BONGKAR: Suasana aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Laut Jayapura, Jumat (20/3). ( FOTO: Elfira/Cepos)

Pelindo Berharap Distribusi Sembako Tidak Dilockdown

JAYAPURA- Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Laut Jayapura tetap berjalan seperti biasanya di tengah wabah Virus Corona (Covid-19) melanda Indonesia. 

Kepala Pelindo Jayapura, Sony Uktor Sea menyebutkan, aktivitas bongkar buat barang tetap berjalan sebagaimana biasanya. Dirinya berharap bongkar muat dan distribusi sembilan bahan pokok atau Sembako tidak dilockdown.

“Untuk kegiatan bongkar muat peti kemas dan distribusi barang kepada masyarakat tetap berjalan,” tuturnya saat dikonfirmasi Cenderawasih Pos melalui telepon selulernya, Jumat (20/3). 

“Kami tidak akan lockdown dan tetap beraktivitas seperti biasa. Ini adalah pelayanan publik yang isinya adalah kebutuhan sembilan bahan pokok,” sambungnya.

Sementara untuk aktivitas perkantoran, Pelindo menurut Sony menyesuaikan dengan surat edaran yang sudah ada. Namun, untuk kegiatan bongkar muat peti kemas dan barang kepada masyarakat, Sony mengaku itu tidak bisa dilockdown.

“Kalau sampai ada daerah yang lockdown, mereka sendiri yang susah nantinya. Karena distribusi  barang dikirim ke masing-masing lokasi atau daerah,” jelasnya. 

Dikatakan, aktivitas bongkar muat di pelabuhan tetap seperti biasa selama belum ada surat perintah dari Kementerian Perhubungan.

Dirinya meminta masyarakat untuk tidak mudah panik. Selain itu, pemerintah juga harus menjamin kebutuhan sembilan bahan pokok (Sembako)  dan obat-obatan. Sebab Pelindo tetap akan melaksanakan  kegiatan bongkar muat untuk mendistribusikan barang-barang kepada masyarakat.

“Pendapat saya untuk aktivitas masuk keluarnya manusia, atau kegiatan yang sifatnya berkumpul bisalah dibatasi. Tetapi untuk kegiatan distribusi 9  bahan pokok  saya rasa jangan sampai dilockdown,” pintanya.

Agar harga barang tetap stabil di pasaran, Sony meminta pihak terkait untuk melakukan sweeping. Dikhawatirkan adanya penumpukan barang yang nantinya menyebabkan inflasi nantinya.

Sementara itu, dalam penanganan penyebaran  Covid-19. Sony mengaku pihaknya bekerja sama dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan Jayapura. Dengan melakukan deteksi terhadap setiap penumpang yang turun dari kapal dengan cara mengukur suhu tubuhnya.

Sementara itu, dari pantauan Cenderawasih Pos di lapangan, aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Laut Jayapura Jumat (20/3) tetap berjalan sebagaimana biasanya.

Para pekerja di lapangan juga tetap melakukan pengawasan saat bongkar muat dilakukan, mereka mengaku selalu mengecek kesehatannya setiap kali bekerja. 

Secara terpisah, Sekretaris Daerah Provinsi Papua, Dr. Hery Dosinaen, menyebutkan bahwa dengan status Papua yang masih siaga darurat dari penyebaran Covid-19, maka bandara dan pelabuhan laut diperketat. Terutama terhadap orang yang masuk dan keluar Papua.

Hal ini Sekda Dosinaen sampaikan menyusul adanya sekelompok masyarakat yang meminta agar bandara dan pelabuhan ditutup untuk mengantisipasi ancaman penyebaran Covid-19 di Papua.

“Ya, ada kelompok masyarakat yang meminta pelabuhan dan bandara ditutup. Ini kami bahas dalam rapat terpadu yang dipimpin Ketua DPR Papua. Karena kita ini statusnya masih siaga darurat, maka masih berlakukan transportasi laut maupun udara. Tapi, memang petugas melakukan tindakan pencegahan di pintu masuk pelabuhan maupun bandara,” jelas Sekda Hery Dosinaen menjawab Cenderawasih Pos, Jumat (20/3) kemarin.

Sebelumnya, Asisten Bidang Perekonomian dan Kesra Sekda Papua, Muhammad Musa’ad juga menyebutkan bahwa pintu masuk-keluar orang di Papua akan diperketat dalam upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di Papua.

 “Kita akan memperketat pintu masuk keluar orang di Papua, dalam hal ini di bandara, pelabuhan, maupun perbatasan. Untuk itu, kepada semua bupati/wali kota di Papua, sesuai dengan instruksi gubernur, diminta untuk memperketat pintu masuk di daerahnya masing-masing,” ujar Muhammad Musa’ad.

Menurut Musa’ad, orang yang masuk ke Papua, khususnya melalui pintu masuk bandara, pelabuhan maupun pintu perbatasan di kabupaten/kota, harus dipastikan kesehatannya. Sebaliknya, kalau ada potensi bahwa yang bersangkutan tidak sehat, serta berpotensi pula menyebarkan Covid-19, maka bisa dikembalikan ke tempat asalnya.

“Mohon maaf, dengan sangat terpaksa, untuk menjaga Papua, maka kita bisa mengembalikan siapa saja yang ketika masuk di Papua ternyata membawa Covid-19.  Itu sudah ada instruksinya. Jadi, bukan semua orang kita larang untuk masuk Papua. Melainkan orang yang berpotensi menyebarkan virus itu saja yang bisa kita pulangkan,” tambahnya. (fia/gr/nat)