AMBIL DARAH: Seorang petugas Gugus Tugas Covid Kota Jayapura ketika mengambil sampel darah dari seorang pedagang di Pasar Ikan Hamadi, Sabtu (9/5) pekan kemarin. Dari hasil rapid tes di lokasi ini ditemukan 37 orang dinyatakan reaktif covid. ( FOTO: Gamel/Cepos)

Rapid Tes di Pasar Ikan Hamadi, 37 Pedagang Reaktif Covid-19

JAYAPURA- Hasil  rapid tes yang dilakukan kepada pedagang ikan di Pasar Ikan Hamadi, Sabtu (9/5) berhasil menemukan sebanyak 37 pedagang yang dinyatakan reaktif Covid-19. Dengan jumlah ini menegaskan bahwa lokasi  Pasar Ikan Hamadi harus betul-betul dipantau dan ditutup sementara waktu agar tak memberi dampak pada daerah lain. 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura, dr. Ni Nyoman Sri Antari mengatakan, rapid tes yang digelar di kompleks Pasar Ikan Hamadi diikuti 212 warga. Dari jumlah tersebut, sebanyak 37 orang dinyatakan reaktif Covid-19.  “Hasil rapid test yang reaktif tetap kami lakukan tes PCR ke Labkesda Provinsi Papua untuk memastikan merekla positif atau negatif,” jelasnya kepada Cenderawasih Pos, Sabtu (9/5). 

Ditambahkan, saat ini selain ada 10 orang penjual ikan yang dinyatakan positif Covid-19 dan sudah dirawat di RSUD Jayapura. Sabtu (9/5) menurut dr. Sri Antari terdapat penambahan tiga pasien positif Covid-19. Tiga pasien baru positif Covid-19 ini berprofesi sebagai anggota Polri dan tim medis. “Ketiganya sudah dirawat di RS Bhayangkara dan RS Abepura. Ketiga pasien tersebut berasal dari kelurahan Kota Baru, Distrik Abepura, Kelurahan Hedam, Distrik Heram dan kelurahan Tanjung Ria, Distrik Jayapura Utara,” pungkasnya.

Secara terpisah, Ketua Tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Jayapura, Ir. H. Rustan Saru, MM., menambahkan, jika sudah ada pasien yang dinyatakan reaktif maka tetap keluarganya harus diisolasi mandiri. Sementara warga yang rapid tesnya reaktif, akan dilanjutkan dengan pengambilan swab untuk di uji laboratorium dengan metode PCR.

 “Jika hasilnya positif yang bersangkutan harus dirawat di rumah sakit dan tim medis langsung melakukan trace untuk mengetahui dengan siapa saja yang bersangkutan pernah kontak, untuk dilakukan rapid test dalam memutus dan mencegah penyebaran Covid-19,” tandasnya. 

Mengenai daerah zona merah yang ditinggali pasien Covid-19, seperti di rawa I,II, Hamadi Pontong dan Komplek SMAN 4 Entrop Jayapura menurut Rustabn Saru juga akan dilakukan rapid tes dan dilakukan karantina wilayah. Hal ini untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dan warga yang tetap akan diberi bantuan bahan makanan oleh pemerintah.

Pemerintah Kota Jayapura sendiri memastikan akan menutup beberapa lokasi di sekitar pasar mulai dari Hamadi Rawa I, Hamadi Rawa II, Hamadi Pontong dan Pasar Ikan Hamadi Selasa (12/5) besok, selama beberapa hari.

Sementara dari pantauan Cenderawasih Pos di lokasi pelaksanaan rapid tes di kompleks Pasar Ikan Hamadi, ternyata ada beberapa  pedagang yang tak nadinya tak bisa mengeluarkan darah saat ditusuk jarum. 

Bahkan petugas sempat memberi instruksi untuk melemaskan otot dengan menggerak gerakkan lengan. “Sudah ditusuk kiri kanan tapi tidak keluar darah, jadi tadi kami istirahatkan dulu,” kata seorang petugas. 

Menurut Rachma Sibi koordinator Tim Gugus Covid di Pasar Ikan Hamadi yang ditemui Cenderawasih Pos, jumlah rapid tes yang disiapkan untuk melayani warga, Sabtu (9/5) sebanyak 200 alat. “Sudah ada beberapa yang ditemukan reaktif,” kata  Rachma Sibi di sela-sela kegiatan rapid tes. 

Ia menyebut dari pemeriksaan awal beberapa hari sebelumnya di kantor wali kota, ternyata ada yang ditemukan reaktif sehingga pengetesan dilanjutkan di pasar langsung. “Saat di kantor wali kota ternyata masih banyak yang tidak datang jadi kami coba masuk langsung,” jelasnya. 

Ini terbukti dimana beberapa pedagang yang melapor mengaku tak sempat mengikuti pengetesan pertama. Sementara beberapa pedagang lain mengaku tak begitu mengetahui jika pasar akan ditutup. “Belum dengar tahunya memang hari ini hanya ada tes seperti ini (rapid test) kata Acin pedagang ikan yang baru 3 bulan berjualan di Pasar Hamadi. 

Acin sendiri baru datang dari Ambon dan  selama di Ambon ia bekerja sebagai tukang cukur. “Saya baru sampai Jayapura sini baru ketahuan ada banyak yang positif seperti ini,” tambahnya. 

Ia sendiri awalnya khawatir soal pandemi ini namun dikatakan mau tidak mau ia harus tetap berjualan  untuk bertahan hidup. “Takut  cuma mau bagaimana lagi,”  jelasnya. 

Pedagang lainnya, Suwardi memilih memeriksakan diri karena ingin tahu lebih awal. “Mumpung ada pemeriksaan dan jangan sampai sudah parah baru tahu,” jelasnya. (dil/ade/nat)