Direktur RSUD Jayapura drg. Aloysius Giyai. M.Kes dengan sertifikat penghargaan yang diterimanya sebagai Tokoh Inovatif Kesehatan dari Perwamki, Selasa (10/11) di Hotel Aston Bellevue, Jakarta Selatan. ( FOTO: Staf RSUD Jayapura  for Cepos)

JAYAPURA-Kabar gembira di Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-56 yang jatuh pada 12 November hari ini. Salah satu birokrat Papua, drg. Aloysius Giyai, MKes yang adalah Direktur RSUD Jayapura mengharumkan nama Papua dengan menerima penghargaan dari Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia (Perwamki) sebagai Tokoh Inovatif Kesehatan karena dinilai sukses membangun bidang kesehatan di Papua.

   Dari rilis yang diterima Cenderawasih Pos, penghargaan itu diterima oleh Aloysius Giyai di Hotel Aston Bellevue, Jakarta Selatan, Selasa (10/11) dalam acara “Malam Cinta Bagi Negeri” bertajuk Berkarya dan Memberi yang Terbaik.

  Ketua Panitia acara dari Perwamki, Emanuel Dapa Loka mengatakan Aloysius dipilih bersama 17 tokoh lain yang memiliki dedikasi dan karya besar mereka dalam berbagai bidang. 

   Adapun enam belas tokoh lain yang menerima penghargaan yaitu adalah Dr. Rahmat Effendi (Tokoh Toleransi), Gus Ruchul Maani  (Tokoh Ormas Non Kristen), Alm. DR (HC) Drs. Jakob Oetama (Tokoh Pers Inspiratif), Sugeng Teguh Santoso, SH (Tokoh Pengawal Hukum), Dr. Stefanus Roy Rening, SH (Tokoh Pemikir Hukum), RG Setio Lelono (Tokoh Advokasi Gereja), Handoyo Budhisejati (Tokoh Organisasi Katolik), dan Djasermen Purba (Tokoh Ormas Kristen).

  Selain itu, ada juga Mayjend. dr. Albertus Budi Sulistyo (Tokoh Kesehatan), J. Irwan Hidayat (Tokoh Jamu Herbal Inspiratif), Sandec Sahetapy (Tokoh Penggerak Budaya), Tetty Paruntu (Tokoh Perempuan), Jerry Pattinasarany (Tokoh Inspiratif Muda), James Koleangan (Tokoh Pengusaha Muda), Christie Damayanti (Tokoh Disabilitas Inspiratif), dan Pdt. Rubin Adi Abraham (Tokoh Sinode).

   Menurut Emanuel, Aloysius Giyai telah membuktikan karya nyatanya dalam membangun sektor kesehatan di Papua sejak ia dipecayakan menjadi Direktur RSUD Abepura  selama 2009-2014 yang mengubah wajah rumah sakit yang kumuh itu menjadi rumah sakit yang bersih dan nyaman plus sistem pelayanan kesehatan yang terwariskan dengan baik hingga kini.

  “Kemudian, Perwamki juga melihat selama menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua selama 2014-2020, Aloysius juga membuat sejumlah program terobosan, di antaranya meluncurkan Kartu Papua Sehat (KPS) bagi masyarakat Asli Papua dan membentuk Satuan Tugas Kaki Telanjang (Satgas Kijang) bagi pelayanan di wilayah terisolir, terpencil, jauh dari fasilitas kesehatan,” tegas Eman.

  Eman juga mengapresiasi sosok pria kelahiran Onago, Deiyai, 8 September 1972 ini yang sedang giat-giatnya membangun RSUD Jayapura sebagai fasilitas kesehatan rujukan tertinggi di Papua. Ia menilai berbagai gebrakan pembangunan yang tengah dilakukan Aloysius untuk mengubah lingkungan rumah sakit, membangun unit-unit pelayanan dan melengkapi alat-alat kesehatan berstandard internasional, serta mengubah sistem pelayanan bagi masyarakat adalah bukti bahwa ia memiliki komitmen dan kepedulian yang tinggi untuk menyelamatkan orang Papua dari kematian akibat penyakit.  

  Direktur RSUD Jayapura Aloysius Giyai dihubungi terpisah dengan rendah hati mengaku dirinya belum banyak melakukan apa yang menjadi keinginan masyarakat di bidang kesehatan. Ia menyadari, masih banyak kekurangan yang dimilikinya dan sejumlah PR yang harus dikerjakan, terutama dalam tugasnya saat ini untuk mengubah RSUD Jayapura .

   “Tetapi mungkin ini penilaian dari Perkumpulan Wartawan Media Kristian Indonesia ya saya terima dengan senang hati. Ini menjadi motivasi dan pelecut semangat saya untuk bekerja melakukan perubahan di bidang kesehatan. Penghargaan ini saya persembahkan bagi seluruh rakyat Papua, terkhusus seluruh jajaran direksi RSUD Jayapura yang setia bersama saya dalam gelora semangat, arah langkah dan pikiran yangs ama untuk mengubah dan memperbaiki rumah sakit itu,” kata Aloysius.

  Menurut Aloysius, pengalaman masa kecilnya yang penuh penderitaan dimana saudara-saudari kandungnya banyak yang meninggal akibat tidak mendapat pelayanan medis menjadi cambuk baginya untuk menolong rakyat Papua agar tidak lagi mengalami hal serupa. Karena itu, berbagai kebijakan pembangunan di bidang kesehatan yang dilakukannya semata-mata agar rakyat Papua dapat diselamatkan dari ancaman penyakit.

  “Penghargaan ini dilakukan dalam rangka memperingati hari pahlawan nasional 10 November, Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-56 tahun tanggal 12 November dan HUT Perwamki ke 17. Terima kasih teman-teman pers dari Perwamki atas penghargaan ini,” pungkas Aloysius. (Ist/tri)