Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua, SE, M.Si., saat mendampingi ketua MPR RI Bambang Soesatyo melihat progres pembangunan Ruko dan rumah khusus di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Selasa (2/3). (FOTO: Denny Tonjau/Cepos)

JAKARTA, Jawa Pos-Enam bulan pasca kerusuhan di Wamena, Papua pada September 2019 lalu perbaikan fasilitas yang rusak terus dilakukan. Baik pemukiman, maupun fasilitas umum. 

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) tengah menyelesaikan pembangunan total 193 unit rumah khusus (Rusus) bagi masyarakat korban kerusuhan. Selain itu, PUPR juga melakukan perbaikan untuk 403 rumah toko (ruko) di Pasar Wouma.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, rumah khusus adalah program Kementerian PUPR yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan khusus, seperti nelayan,  guru, tenaga medis, TNI-Polri, petugas di daerah perbatasan dan pulau terpencil, dan termasuk pemukiman kembali pengungsi korban bencana alam /sosial. 

“Program penyediaan rumah khusus tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat terdampak untuk kembali memiliki rumah di atas lahan yang mereka miliki,” kata Basuki kemarin (4/3).

Direktur Rumah Khusus Ditjen Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR, Christ Robert Marbun mengatakan, pembangunan rumah khusus tersebut dilakukan melalui kerja sama swakelola antara Direktorat Jenderal (Ditjen) Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR dengan Direktorat ZENI TNI AD. 

Sebanyak 193 Unit Rusus tersebut dibangun dengan tipe 36 dengan lokasi berada di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya dan tersebar di seluruh distrik. Menurut Robert, dari total pembangunan rusus yang sudah dilaksanakan sejak Desember 2019 lalu, sebanyak 20 unit sudah selesai dibangun dengan unit yang sudah dihuni sebanyak 10 rumah. “Sedangkan 173 rumah akan dilakukan pada tahap ke-2,” paparnya.  

Nilai kontrak untuk pembangunan 20 unit rumah khusus adalah Rp.12,69 miliar. Pelaksanaan pembangunan dilakukan selama dua bulan dengan lokasi yang tersebar di lima wilayah yakni 6 unit di Distrik Wouman, 6 unit di Distrik Pikhe, 1 unit di Jalan Thamrin Kota Wamena, 1 unit di Jalan Hom Hom Kota Wamena, dan 3 unit di Kota Wamena. 

Selanjutnya pada tahap kedua, sebanyak 173 rumah ditarget akan rampung seluruhnya pada sekitar Juni 2020. “Pembangunan rusus didasarkan atas pengajuan dari warga yang ingin rumahnya dibangun kembali, untuk memastikan rumah tersebut akan dihuni kembali,” ujar Robert. 

Efrem Yarwuan (57) yang bekerja sebagai Guru di SD YTPK Santo Yakobus Kone Lama Wamena menyatakan sangat berterima kasih atas dibangunnya kembali rumah miliknya yang hancur akibat kerusuhan. Lokasi rumahnya bertepatan di samping Pasar Wouma yang juga hancur pada saat kerusuhan. 

“Proses pengajuannya saat itu cukup mudah, hanya perlu melampirkan Surat Permohonan dari korban, Surat Keterangan dari Kepolisian, fotokopi kartu keluarga, dan KTP. Usai kerusuhan saya sempat mengungsi ke kampung halaman di Maluku, dan saya mendapat kabar Januari 2020 lalu rumah saya sudah selesai dan bisa dihuni,” tutur Efrem. 

Sementara itu, rekonstruksi Pasar Wouma sudah selesai dilaksanakan. Menyusul 403 unit ruko yang yang saat ini tengah dikerjakan. Basuki menyebut rehabilitasi yang dilakukan oleh PUPR bersama TNI AD agar lebih cepat dan memiliki kualitas mutu yang baik. 

Pasar Wouma merupakan salah satu pasar tradisional terbesar di Wamena dengan luas 738,4 meter persegi. Usai kerusuhan yang terjadi pada 23 September 2019 lalu, sebanyak 128 lapak pedagang rusak terbakar sehingga mengalami rusak berat. Perbaikan kios selesai hanya dalam waktu 2 minggu. Dan menghabiskan uang sebesar Rp 2,5 miliar

Rehabilitasi dikerjakan oleh PT. Nindya Karya didukung Konsultan PT. Virama Karya dan personil TNI AD. Rekonstruksi dilakukan dengan memanfaatkan struktur beton bertulang dari bangunan eksisting sebelumnya. Perbaikan dilakukan pada rangka atap, penutup atap, meja lapak dengan dilapisi keramik, dan perbaikan lantai.  

Selain Pasar Wouma, Kepala Pusat Pengembangan Sarana Prasarana Pendidikan, Olahraga dan Pasar (PSPPOP) Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR Iwan Suprijanto mengatakan, 403 unit ruko tersebar di tiga titik yaitu Wouma, Hom Hom, dan Pikhe. 

Iwan menjelaskan, dari total 403 yang dibangun oleh 4 kontraktor setempat, sebanyak 120 ruko sudah selesai dan sebanyak 10 unit sedang dalam proses administrasi untuk pembayaran pekerjaan. “Karena ini dalam kondisi darurat maka bisa dilakukan penunjukkan langsung dan dikerjakan dulu dengan administrasi yang tertib dan direview oleh BPKP, baru kemudian dibayar,” paparnya. 

Dikatakan Iwan, salah satu kendala yang dihadapi dalam perbaikan ruko adalah terbatasnya tenaga pekerja dan bahan bangunan, salah satunya seperti rolling door. “Semua item pekerjaan dilakukan tergantung tingkat kesulitan dan luasannya, sesuai RAB yang ada, yakni sekitar Rp. 8-12 juta per meter,” tuturnya.(tau/JPG)