Para pengungsi korban banjir bandang yang saat ini masih bertahan di Posko SKB Sentani, Jalan Kemiri, Selasa, (17/3). (FOTO:Robert Mboik Cepos)

Refleksi Satu Tahun Banjir Bandang Menerjang Sentani, Kabupaten Jayapura  

Tepat 16 Maret 2020 lalu, genap setahun peristiwa banjir bandang di Kabupaten Jayapura, yang mana peritiwa ini merenggut ratusan nyawa manusia.  Meski sudah setahun yang lalu, namun ternyata masih ada ratusan korban bencana masih bertahan di Posko pengungsian. Bagaimana harapan mereka setelah setahun tinggal di Posko pengungsian

Laporan: Robert Mboik- Sentani

SENIN (16/3), kondisi cuaca di langit Kota  Sentani cerah berawan. Cuaca seperti itu kembali menggugah memori  ingatan warga Kota Sentani tentang peristiwa yang telah terjadi setahun yang lalu. Tepat di hari, Sabtu 16 Maret 2019 menjadi hari bersejarah bagi publik Papua khususnya masyarakat yang tinggal di Kota Sentani dan beberapa daerah terdampak lainnya yang menjadi korban akibat datangnya air bah dari Pegunungan Cycloop.  

Bencana alam yang luar biasa itu berhasil merenggut ratusan nyawa manusia, bahkan sampai saat ini ada juga yang belum ditemukan. Belum lagi kerusakan bangunan mulai dari rumah penduduk, sekolah, fasilitas kesehatan dan sejumlah kerugian lainnya hancur berantakan dalam terjangan air bah itu. Peristiwa menyakitkan itu memaksa lebih dari 11 ribu warga harus mengungsi di kompleks, Kantor Bupati Jayapura.  Kini setahun sudah, bencana alam mengerikan itu sudah berlalu. Namun sisa-sisa kegetiran masa  itu belum benar-benar hilang. Karena sebagian kecil dari mereka  yang menjadi korban dari peristiwa itu terpaksa masih bertahan di beberapa Posko. Apa saja pengalaman mereka selama setahun di Posko pengungsian?. Koran ini mendatangi dua tempat penampungan pengungsi, pertama di Posko SKB. Dari data yang disampaikan ketua RT Kemiri, Aser Suebu saat ditemui di Posko pengungsian,  saat ini ada lebih dari 100 warga yang masih di Posko pengungsian itu. Adapun kesulitan yang dihadapi selama ini oleh warga Kemiri itu, adalah layanan air bersih. Sementara untuk makanan, saat ini sudah ditanggug oleh masing masing keluarga.

“Kami yang tinggal di sini karena memang kami kehilangan rumah, sehingga tidak bisa kembali,” kata Aser Suebu.

Selain itu, layanan air bersih juga sangat kurang. Jika sebelumnya bantuan layanan  air bersih ini selalu lancar, namun beberapa bulan belakangan ini, BPBD sudah tidak lagi menyalurkan air bersih.  Dia mengakui, bantuan dari pemerintah sebelumnya lancar dan terpenuhi. Namun ketika masuk di bulan Oktobert, November sampai Desember pasokan air dan bahan makanan sudah dikurangi bahkan sangat kurang.

“Dulu awal-awal itu ada dapur umum, tapi karena pemerintah sudah tidak ada dana, maka kami harus mencari sendiri- sendiri dan bikin masing masing dapur,” jelasnya.

Pihaknya berharap, meskipun bantuan makanan tidak lagi disediakan, pemerintah diharapkan bisa menyalurkan bantuan air bersih secara rutin. Karena saat ini kebutuhan air cukup tinggi, sementara pemerintah sudah tidak lagi menyalurkan air bersih.

Selain itu Posko pengungsian yang masih ditempati pengungsi yang dikunjungi media ini adalah pengungsi di Posko Toladan, Ifar Gunung. Salah satu warga, Yance Wenda mengatakan, saat ini data pengungsi Toladan yang masih tercatat sebanyak 22 kepala keluarga dan 97 jiwa.

Awal kejadian itu mereka sempat bertahan di Gereja Emanuel Toladan, kemudian para orang tua berusaha mencari lahan baru, di salah satu pemilik tanah. Tanah tersebut dibeli dengan harga Rp 700 juta. Hanya saja sampai saat ini mereka belum membayar lahan itu. Dia menuturkan, kendala yang paling besar dihadapi para pengungsi di tempat tinggal yang baru itu minimnya ketersediaan air bersih. Di satu sisi BPBD Kabupaten Jayapura saat ini sudah tidak lagi memasok air bersih. Bahkan itu terhitung sejak Desember 2019 lalu.

“Air bersih sejak kami pindah kelokasi sebelah itu dikasih hanya satu kali dari BPBD dan itu diberikan pada waktu itu dengan tandon,” ungkap Yance.

Saat ini masyarakat sudah mulai membangun rumah  menggunakan sisa material kayu  dan seng yang berasal dari tempat tinggal sebelumnya. Disana ada sekitar lima unit rumah yang sudah dibangun secara swadaya masyarakat setempat. Sedangkan masih ada sembilan kepala keluarga yang masih berada di Posko pengungsian.

Sementara itu, berdasarkan data yang disampaikan dari BPBD Kabupaten Jayapura,  hingga saat ini ada 795 jiwa yang tersebar di beberapa Posko pengungsian, seperti Polomo ada 74 kepala keluarga, SKB 47 KK, Toladan 42 KK, Jalan Pasir 42 KK.

“Disetiap kk itu kadang dihuni oleh beberapa jumlah jiwa,” kata Kepala BPBD Kabupaten Jayapura Sumartono, saat dikonfirmasi media ini, Senin (16/3).

Menurut Sumartono, jumlah warga Sentani yang terkena dampak bencana itu sebanyak 3000 orang, dan itu tergabung dari masyarakat yang menjadi korban di Danau Sentani dan juga di daratan. Pemerintah daerah melalui pihaknya sudah mengusulkan ke pusat untuk mendapatkan dana stimulan pembangunan rumah. Dana itu hingga saat ini belum direalisasikan karena itu langsung dari pemerintah pusat. 

Untuk nilai dana stimulan itu, akan diberikan berdasarkan nilai kerusasakan rumah. Misalnya, rusak berat akan mendapatkan dana stimulan sebesar Rp 50 juta, rusak sedang akan mendapatkan Rp 20 juta dan rusak ringan Rp10 juta.

“Jadi jumlahnya itu sebanyak 3674 itu mulai dari rusak berat, sedang dan ringan. Hanya saja kita masih menunggu dana itu,” ujarnya.

Pihaknya meminta kepada para korban bencana ini tetap menunggu realisasi dari bantuan tersebut. Sementara itu, terkait dengan penyaluran bantuan air dan makanan, saat ini memang sudah mulai dikurangi. Hal ini dikarenakan disesuaikan dengan anggaran yang ada.

“Sampai saat ini kami masih menyalurkan makanan dan air bersih,” bebernya.(*)