Mengenang Sosok Katekis, Rufinus Tigau Selama Mengenyam Pendidikan D-1 di STAN Jakarta Selatan

Tobias Belau (paling kiri), Salomina Gobay (tengah), dan almarhum Rufinus Tigau (paling kanan), saat foto bersama di depan Kampus STAN Bintaro Jakarta Selatan pada tahun 2014. ( FOTO: Salomina for Cepos)

Kepergian Katekis Gereja Katolik, Rufinus Tigau menyimpan kesedihan dan kenangan yang mendalam bagi umat Katolik di Papua. Termasuk teman-temannya semasa mengenyam pendidikan D-1 di STAN Bintaro Jakarta Selatan. Bagaimana sosok Rufinus di mata mereka ?

Laporan: Roberthus Yewen, Jayapura

BERITA duka menyelimuti umat Katolik Indonesia, khususnya di Papua ketika mendengar seorang Katekis bernama Rufinus Tigau meninggal dunia, usai ditembak oleh oknum anggota keamanan gabungan TNI-Polri di Kampung Jalae Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Senin (26/10) lalu.

Kepergian Rufinus tak hanya menyimpan duka bagi umat Katolik di Stasi Jalae, Paroki Santo Michaelei Bilpgai. Namun kepergian almarhum menyimpan duka yang mandalam dan kenangan bagi para alumnus D-1 Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) tahun 2013.

Rufinus tercatat sebagai alumnus D-1 Jurusan Perbendaharaan. Almarhum berhasil menyelesaikan studi di STAN Jakarta Selatan pada tahun 2014.

Rufinus bisa melanjutkan studi ke STAN melalui program kerja sama melalui UP24B. Rufinus bersama rekan-rekannya mahasiswa Papua dari Provinsi Papua dan Papua Barat yang berhasil menyelesaikan pendidikan di STAN.

Selama mengenyam pendidikan D-1 di STAN, Rufinus di mata teman-temannya merupakan sebagai sosok yang ramah, baik dan tidak banyak bicara. Dia juga terlibat aktif dalam berbagai kegiatan organisasi di kampus dan kegiatan gereja di luar kampus.

Salomina Gobay, salah seorang alumnus D-1 Jurusan Perbendaharaan Negara di STAN tahun 2013 mengaku pertama kali bertemu dengan Rufinus saat kuliah bersama di STAN Bintaro, Jakarta Selatan, bulan September tahun 2013.

Bagi Salomina, Rufinus adalah sosok pemuda yang selama menjadi mahasiswa di STAN selalu rajin, baik, rapi, dan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan yang ada di kampus maupun di luar kampus, terutama di gereja.

“Almarhum adalah sosok yang baik dan mengasihi kawan. Pemuda yang rajin di kampus, rapi, dan paling rajin ikut kegiatan Orang Muda Katolik (OMK) di Gereja Katolik Paroki Mathius Penginjil di Jakarta Selatan,” ungkap Salomina mengenang masa-masa ketika bersama almarhum menempuh pendidikan di STAN, Jakarta Selatan.

Setelah wisuda di STAN Jakarta Selatan, Rufinus pulang ke kampung halamannya di Intan Jaya pada tahun 2014. Di Intan Jaya, Rufinus diangkat sebagai Katekis pada tahun 2015. 

Tugas almarhum adalah sebagai penerjemah bahasa daerah, ketika pastor memimpin ibadah misa di gereja. Selain itu, memimpin ibadah bersama umat ketika pastor tak berada di tempat.

Setelah wisuda, Salomina mengaku tidak pernah lagi bertemu dengan Rufinus selama kurang lebih dua tahun. Padahal setelah selesai mengenyam pendidikan, sebenarnya Salomina bersama almarhum dan beberapa anak-anak Papua, terutama yang merupakan alumnus STAN tinggal menunggu pengangkat menjadi CPNS. Namun hal ini tertunda kurang lebih 2 tahun lamanya. 

Baru pada tahun 2017 alumnus D-1 STAN ini diangkat menjadi CPNS dan Rufinus sebenarnya adalah salah satu yang diangkat menjadi CPNS. Namun almarhum tidak mengurus berkas-berkas CPNS dan memilih menjadi seorang Katekis.

