Drs.Irianto Sabar  Gattang  ( FOTO:Sulo/Cepos) 

MERAUKE-Entah mau  dibilang membandel  atau tidak,  tapi  itulah  yang   terjadi  bagi  pejabat  negara dan  pejabat strategis  di lingkungan   Pemerintah   Kabupaten Merauke.  Pasalnya,  sampai  batas waktu  perpanjangan   Laporan Harta Kekayaan Pejabat Negara (LHKPN)   dari  Komisi Pemberantasan  Korupsi  (KPK) tertanggal   30 April  2020, ternyata   50  persen lebih pejabat  negara  dan   pejabat  strategis   di lingkungan  Pemerintah  Kabupaten Merauke   yang belum  melaporkan  LHKPN  tersebut.   

   Inspektur  Daerah  Kabupaten Merauke  Drs.Irianto  Sabar  Gattang  mengungkapkan bahwa  dari   141  pejabat  negara dan pejabat  strategis yang harus  melaporkan  LHKPN   tersebut  sampai  batas  waktu  pertanggal 30  April  2020,  ternyata yang  melaporkan  ke KPK baru 64  orang  atau sekitar 45,36  persen. 

  Sementara yang belum melapor sebanyak 77  orang  atau 54, 61  persen.   Jika  dibandingkan  tahun   2019, kata   Sabar  Gattang,  tahun  ini   merupakan  yang  paling terendah.  ’’Kalau    tahun lalu yang  lapor sekitar 88  persen,’’ jelasnya.   

   Sabar Gattang menjelaskan  bahwa   yang  masuk pejabat  negara  adalah   para anggota  dewan,   kemudian bupati, wakil   bupati, sekda, para  asisten dan kepala  SKPD. Sementara      pejabat  strategis  adalah  pejabat  eselon  III yang berada di SKPD strategis  seperti    Badan Keuangan, Pekerjaan  Umum , Inspektorat   Daerah  dan seluruh  bendahara dinas.   “Yang banyak belum melaporkan  adalah  para pimpinan   SKPD,’’ terangnya. 

  Padahal, kata Sabar Gattang, penyampaian LHKPN  tersebut  sudah  diperpanjang  selama  1 bulan. Seharusnya  berakhir  pada 31  Maret  kemudian   karena pandemi Covid-19   sehingga   diperpanjang  sampai  30 April  2020. ’’Kami   sudah  tidak  bosan-bosannya  mengimbau  kepada  teman-teman   pejabat  ini untuk segera melaporkan  LHKPN karena  masalah  LHKPN  ini  terus   dipantau dan menjadi  perhatian  dari KPK,” terangnya.

   Soal  sanksi  bagi   yang tidak  melaporkan  LHKPN   ke KPK   tersebut,  menurut  Sabar Gattang  sebenarnya  dalam  aturan   sudah ada dan jelas. Bagi  yang  tidak melaporkan   LHKPNnya  bagi pejabat negara dan  pejabat  strategis maka tunjangannya  tidak  dibayar.  ‘’Sanksi  paling  berat  adalah  pencopotan  jabatan,’’  tandasnya. 

   Ditanya  apakah   akan menyurat   ke Badan Keuangan   untuk  mengingatkan soal  adanya  aturan  tersebut,   Sabar Gattang  mengaku bahwa sebenarnya   pihaknya tidak  perlu menyurat lagi, karena  itu semua  sudah ada dalam aturan. “Tapi, ya bisa   menjadi temuan   ketika  itu dibayarkan  saat   melakukan pemeriksaan  nanti,’’  pungkasnya. (ulo/tri)