SERAHKAN DIRI: Ajudan Goliat Tabuni, Telangga Gire bersama beberapa rekannya menyerahkan diri di hadapan Dandim 1714/PJ Letkol Inf Agus Sunaryo di Kampung Wurak, Distrik Ilu, Kabupaten Puncak Jaya, Sabtu (8/6).( FOTO : Kodam for Cepos)

Bersama Tiga Rekannya Serahkan Senpi dan Sejumlah Amunisi

JAYAPURA-Anggota KSB (Kelompok Separatis Bersenjata) dengan wilayah pergerakan  Kabupaten Puncak Jaya yang merupakan ajudan Goliat Tabuni bernama Telangga Gire (30) bersama tiga rekannya bernama Piningga Gire (25), Tekiles Tabuni (30) dan Perengga (27) menyatakan kembali ke pangkuan MKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), Sabtu (8/6) lalu. 

Ajudan Goliat Tabuni bersama tiga rekannya menyatakan menyerahkan diri serta berikrar kesetiaan kepada NKRI di hadapan Dandim 1714/Puncak Jaya, Letkol Inf Agus Sunaryo didampingi 25 orang anggota Kodim 1714/PJ di Kampung Wurak Distrik Illu Kabupaten Puncak Jaya.

Selain menyerahkan diri, empat orang tersebut juga menyerahkan satu pucuk senjata api jenis mosser dan sejumlah munisi cal. 7,62. 

Menurut Telangga Gire bahwa senjata tersebut merupakan milik Polri yang dirampas pada saat penyerang Polsek Karubaga di Kabupaten Tolikara tahun 2013 silam.

Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf. Muhammad Aidi mengatakan proses penyerahan diri ini berawal dari komunikasi dengan seorang anggota Kodim 1714/PJ bernama Sertu Jefri May yang berlangsung sejak tanggal 05 Mei 2019. Telangga bersama beberapa orang rekannya sudah lama ingin menyerahkan diri namun tidak tahu bagaiman caranya karena takut ditembak oleh anggota TNI dan Polri.

Namun setelah kenal dengan Jefri May dan kawan-kawannya menjalin komunikasi secara intens baik via telpon maupun dengan pertemuan secara langsung dan selama masa perkenalan dan proses komunikasi Sertu Jefri selalu melaporkan perkembangannya kepada Dandim Letkol Inf Agus Sunaryo untuk mendapatkan petunjuk.

“Agus menitip pesan bahwa TNI menjamin keselamatan mereka bila ingin menyerahkan diri secara sukarela. Kita semua bersaudara, mari bersama-sama membangun Papua untuk masa depan generasi kita yang lebih baik. Papua sudah merdeka dalam bingkai NKRI, pesan Dandim,” tutur Kapendam.

Sementara itu, Telangga beserta kelompoknya secara diam-diam mengamati interaksi TNI bersama rakyat. Pada Kamis (6/6) lalu sekira pukul 17.00 WIT empat orang anggota Kodim dipimpin Sertu Jefri May melaksanakan pertemuan dengan Telangga di Distrik Tingginambut. Dalam pertemuan tersebut mereka menyatakan tekadnya untuk menyerahkan diri kembali kepangkuan NKRI.

Hari itu juga mereka diantar ke Makodim untuk menghadap Dandim di Distrik Mulia Puncak Jaya, sekira pukul 23.00 WIT. Terkait hal itu, Dandim langsung berkoordinasi dengan Bupati Puncak Jaya, Yuni Wonda tentang keinginan anggota KKSB kembali ke Pangkuan NKRI. Bupati kemudian menyanggupi akan memberikan mereka pekerjaan dan memperbaiki rumahnya.

“Hasil pertemuan dengan Dandim, Telangga Gire mengaku bahwa senjatanya disimpan di  Kampung Wurak, Distrik Illu, Kabupaten Puncak Jaya dan berjanji akan menyerahkan senjata tersebut dan akan mengajak tiga orang kawannya,” ucapnya.

Terkait kembalinya 4 orang anggota KSB ini, Pemkab Puncak Jaya berencana melakukan upacara penerimaan warga, yang dipimpin langsung Bupati Puncak Jaya, Selasa (11/6) besok dengan mengundang warga Mulia, Puncak Jaya. 

Dikatakan, Bupati Puncak Jaya juga berjanji menyalurkan pekerjaan serta membangun rumah untuk anggota KSB yang bersedia menyerahkan diri kembali ke pangkuan NKRI.

Menurut Kapendam, selama ini mereka merasa tertipu oleh Goliat Tabuni dan kelompoknya yang menyebutkan tidak lama lagi Papua akan merdeka dan mereka akan dijanjikan jabatan tinggi. Namun semuanya hanya merupakan janji. 

“Kami bertahun-tahun hidup menderita di hutan, kepanasan, kedinginan, kehujanan, kelaparan dan lain-lain. Tiap hari hanya makan petatas dan keladi ambil dari kebun warga, sementara pembangunan di kampung-kampung dan di kota-kota semakin maju dan warga hidup sejahtera. Tutur Telangga penuh penyesalan,” tutur Telangga Gire.

Telangga juga mengimbau kepada seluruh rekan-rekannya yang masih di hutan agar segera kembali ke pangkuan NKRI agar bisa hidup normal sebagai warga negara Indonesia. “Apa yang kita perjuangkan selama ini hanya mimpi-mimpi kosong. Kasihan anak keturunan kita. Mereka harus kita siapkan agar mereka bisa hidup lebih baik di masa yang akan datang,” tutupnya. (fia/nat)