Pada tahun 2016 sebelum pengangkatan CPNS, Salomina bertemu dengan Rufinus di Bandara Nabire. Saat itu, almarhum yang terlebih dulu menyapa Salomina. Mereka berdua berbincang-bincang, karena sudah lama tak bertemu.

Salomina kemudian menyinggung status mereka yang akan diangkat menjadi CPNS. Karena NIP mereka sudah berada di Menpan-RB, tinggal pengangkatan dan penempatan pada bulan Mei 2017. 

Meskipun sempat berbincang-bincang, tetapi Salomina tidak mengetahui status almarhum yang sebenarnya sudah menjadi Katekis di Gereja Katolik sejak tahun 2015 di Kabupaten Intan Jaya.

“Pas ketemu tahun 2016 itu, alrmahum bilang dia di kampung baik-baik saja. Saya tidak tahu kalau dia Katekis di Intan Jaya. Saya baru tahu ketika dia meninggal dunia dari Pastor Yance Yogi,” ungkap wanita murah senyum ini.

Salomina mengaku mengenal baik Rufinus. Bahkan saat dikabarkan meninggal dunia,  dirinya tak percaya bahwa yang meninggal adalah Rufinus. Setelah nanti ditunjukkan fotonya baru tahu kalau ini adalah sahabat lamanya ketika menempuh pendidikan D-1 di STAN Jakarta Selatan.

Almarhum bukan separatis seperti yang dituduhkan oleh aparat keamanan TNI-Polri. Rufinus orang baik dan orang yang polos serta sederhana dalam menjalankan tugas dan panggilannya sebagai seorang Katekis di wilayah pedalaman.

“Sebagai teman dan sahabat, kami harapkan gereja Katolik bisa bersuara. Tidak hanya di Papua, tetapi KWI harus bisa bersuara. Karena yang meninggal ini adalah pewarta yang mulia,” harapnya.

“Diharapkan kepada aparat keamanan. Jangan menyelesaikan persoalan dengan alat tajam. Bisa menyelesaikan dengan budaya dan dialog. Selesaikan dengan baik dan untuk memperdamaian di Papua,” tutupnya.

Sementara itu, Romo (Pastor) Alfonsus Widhi, Xr dalam instagramnya yang diupload, Selasa (27/10) juga ikut mengenang almarhum Rufinus Tigau yang lulusan perbendaharaan STAN 2014. 

Dalam akun instagramnya, Romo Alfonsus menjelaskan bahwa almarhum Rufinus pernah ikut tablo di Paroki St. Matius Bintaro. Di antara teman-temannya, Rufinus yang paling semangat dan aktif di kegiatan OMK. Meski anak ini cukup pendiam, tapi berani dan konsisten. Almarhum juga bisa membuat prioritas yang terbaik untuk masa depannya yang lebih baik serta, tidak terlalu banyak bicara, pekerja keras dan sederhana.

Saat yang lain sibuk menghabiskan uang orang tuanya, almarhum Rufinus sibuk sekolah sampai Jakarta. Sehingga bisa pulang kampung, mengabdi dan membantu keluarganya. “Melawan perang dan ketertinggalan yang ada di Sugapa, kampungnya,” tulisnya. 

Selesai kuliah di STAN, Rufinus kembali ke Timika. Namun sayang pemberkasan CPNS masih mangkrak dan proses sangat panjang. Almarhum tidak mengurusnya, dan memilih mendaftar menjadi pewarta di Keuskupan, menjadi Katekis sampai meninggal untuk membangun.

“Sayang sekali, almarhum cukup terpelajar di kampungnya. Lebih memilih dialog daripada perang. Pernah menjadi korban panah menyasar, kini menjadi korban tembakan saat ia di luar rumah. Dia (almahum) bukan anggota TPNPB, tapi Katekis Keuskupan,” sebut Romo Alfonsus dalam akun instagram tersebut.

“Rufinus, selamat jalan ya bro. Jadilah malaikat perdamaian di tanah tempat engkau dibesarkan dan doakanlah mereka dari surga,” sambungnya. (bet/nat)