Bonefasius Huby ( FOTO: Denny/ Cepos)

WAMENA-Sebanyak 15 bahasa ibu (bahasa daerah) di Provinsi Papua kini telah punah. Khusus di kawasan Kabupaten Jayawijaya ada 2 bahasa daerah dari kawasan Hitigima dan Distrik Wollo, dikabarkan sudah punah.

Hal ini disebabkan pengguna bahasa itu sudah meninggal semuanya dan tak ada penerus yang bisa kembali mgnggunakan bahasa tersebut.

Tokoh Adat Papua, Bonefasius Huby mengakui bahwa secara keseluruhan ada 15 bahasa daerah di Papua yang punah. Dari 15 bahasa daerah di Papua dua bahaa di antaranya dari Kabupaten Jayawijaya yang juga telah hilang.

“Termasuk di Jayawijaya yang hilang bahasa lokal yaitu satu di Hitigima dan kedua di Wollo. Kami sendiri belum melakukan penelitian karena pemilik bahasa itu sendiri otomatis sudah meninggal,” ungkapnya Sabtu (26/9) kemarin.

Menurut dia, bahasa lokal yang paling banyak hilang terdapat di Kabupaten Keerom dan jumlahnya mencapai 10 bahasa lokal. Sementara lima lainnya tersebar di Tanah Merah, Kabupaten Sarmi dan kawasan pegunungan tengah Papua.

“Sebagai tokoh dan juga pemerhati pendidikan, rasa prihatin. Maka bahasa ibu perlu didorong untuk masa depan anak-anak kami di daerah, khususnya pegunungan tengah Papua. Ini harus didorong supaya di sekolah guru-guru harus ajarkan bahasa lokal,” pintanya.

Ia mengatakan pada umumnya sekolah-sekolah di Papua hanya mengajarkan Bahasa Indonesia. Hal itu perlu diubah agar memasukan lagi bahasa daerah pada pembelajaran di sekolah, sehingga bahasa ibu ini tetap dipelihara dari generasi ke generasi.

“Kami ingin agar pemerintah menerapkan proses pembelajaran bahasa daerah, untuk mempertahankan adat dan budaya. Karena banyak bahasa daerah di Papua ini yang sudah punah,”bebernya

Bonefasius menambahkan, khusus di wilayah pegunungan belum banyak peneliti yang melakukan kajian. Terkait bahasa dan budaya masyarakat setempat untuk mengetahui lebih rinci berapa banyak bahasa yang sudah hampir punah atau bahkan sudah punah.

“Di sini (wilayah pegunungan tengah Papua) ada sedikit kevakuman dan belum banyak orang yang tertarik melakukan penelitian bahasa dan kebudayaan,” pungkasnya.

Secara terpisah Kepala Dinas Pendidikan, Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Papua, Christian Sohilait, ST., M.Si., mengungkapkan bahwa ada sebagian kaum intelektual Papua yang tidak menguasai bahasa daerah atau bahasa ibu, sehingga menjadi penonton di daerahnya sendiri.

Hal ini menurutnya menjadi keprihatinan semua pihak untuk Bagaimana membiasakan bahasa daerah atau bahasa ibu yang harus dipelajari dalam dunia literasi di setiap kabupaten kota yang ada di Papua.

Untuk itu, ia berencana terus mengutamakan bahasa ibu dalam proses belajar mengajar. Baik lewat buku maupun kurikulum sehingga generasi Papua saat ini tidak melupakan bahasa ibunya.

“Kita usahakan agar tidak terjadi kepunahan bahasa karena mereka tidak belajar. Hari ini banyak teman-teman Intelektual mereka tidak menguasai bahasa ibu, bahasa aslinya. Sehingga mereka menjadi penonton ketika dia pulang ke kampungnya ini jangan terjadi,” katanya di Jayapura, Sabtu, (26/9).

Untuk itu, diharapkan generasi Papua dapat kembali membaca dan juga menganggap penting bahasa daerah. Sehingga dapat dilestarikan dengan terus mengucapkan dan membiasakannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Karena dengan membaca kita dapat informasi dan membuka jendela dunia ini tentang ilmu pengetahuan,” katanya.

Terkait dengan pengembangan buku-buku cerita lokal, pihaknya juga akan terus mengembangkan dan akan terus didorong agar dipelajari oleh masyarakat dan peserta didik.

“Lewat otonomi khusus ini memang betul pertama itu bahasa Indonesia dan kedua bahasa Inggris. Tetapi untuk bahasa ibu agar tidak punah dan hilang, di beberapa tempat kami telah bekerja sama dengan SIL. Untuk membuat buku-buku yang berbasis bahasa ibu ada di Kiyawagi, di Biak dan. Saya mendapat informasi bahwa di Papua ada beberapa bahasa yang semakin punah, kalau tidak dihidupkam kembali,” ujarnya.

Sohilait juga meminta agar bahasa ibu yang merupakan jati diri dari identitas orang Papua harus terus menjadi kebanggaan dan dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari mulai dari lingkungan keluarga. Karena hal itu akan menjadi kebiasaan dan dipahami oleh anak-anak.

“Kami juga mengharapkan adanya peran serta orang tua untuk membiasakan menggunakan bahasa ibu, ketika ada di rumah. Hal ini dengan sendirinya anak-anak akan belajar bahasa ibunya dan terus dilestarikan,” tutupnya.(jo/oel/nat)

(jo)