bongkar tempat jualan
Alat berat excavator diturunkan Pemkot Jayapura untuk membongkar tempat jualan ikan di Pasar Youtefa Abepura, Rabu (16/12). Pembongkaran ini dilakukan terkait dengan pemindahan pedagang ke Pasar Baru Youtefa Kotaraja. ( FOTO: Priyadi/Cepos)

*BTM: Jangan Ada Halang-halangi dan Jadi Provokator!

JAYAPURA-Sebanyak 870 orang pedagang di Pasar Youtefa akhirnya dipindahkan ke Pasar Baru Youtefa Kotaraja. Pedagang yang dipindahkan tersebut terdiri dari penjual ikan 97 orang, pedagang pasar pagi dari Koya dan Arso 413 orang dan pedagang Mama-mama Papua sebanyak 360 orang.

Terkait dengan pemindahan tersebut, Pemkot Jayapura yang dibackup Polresta Jayapura Kota dan Kodim 1701/Jayapura melakukan pembongkaran tempat jualan ikan, pedagang Mama-mama Papua dan pedagang pasar pagi. Pembongkaran direncanakan brlangsung dua hari yaitu Rabu (16/12) dan Kamis (17/12). 

Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano, MM., didampingi Wakil Wali Kota Jayapura, Ir. H. Rustan Saru, MM., dan Kabag Ops Polresta Jayapura Kota, Kompol Nursalam Saka turun langsung memimpin pembongkaran tersebut. Pembongkaran yang dimulai kemarin (16/120 melibatkan 100-an personel gabungan dari Satpol PP Kota Jayapura, Polresta Jayapura Kota dan Kodim 1701/Jayapura. 

Satu unit alat berat excavator diturunkan untuk melakukan pembongkaran. Di lokasi pasar juga terlihat satu unit mobil water canon milik Polresta Jayapura Kota. 

Wali Kota Jayapura, Dr. Benhur Tomi Mano MM., menegaskan bahwa tujuan pemerintah memindahkan penjual ikan, pedagang Mama-mama Papua dan pedagang pasar pagi ke Pasar Baru Youtefa Kotaraja tak lain untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pedagang. Meskipun BTM mengakui saat ini fasilitas di pasar baru belum lengkap, namun sudah bisa ditempati untuk jualan.

“Pemkot Jayapura sudah melakukan sosialisasi, imbauan dan pendekatan yang baik, tapi pedagang justru tidak mau pindah. Ini karena ada yang memprovokasi. Untuk itu, Pemkot Jayapura bersama unsur lain mengambil tindakan tegas,” ucap BTM kepada wartawan saat memantau langsung aktivitas pembongkaran di Pasar Youtefa, kemarin. 

BTM dengan tegas mengatakan, dirinya tidak takut dengan oknum yang menjadi preman untuk memprovokasi para pedagang untuk tidak mau berjualan di pasar baru. Bahkan BTM mengaku tidak takut mati di negerinya sendiri demi kebenaran dan bermanfaat bagi masyarakat Kota Jayapura.

“Saya tegaskan pasar baru yang pedagang ini mau pindah tempatnya lebih nyaman, aman dan bebas banjir. Dulu banyak pedagang mengeluh di pasar ini, karena setiap 30 menit hujan langsung banjir. Pedagang banyak yang mengeluh akhirnya pemerintah disorot Komnas HAM. Jadi saya minta pemerintah pusat membantu membuatkan pasar yang layak untuk pedagang ini dan sudah dibuatkan malah tidak mau pindah. Seharusnya pedagang bersyukur dan mendukung program pemerintah. Jangan ada yang menghalang-halangi dan menjadi provokator,’’tegasnya.

Untuk itu, diharapkan semua pedagang yang pindah ke pasar baru untuk kompak mau berjualan. Karena tetap pembeli akan datang berbelanja. Oleh sebab itu, jangan ada pedagang yang terpancing provokasi karena pemerintah memindahkan pedagang tentu sudah dipikirkan semuanya.

Di tempat yang sama, Wakil Wali Kota Jayapura, Ir. H.  Rustan Saru, MM., mengatakan, sejatinya pedagang yang pindah di pasar baru harus bersyukur. Karena tempatnya lebih bagus dan bebas banjir. 

Soal keluhan sepi pembeli, Rustan Saru menegaskan, apabila pedagang semua kompak mau berjualan di pasar baru pasti pembeli akan datang membeli. “Jadi jangan khawatir dan soal fasilitas belum lengkap serta tempatnya sempit tidak sama, tentu ini disesuaikan dengan lokasi yang ada. Nanti pedagang pasti bisa menyesuaikan dengan tempat yang ada jika sudah terbiasa berjualan di sana. Untuk fasilitas yang belum lengkap tentu pemerintah akan bertahap memenuhinya, sehingga pedagang tidak perlu khawatir. Ikuti saja apa yang dikatakan pemerintah tidak mungkin
pemerintah menyengsarakan rakyatnya,” tambahnya. 

Secara terpisah Kadis Perindagkop dan UKM Kota Jayapura Robert LN Awi, ST.,MT., menyebutkan secara keseluruhan jumlah pedagang yang dipindahkan yaitu 870 orang. Jumlah tersebut terdiri dari, penjual ikan sebanyak 97 orang, pedagang pasar pagi dari koya serta arso 413 orang dan pedagang Mama-mama Papua sebanyak 360 orang. “Jika mereka mau pindah semua dipastikan pengunjung atau pembeli di pasar baru pasti banyak,” tuturnya. 

Untuk itu, Robert Awi meminta pedagang tidah usah khawatir. Sebab masalah tempat tentunya butuh penyesuaian dan untuk fasilitas pasti perlahan-lahan akan dipenuhi pemerintah. Namun jika pedagang bisa melengkapi sendiri apa yang menjadi prioritas kebutuhannya tentu bisa dilakukan sendiri tanpa harus menunggu bantuan dari pemerintah.

Selain itu, pedagang yang dipindahkan harusnya mengikuti apa yang dilakukan pemerintah. Karena pemerintah telah melakukan sosialisasi selama dua tahun. “Kalau ada pedagang yang tidak mau dipindahkan tentu jadi pertanyaan ada apa. Padahal pasar baru tempatnya nyaman, aman, strategis dan bebas banjir. Jadi pedagang harus mau bersyukur dan soal fasilitas tetap nanti pemerintah akan pelan-pelan penuhi,” tegasnya. 

Sementara itu Jamaludin salah seorang penjual ikan mengaku cukup sedih dengan pembongkaran ini. Namun bagaimana lagi karena ini aturan pemerintah, Jamal tetap akan berjualan di pasar baru untuk memenuhi kebutuhan hidup. 

Mengenai alasannya untuk tidak mau pindah, Jamal menyebutkan setiap pemrintah melakukan sosialisasi, pedagang yang mau minta tanggapan dibatasi. Selain itu, kondisi pasar yang cukup sempit serta fasilitas tidak maksimal, yang membuat pedagang enggan pindah. (dil/nat)