SENTANI-Ondofolo Kampung Sereh Yanto, Khomlay Eluay memberikan klarifikasi terkait kejadian terbakarnya Mapolsek Kawasan Bandara Sentani dan beberapa unit ruko yang berada di samping Mapolsek serta satu unit rumah di belakang Mapolsek, Senin (6/9) malam

Yanto Eluay yang sudah diamankan Polres Jayapura  lantaran diduga sebagai pelaku utama aksi pengrusakan dan pembakaran rumah yang mengakibatkan sejumlah Ruko dan Mapolsek Kawasan Bandara Sentani ikut terbakar telah mengaku memimpin aksi tersebut.

Dia menjelaskan bahwa  titik awal persoalan itu hingga terjadinya kebakaran di area bandara, karena menanggapi aksi yang dilakukan oleh korban terhadap para pekerja yang akan membuat panggung dan stand atau pondok di lapangan makam Theys H. Eluay, untuk mendukung pelaksanaan PON XX Papua Tahun 2021 dalam acara Gebyar PON XX di Sub PB PON XX Klaster Kabupaten Jayapura.

“Kesepakatan untuk tempat kegiatan Gebyar PON XX di lapangan makam Theys H. Eluay berawal dari pertemuan antara saya selaku Ondofolo Hele Wabhouw Kampung Sereh dengan Bupati Jayapura Mathius Awoitauw saat berkunjung ke Rumah Pengolahan Tepung Sagu dan Pusat Kuliner Papua Sentani yang terletak di Kampung Sereh Tua,” ungkap Yanto Eluay melalui rilisnya,  Rabu (8/9) pagi.

Saat kunjungan itu diakuinya, Bupati Jayapura menyampaikan tentang rencana dibuatnya panggung hiburan dan stand dengan tajuk Gebyar PON XX di lapangan makam Theys H. Eluay yang akan dimulai pada 15 September dan akan berlangsung hingga penutupan event PON XX tanggal 15 Oktober mendatang.

“Adanya permintaan untuk menggunakan tempat tersebut, selaku Ondofolo Hele Wabhouw Kampung Sereh sebagai pemilik wilayah adat, maka saya menyetujui dan juga memutuskan secara lisan untuk menggunakan lokasi tersebut. Pertimbangan saya untuk menyetujui penggunaan lapangan makam Theys Eluay untuk acara Gebyar PON XX, karena akan menarik pengunjung dan juga berdampak bagi pendapatan masyarakat adat yang berjualan di area itu selama even PON berlangsung,” bebernya.

Pembicaraan dan juga kesepakatan lisan tersebut, lanjut Ondo Yanto Eluay, kemudian ditindaklanjuti oleh Bupati Jayapura, dimana sore harinya fasilitas panggung didatangkan untuk dipasang di sekitar lokasi lapangan Theys.

“Namun saat persiapan pemasangan, tiba-tiba datang saudara Iryanto Ondi dengan membawa samurai bersama saudara Robert Ondi dan Edison Ondi, untuk menghentikan dan mengejar para pekerja pemasangan panggung,” katanya.

“Dalam aksi mereka tersebut disertai pernyataan di antaranya ini tanah milik kami, bukan tanah milik Ondofolo Yanto Eluay dan bayar kami dulu sebelum dikerjakan. Nah, pernyataan mereka inilah disampaikan oleh anak saya kepada saya, saat tiba di rumah usai mengikuti acara di Kotaraja bersama salah satu petinggi Polri,” sambungnya.

Merasa tidak dihargai dan dihormati keputusannya sebagai pemimpin tertinggi masyarakat adat Kampung Sereh dan juga sebagai pemilik wilayah adat tersebut, dirinya lantas secara spontan mengajak anak-anaknya dan juga beberapa masyarakat, untuk mencari dan mendatangi rumah tiga orang yang telah mendatangi para pekerja di lapangan makam Theys Eluay.

“Beberapa pertimbangan agar keputusan Ondofolo untuk kepentingan rakyat, jangan lagi di halang-halangi oleh siapapun dia. Sesuai hukum adat dan demi harga diri serta wibawa saya sebagi Ondofolo, maka saya sendiri yang pimpin dan perintahkan anak-anak saya dan beberapa masyarakat yang ikut untuk cari orangnya. Dan kalau orangnya tidak ada, rumahnya dibakar sebagai pembelajaran dalam sanksi adat,” tegasnya.

Saat mencari dan mendatangi rumah Iryanto Ondi, kemudian dipanggil tidak keluar rumah, Yanto Eluay mengaku memerintahkan untuk menghancurkan dan membakar rumah dari Iryanto Ondi.

Kemudian saat pembakaran terhadap rumah Yanto Ondi ini kemudian merambat  ke pos kantor polisi Kawasan Bandara Sentani. 

“Beberapa berita media online yang beredar, seakan-akan memberitakan kami datang untuk membakar kantor Polsek KP3 Bandara Sentani, itu tidak benar,” sesalnya.

Untuk itu, dirinya berharap kalau tidak memahami persoalan jangan memberikan tanggapan yang berlebihan dan terkesan memprovokasi. “Jadi ini semata-mata saya lakukan untuk menjaga harkat, martabat dan juga wibawa, serta harga diri saya sebagai seorang Ondofolo. Konsekuensi dan sanksi dalam konteks adat. Tapi sebagai warga negara, saya juga harus tunduk dan patuh pada hukum yang berlaku di negara ini. Oleh sebab itu, saat ini saya sedang mengikuti proses hukum di Polres Jayapura,”tutupnya. (roy/nat)