ditebang. (Gamel Cepos)

JAYAPURA – Meski Kota Jayapura maupun Kabupaten Jayapura sudah berulang kali terjadi musibah bencana alam hingga menimbulkan kerugian yang tak hanya harta benda tetapi juga nyawa namun perbuatan merusak  di kawasan penyangga maupun kawasan hutan masih terus terjadi. Lokasi perkebunan juga hingga kini masih bisa ditemukan di titik – titik ketinggian dan salah satunya di Bukit Pelangi A.P.O yang berada tak jauh dari sumber mata air.

Di lokasi yang tak jauh dari mata air atau air terjun ini terhadap kawasan yang cukup luas dan pepohonannya ditebang dan kayu – kayu besar soang juga ikut ditebang. “Debit air di air terjun ini sudah tidak sama seperti beberapa waktu lalu. Yang jelas terjadi penurunan apakah karena memang sedang tidak hujan atau karena perambahan tapi yang pasti penurunan debit sudah berlangsung cukup lama,” kata Kelvin Senge, salah satu alumni School Eco Diplomasi, Selasa (29/12).

Tak hanya itu, ia melihat ada sejumlah pohon soang yang berukuran cukup besar ditebang hingga mendekati permukaan tanah padahal dikatakan pohon ini sejatinya bisa menjadi pelindung khusus diarea puncak bukit. “Lokasinya juga sangat curam tapi kami lihat disini ada kebun yang dibuka warga termasuk pohon – pohon yang bisa mengikat tanah pada posisi curam tapi malah ditebang. Kalau begini kami tidak heran jika air yang jatuh di ketinggian akan cepat sekali sampai ke bawah karena memang tidak ada yang mengikat airnya,” beber Kelvin.

Ia sendiri dengan beberapa rekannya melakukan penanaman untuk menyulam sejumlah bibit yang sudah ditanam namun gagal tumbuh. “Lokasinya menarik dan bisa dipakai sebagai tempat rekreasi karena memiliki spot murah meriah apalagi tempatnya tak jauh dari kota, jadi kami coba lakukan penanaman karena memang ada bibit yang gagal tumbuh termasuk lokasi yang dibakar untuk jadi lahan perkebunan,” imbuhnya. (ade/wen)